Kehilangan orang terkasih membuat saya sadar bahwa cinta kepada makhluk harus karena Allah dan disandarkan kepada Allah.
Allah menciptakan kita sebagai makhluk sosial, makhluk yang perlu bantuan orang lain agar kebutuhannya terpenuhi.
Kita butuh berinteraksi dengan orang lain, dan interaksi yang intens dan berkualitas biasanya akan melahirkan rasa saling kasih dan cinta, baik kepada orang tua, pasangan, kerabat, dan teman. Artinya rasa kasih dan sayang itu tidak pungkiri pasti hadir dalam kehidupan kita, tidak bisa kita hindari.
Apa konsekuensi dari pertemuan dengan orang-orang yang kita sayangi? Kelak kita akan berpisah dan ditinggalkan. Ditinggalkan oleh orang terkasih itu menyakitkan dan menyedihkan.
Bahkan ketika ketergantungan kita terhadapnya begitu kuat, dampaknya bisa fatal, kita tidak lagi memiliki semangat hidup, seolah-olah tidak ada lagi artinya hidup di dunia ini. Rasanya hampa dan hambar.
Oleh karena itu, di sinilah pentingnya menyandarkan hati kita kepada Allah ketika mencintai seseorang. Agar ketika ia pergi meninggalkan kita, kita bisa melihat kepergiannya dari sudut pandang yang berbeda.
Bukan berarti tidak bersedih, tapi sedihnya sesuai takaran, masih bisa bangkit dan melanjutkan hidup, karena Allah-lah yang menjadi tujuan hidup kita, hanya kepada Allah kita bergantung, kita yakin perpisahan di dunia bukan akhir dari segalanya, kita yakin kita masih bisa melakukan banyak kebaikan untuknya di dunia, kelak Allah bisa pertemukan kita kembali di Surga-Nya.
Itulah fondasi terkuat ketika jatuh cinta, ketika fondasinya adalah cinta kepada Allah, bukan karena makhluk, fondasi yang begitu rapuh.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Menebar manfaat tidak harus menunggu untuk terkenal dan dikenal dulu.
Kita berada di era media sosial, tidak sedikit orang mempublikasikan kegiatan hariannya, bagaimana ia berkontribusi dan menebar manfaat baik di ruang paling sederhana hingga panggung yang lebih luas, mengagumkan dan mungkin terkadang membuat iri?
Ya, mereka begitu beruntung, bermanfaat untuk banyak orang, influencer dalam kebaikan, content creator untuk hal-hal yang bermanfaat, membangun program pendidikan gratis, kalau skala kecil, mereka memperlihatkan bagaimana menjadi orang tua yang hadir sepenuhnya untuk anaknya, bagaimana ia mengukir prestasi dan membanggakan orang tuanya, dan masih banyak lagi cerita-cerita yang tidak jarang membuat hati berbisik, "Kalau aku bisa apa?".
Padahal jika kita sejenak menepi dan memerhatikan sekitar, kita akan menyadari bahwa menebar manfaat tidak harus menunggu dikenal, dipuji, dan terkenal. Banyak peran besar yang tidak muncul di permukaan. Banyak kontribusi yang sangat riuh tapi tidak beriak.
Ada ibu yang tak pernah mempublikasikan betapa padat dan sesaknya aktivitas di rumah. Namun tak diragukan lagi, betapa penting dan besarnya peran yang ia pegang.
Ada pekerja yang totalitas dan berkontribusi di tempat kerjanya tanpa pernah merasa perlu mengabarkannya kepada dunia.
Ada guru dan dosen yang mendidik serta menginspirasi muridnya dengan tulus dan penuh makna, tanpa dokumentasi, tanpa sorotan.
Ada banyak orang baik yang memberi dan menolong tanpa perlu validasi dan atensi.
Pada akhirnya, bagi orang beriman, sama saja antara dikenal atau tidak dikenal karena yang mereka kejar dan harapkan adalah pahala dari Allah semata. Bisa jadi, ketika ia dikenal dan terkenal justru menjadi ujian keikhlasan baginya.
Banyak bagian pohon yang memberi manfaat. Beberapa orang memilih menjadi akar, tidak nampak di permukaan tapi tidak kehilangan peran dan makna.
