Masalah, Waktu, dan Hati
Tulisan ini dibuat setelah iseng-iseng tes yang ternyata hasilnya mengindikasikan bahwa kecemasanku sedang meningkat ~
Masalah dan Waktu
Belakangan ini, aku jadi berusaha mencerna lagi kejadian setiap kejadian, khususnya ketika sedang ada permasalahan. Apa yang aku pikirkan, apa yang aku rasakan, bagaimana respon sikapku atas itu. Ternyata, kompleks juga ya. Biasanya kita tahu, bahwa besar kecilnya masalah itu relatif bagi setiap orang, karena masing masing punya kapasitas internalnya, histori pengalaman termasuk kejadian traumatis atau pola asuhan masa kecil, values yang matter bagi setiap orang dan lain sebagainya. Nah, belakangan aku juga berpikir bahwa ternyata besar kecilnya ini pun bisa terasa berbeda bagi diri sendiri, pada rentang waktu yang berbeda.
Akibat membaca beberapa tentang time, change, dan metode historis, ketika ada kejadian seringkali aku tertarik mengecek ke belakang. Ternyata, ada masalah yang pada rentang waktu tertentu memberikan pressure yang besar buatku, langsung jadi down seketika. Tapi di lain waktu, masalah yang sama itu terasa lebih ringan. Dan setelah aku merenung, ternyata ada variabel lain ya yang hubungannya dengan kapasitas 'hati' (pikiran), yang mungkin memang bisa berubah ubah dari waktu ke waktu. Bisa menyempit dan meluas. Yang ternyata menentukan juga kesiapan kita pada saat mengalami masalah.
Faktor pengaruh besar kecil kapasitasnya bisa jadi ekspektasi (expect akan terjadi atau tidak terjadi), ada masalah lain yang memakan kapasitas juga, ada hal baik yang terjadi bersamaan dan banyak hal lainnya. Pernah merasa di suatu waktu, "kok kejadian buruk ini bikin cemas banget ya, bikin sedih". "Kok tibatiba kepikiran omongan yang ini ya". Padahal dulu engga. Atau "kok hari ini berasa lebih enteng". Padahal masalah yang dihadapkan juga sama dan belum selesai.
Memperbesar kapasitas 'hati', melapangkannya
Setiap orang pasti punya caranya masing-masing. Mempersiapkan hati dan menata ekspektasi, mengingat hal baik yang bisa disyukuri hari ini, fokus pada hal lain yang matter, dan lainnya. Seringkali aku menyadari juga bahwa pada saat-saat itu, aku sedang butuh untuk 'kembali'. Karena kesiapan hati ini bukan hanya tentang upayaku tapi juga kuasa-Nya. Mencoba berhenti dulu untuk meletakkan sejenak masalah ini dari bahuku. Berpasrah sepasrah-pasrahnya pada Yang Maha Kuasa. Dan keesokan harinya, tiba-tiba hati lebih siap dan tenang, pada hal tertentu seperti dibukakan pintu untuk menuju jalan keluar. Ada juga hal lain yang rasanya seperti disiapkan untuk menerimanya.
“Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii.”
“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha ayat 25-28).
Dari renungan ini, juga jadi berpikir bahwa kita betul-betul tidak bisa mengukur besar kecilnya masalah bagi orang lain. Karena bisa jadi, meski kita rasa hal itu sanggup dihadapinya, kita tidak pernah tahu kondisi dan kesiapan hatinya saat dihadapkan suatu kejadian pada waktu tertentu.













