Jokowi, Ellyas Pical, dan Ken Arok Ditemukan Sedang Minum Granita Bareng Emon di Kediamannya di Tasikmalaya
Familiar sama judul berita heboh macem di atas? Udah muak?
Saya dan internet memiliki hubungan yang cukup baik. Saya memiliki blog, akun-akun media sosial, dan berbagai situs favorit yang saya kunjungi secara berkala dengan fungsi bermacam-macam. Internet, menurut saya, adalah apa yang digambarkan oleh para nenek moyang sebagai âmasa depanâ. Jarak yang sudah tidak berarti, kecepatan berkomunikasi yang satuan hitungannya adalah mili detik, informasi yang selalu berkembang tak terbatas, seperti nebula Andromeda dan semua galaksi nun jauh di sana.
Saya bisa mengetahui perkembangan kasus Gottfrid di Swedia sana berkat internet.
Saya bisa mendengarkan piece-nya Duke Ellington saat berkolaborasi dengan Billy Strayhorn, yang direkam tahun 1957, berkat internet.
Saya bisa menonton film eksperimennya Salvador Dali berkat internet.
Saya bisa berbalas surat elektronik dengan Mark Dillington, salah satu adminnya Project Gutenberg, mengenai âbagaimana memulai gerakan dijitalisasi bukuâ berkat internet.
Saya bisa memiliki dosen satu sesi mata kuliah bernama Dan Ariely, yang mengajarkan saya Behavioral Economics, berkat internet.
Saya dan semua definisi kebebasan yang dimiliki oleh internet. Kami baik baik saja, kami akur akur saja.
Sampai datanglah masa kampanye politik menjelang pemilihan legislatif dan presiden di Indonesia.
Sejak masa kampanye, saya baru merasakan apa yang saya ingin sekali sebut sebagai âpolusi informasiâ. Informasi yang datang silih berganti, tumpang tindih satu sama lain, semuanya datang berlarut-larut. Ditulis oleh para wartawan media online yang kasak kusuk mencari berita dari sabang sampai merauke dari malam hingga malam lagi. Apa saja dimasukkan. Dari sudut pandang ini itu direportasekan dengan mementingakn kecepatan informasi. Karena ketahuilah, di situs warta berita online itu ada yang namanya traffic, urat nadi dari media tersebut. Traffic bagi mereka adalah yang penting dari yang terpenting.
Informasi yang saling tubruk, beringsut di pojokan, luntang lantung memantul-mantul di setiap kesempatan membuat pemahaman masyarakat awam sebagai penerima kabar dikacaukan oleh pemberitaan online yang kadang seenak udel melempar informasi. Karena mementingkan kecepatan, klarifikasi jadi nomor sekian. Padahal itu yang terpenting.
Bahkan parahnya, media sosial yang populis menjadi salah satu sumber traffic situs berita online dengan fitur sharing yang sudah umum digunakan. Update berita di portal berita online yang dianggap menarik untuk dibaca bisa secara sporadis di-share ke seantero pojok media sosial, dengan asumsi bahwa yang disebarkan itu fakta, tapi dengan tindakan yang tidak verifikatif sama sekali.
Ohiya, one more fact, tulisan di media online itu anonim, tidak harus mencantumkan nama jelas seperti di media cetak atau televisi. Saya tau ini dari jurnalis Media Indonesia. Implikasinya tentu bisa apa saja.
A Well Informed Electorate
Di salah satu dialog di serial The Newsroom, Sorkin berbicara lewat tokoh utamanya, Will McAvoy, bahwa:
âthere is nothing more important in democracy than well informed electorateâ
Saya anggap ini adalah sebuah kemutlakan. Tidak ada hal yang lebih penting di pemerintahan demokrasi daripada warga yang mengetahui dan memahami informasi dengan baik. Demokrasi akan terus berjalan jika pemberitaan kepada seluruh aspek negara tidak diintervensi oleh kepentingan penguasa. Ingat, presiden Nixon jatuh karena Walter Cronkite, seorang anchor CBS yang melakukan in-depth-reporting bersama tim beritanya dan menguak masalah Watergate.
Tapi jika berita itu sendiri, yang seharusnya sebagai beacon light of the truth of humanity, telah tercemari oleh gosip dan berita murahan. Apalagi dengan berkembangnya media online yang sama sekali tidak menerapkan the sacred double verification method of journalism yang menjadi tonggak kemajuan jurnalisme dunia, maka bisa saya simpukan bahwa:
âthere is nothing more important in internet than source verification, information funneling, or else shut upâ
note: saya tidak menjustifikasi semua media online melakukan hal demikian. tapi dari beberapa sumber yang terpercaya, saya mendapat keterangan bahwa ada pihak tertentu yang melakukan hal tersebut. mari kita sama sama berdoa agar dunia jurnalistik indonesia bisa mencapai kemerdekaan sepenuhnya: kemerdekaan dari kontrol pihak manapun dan kemerdekaan dari bitchiness, gosip, dan kebohongan yang mengatasnamakan informasi.