Seseorang yang telah lama tenggelam dalam kemaksiatannya kemudian Allah berikan taufik untuk keluar dari kubangan itu, merasakan manisnya hidayah, biasa kita istilahkan dengan hijrah, maka di awal hijrahnya ia bertekad kuat untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan, semangatnya menggebu-gebu, mulai menuntut ilmu syar’i, mencari tau syariat yang selama ini ia abaikan, berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkannya. Pikirnya tekad dan semangat itu akan bertahan hingga akhir hayatnya, lancar tanpa hambatan.
Namun, ternyata seiring berjalannya waktu cahaya itu mulai redup, ternyata tidak semudah yang dipikirkan, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, ujian keistiqamahan mulai diuji, ia mulai bosan dengan rutinitas yang ada, performanya sudah tidak seperti ketika di awal ia berhijrah. Belum lagi ujian berupa lingkungan yang belum kondusif seolah memanggilnya untuk kembali ke kubangan yang sudah lama ia tinggalkan.
Apa yang paling ditakutkan di akhir cerita hidupnya? Ketika hati telah mati rasa, mati rasa yang jauh lebih parah sebelum ia berhijrah, mati rasa ketika ia sudah tau ilmunya, ia sudah tidak bisa peka terhadap maksiat, menganggapnya biasa saja, bahkan berusaha mencari alibi pribadi untuk menghalalkan apa yang Allah haramkan, na’udzubillah.
Sebenarnya, wajar kalau merasa bosan, wajar jika kembali mempertanyakan banyak hal, wajar jika semangat tidak selalu berada di puncaknya, iman memang naik dan turun, lelah dalam menjaga konsistensi adalah bagian dari perjalanan panjang ini, tapi pasrah dengan kondisi itu bukanlah solusi.
Mari sejenak menepi, bermuhasabah, introspeksi diri, kembali merenungkan nikmat yang Allah berikan dan membandingkannya dengan kualitas kita sebagai hamba, merenungkan betapa baiknya Allah yang menarik kita dari kubangan maksiat, memilih kita untuk merasakan manisnya hidayah padahal kita hanyalah hamba yang papa, tidak punya hal yang bisa dibanggakan di hadapan-Nya.
Dokumen "Serial Doa Nabi yang Mencakup Beberapa Perkara" ini berisi 10 doa dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diambil dari laman media sosial مجلس الذكر
Sebuah klub daring yang bergerak di bidang literasi untuk semua lini usia, namun pembahasannya lebih ditekankan untuk anak-anak, diprakarsai oleh owner salah satu penerbit buku indi. Selalu saja ada hal menarik yang dibahas di grup itu. Suatu hari ibu owner -biasanya kami memanggil beliau dengan ibu, mbak, atau ustazah- melemparkan artikel yang berjudul Why Writing by Hands Beats Typing for Thinking and Learning yang akan dijadikan bahan diskusi. Tulisan ini bukan untuk membahas lebih jauh tentang artikel itu, melainkan faedah berharga yang terselip pada sesi diskusi tentang artikel itu.
Berdasarkan artikel dan pengalaman beliau sebagai seorang ibu, penulis, dan editor buku, beliau berkomentar “Anak-anak zaman sekarang terbiasa dengan segala sesuatu yang digital sehingga tetap perlu dibiasakan untuk melakukan sebagian/beberapa aktivitas secara manual dengan tangan, seperti menyalin tulisan, menulis to do list di buku agenda, memberi highlight ketika membaca buku, dan menulis anotasi atau rangkuman ketika membaca buku bacaan atau buku sekolah.”
Beliau menambahkan manfaat lain dari aktivitas manual yang tanpa gawai, yaitu selain membantu fungsi otak, anak-anak tidak akan ketergantungan dengan teknologi, mereka masih tetap bisa beraktivitas dan tidak mati kutu ketika suatu waktu teknologi tidak bisa diakses, misal karena listrik padam, baterai habis, dll. Ibu pimpinan memberikan contoh konkrit dengan mengirimkan foto buku bacaan beliau sendiri yang sudah diberi highlight, anotasi, dan rangkuman, juga hasil menulis anotasi anaknya yang masih remaja. Diskusi ini sebenarnya masih lumayan panjang dan seru, namun cukup sampai di sini, kita sudah memetik pelajaran yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan.
Jika ditelisik lebih dalam, sebenarnya ini bukan hanya tentang anak yang tidak mati gaya ketika gawai tidak ada, tapi ini sebenarnya melatih mental agar ia tetap bertahan untuk produktif bagaimana pun kondisinya, tidak terdistraksi dengan kondisi yang ada, juga mengajarkan sisi lain dari kehidupan yang tidak selalu nyaman dan serba mudah, sehingga anak punya rasa empati dan juga tidak kaget jika sewaktu-waktu dihadapkan dengan kondisi yang tidak kondusif.
Di antara pelajaran yang bisa dipetik adalah secanggih apapun teknologi di zaman sekarang, ada beberapa sisi yang tidak bisa tergantikan dengan aktivitas manual. Teringat perkataan salah guru kami -hafizhahullah- yang tetap menyarankan muridnya untuk bermajelis ilmu secara offline meski sekarang sudah berjamur majelis online. Manfaatnya banyak, kita bisa bertemu dengan orang shalih/ah yang sama-sama ingin menjadi lebih baik, menunjukkan kita butuh dengan ilmu dan tawadhu’ di hadapan ilmu, effort dan perjuangannya juga jauh berbeda, mendatangi majelis offline tentu effort-nya jauh lebih besar dibandingkan majelis online, bukan berarti majelis online tidak diperbolehkan, ia tetap menjadi opsi jika tidak bisa hadir di majelis offline, namun kita juga harus mengutamakan majelis offline karena ia tidak bisa tergantikan dengan dengan majelis online.
Sama halnya aktivitas manual, seringkali itu jauh lebih ribet dibanding dengan teknologi, lagi-lagi kita diajarkan untuk berproses, tidak instan, namun bukan berarti kita dilarang untuk menggunakan teknologi dan gawai yang diciptakan untuk kemudahan, namun hendaknya juga kita memberikan porsi untuk aktivitas “manual” yang juga memiliki manfaat yang banyak. Selain itu, sebagai umat muslim, kita juga berpegang pada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian.” (HR At Tirmidzi no. 2396, Ibnu Majah no 4031)
Mayoritas aktivitas “manual” ujiannya lebih besar dibanding aktivitas “digital”, sehingga semoga kita mendapatkan isi hadits ini ketika sedang beraktivitas “manual”, pahala berlimpah.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Rasa yang senantiasa harus selalu kita ekspresikan adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat yang tidak pernah henti-hentinya dicurahkan kepada kita, manusia yang banyak lalai dan kurangnya. Maka, tidak heran nasihat untuk selalu bersyukur tidak pernah absen di awal banyak majelis atau pertemuan. Harapannya itu bukan hanya sekadar templat, bukan hanya formalitas, namun benar-benar untuk saling menasihati agar rasa syukur tak pernah luput dari pikiran juga hati.
Ada sesuatu yang harus kita sandingkan dengan rasa syukur, yaitu beristighfar, memohon ampun kepada Allah dan berharap agar Allah tidak mengazab karena sebab dosa dan kesalahan kita. Istighfar untuk apa? Istighfar atas ketidakmampuan kita menghitung nikmat Allah, jika menghitung saja tidak mampu, maka bagaimana lagi kita mampu untuk mensyukurinya? Hal ini berdasarkan firman Allah,
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا
“Dan jika kamu ingin menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS An Nahl: 18)
Banyak hal-hal kecil atau mungkin yang lebih tepatnya adalah hal-hal yang kita anggap kecil yang sebenarnya itu adalah kenikmatan, namun sering kita sepelekan, mungkin karena sudah terlampau sering kita mendapatkannya sehingga seolah-olah itu sudah tidak bernilai lagi dan akhirnya nikmat itu dipandang sebelah mata.
Contohnya?
Kesempatan untuk menghirup udara segar di pagi hari
Kesempatan untuk memperbaiki hidup menjadi jauh lebih baik lagi
Jantung yang masih berdetak tanpa harus diperintah
Netra yang masih mampu melihat
Telinga yang masih bisa mendengar
Kaki yang masih mampu menapaki jalan
Hidayah berislam dan beriman yang lebih mahal dari dunia dan isinya
Dan masih banyak lagi
Jika kenikmatan kecil saja, jiwa tidak mampu mensyukuri, maka bagaimana lagi jika Allah anugerahkan kenikmatan yang besar? PR syukur masih banyak. Jangan sampai, kita baru menyadari bahwa hal-hal kecil itu adalah kenikmatan, setelah Allah mencabutnya. Maka jagalah nikmat yang ada sekarang dengan mensyukurinya. Jangan terlalu fokus dengan hal yang belum kita dapatkan hingga membuat kita lupa dengan apa yang sudah kita dapatkan.
Kenapa tidak fokus bersyukur saja? Lalu tanpa kita sadari kenikmatan lain segera hadir,
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…”
Nasihat dari seorang guru, jika kesedihan yang sangat hinggap padamu, cobalah menepi sejenak, merenungkan, mengingat kembali, lalu menulis satu per satu nikmat-nikmat Allah, niscaya kesedihan itu akan sirna tergantikan dengan kebahagiaan, tergantikan dengan keyakinan bahwa Allah selalu ada untuk menyayangimu.
Ada materi yang sangat berkesan yang disampaikan guru kami hafizhahullah ketika di Ma’had dulu, materi yang tidak pernah luput beliau bawakan ketika di pertemuan perdana sebuah mejelis yang diampunya, apa pun tema yang dibahas, baik itu Fiqih, Tauhid, Aqidah, materi ini tidak pernah absen beliau sampaikan.
Materinya adalah tentang tiga kaidah istiqamah dalam kebaikan, materi yang sangat penting karena akan memantik semangat kita untuk konsisten dalam melakukan kebaikan khususnya kebaikan yang sedang dijalani sekarang, hadir di majelis ilmu.
Tiga kaidah itu terangkum dalam kalimat lillah, fillah, dan billah.
Kaidah pertama adalah lillah, adalah ikhlas karena Allah, inti keikhlasan adalah mencari ridha Allah, pahala-Nya, surga-Nya, takut akan siksa-Nya, dan serta ingin dicinai oleh-Nya. Pada kaidah ini, beliau selalu menekankan konsep “multi niat, multi pahala”, beliau memberi contoh. “Kalian di sini mengikut kajian yang sama, dengan kitab yang sama, durasi yang sama, guru yang sama, tapi pahala yang didapatkan setiap orang bisa jadi berbeda-beda, bisa jadi gapnya antara orang satu dengan yang lainnya, seperti antara langit dan bumi. Apa yang membedakan? Niat.” Semakin banyak niat baik seseorang dalam melakukan kebaikan, maka pahalnya akan semakin banyak, contohnya orang pertama berniat datang ke kajian: berusaha ikhlas karena Allah, mencari ridha Allah, dan memenuhi kewajibannya sebagai santri, ya hanya itu, sedangkan orang kedua berniat datang ke kajian: berusaha Ikhlas karena Allah, mencari ridha Allah, memenuhi kewajiban sebagai santri, mengisi waktu luang untuk hal yang bermanfaat, untuk menambah keimanan dan ketakwaannya, berniat akan mengamalkannya dan mendakwahkannya, agar dosa-dosanya berguguran, agar hatinya menjadi tenang, dll.
Kaidah kedua adalah fillah, mengikuti ajaran Rasulullah, beliau menekankan adab dalam menuntut ilmu, jika ingin berhasil menuntut ilmu maka kita harus mengikuti Rasulullah, di antara adab menuntut ilmu adalah menyimak dengan seksama, mengikat ilmu dengan tulisan, berpakaian yang bagus dan rapi saat menghadiri majelis ilmu dalam rangka memuliakan. Semoga dengan kita menerapkan ajaran Rasulullah, kita akan mendapat keberkahan ilmu dan diberi taufik oleh Allah bisa mengamalkannya.
Kaidah ketiga adalah billah, senantiasa memohon pertolongan Allah dalam melakukan kebaikan, yang kita andalkan aga istiqamah melakukan kebaikan khususnya menuntut ilmu adalah Sang Khalik, Allah subhanaahu wa ta’ala, yang Mahakuat, bukan diri kita, kekuatan kita, kecerdasan kita, kecerdasan guru kita, pengalaman kita, buku atau kitab, dan hal-hal lain yang itu semua adalah makhluk yang lemah. Kita harus merenungi kalimat laa hawlaa wa laa quwwata illaa billah, “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” Mengedipkan mata saja kita tidak mampu kecuali Allah yang menolong, maka mana mungkin kita bertumpu pada diri sendiri untuk hal-hal yang jauh lebih pelik?
Itulah tiga kaidah istiqamah yang selalu beliau ditekankan di awal majelis beliau, bahkan di pertemuan-pertemuan berikutnya, beliau juga selalu mengulangnya secara ringkas, mungkin harapannya agar kaidah itu bisa terpatri betul dalam sanubari, semoga Allah senantiasa menjaganya.
Jenis interaksi seorang muslim dalam sehari-hari ada dua, yaitu hablumminallah (interaksi dengan Allah) dan hablumminannas (interaksi dengan manusia). Bahasa yang digunakan ketika berinteraksi dengan manusia itu berbeda-beda, tergantung budaya dan tempat tinggal seseorang, kita sebut dengan bahasa ibu [1], seperti bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Bahasa yang digunakan ketika berinteraksi dengan Allah adalah bahasa Arab, interaksi dengan Allah bisa berupa shalat, doa, atau zikir.
Sejak kecil bahkan sejak lahir, secara otomatis kita terpapar dengan bahasa ibu melalui orang tua dan lingkungan, sehingga saat dewasa kita sudah paham dan bisa mempraktikkan bahasa ibu tanpa perlu meluangkan waktu khusus untuk belajar.
Bagaimana dengan bahasa Arab? Sebagai penduduk Indonesia yang bahasa ibunya dan bahasa keduanya bukanlah bahasa Arab tentu harus meluangkan waktu khusus untuk mempelajarinya agar bisa berinteraksi dengan Allah secara maksimal dan berkualitas.
Jangan sampai kita hanya mahir membaca dan menghafal, tanpa tau dan tidak ingin tau makna indah di balik lafal-lafal tersebut. Bahasa Arab adalah bahasa penghambaan kita kepada Allah, yang di mana tujuan kita diciptakan adalah untuk menjadi hamba Allah dan beribadah hanya kepada-Nya. Tidakkah ada keinginan untuk belajar bahasa Arab, mengetahui betapa mulianya bahasa tersebut sehingga Allah memilihnya sebagai bahasa Al-Qur’an? Tidakkah muncul rasa ingin tahu tentang makna Al-Qur’an yang merupakan petunjuk hidup kita? Tidakkah muncul rasa penasaran tentang makna ucapan kita ketika takbir, ketika sujud, ketika bermunajat kepada Allah?
Orang yang tau makna di balik bacaan shalatnya, lafal doanya, dan zikir yang ia baca akan memiliki kualitas yang yang lebih baik ketika ia berinteraksi dengan Rabb-nya -biidznillah-. Itulah ikhtiarnya untuk menggapai hati yang khyusuk.
Jika kita renungkan, belajar bahasa Arab adalah kebutuhan kita sebagai hamba, agar kita bisa membenahi interaksi kita dengan Allah, untuk memperbaiki kualitas penghambaan kita kepada Allah ketika shalat, zikir, dan membaca Al-Qur'an. Jangan sampai kita hanya fokus membenahi interaksi kita dengan manusia dan mengabaikan kualitas interaksi kita dengan Allah.
تعلموا العربية فإنها من دينكم
“Pelajarilah bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.” (Iqtidha’ shiratal mustaqim 527-528 jilid I, tahqiq Syaikh Nashir Abdul karim Al–‘Aql) [2]
Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita untuk semangat belajar bahasa Arab dengan niat yang benar.
_____
Catatan Kaki
[1] Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya (KBBI Daring)
[2] https://muslim.or.id/
Menunggu dan menanti, aktivitas yang dianggap oleh sebagian orang membosankan, membuat jenuh, menjengkelkan, bahkan sampai pada tahap menjadi sumber kecemasan dan gangguan piskologis, tergantung tingkat kesulitannya dalam menunggu.
Pengalaman hidup menjadikan kita sangat familiar dengan kata “menunggu”, jika direnungkan hari-hari tidak pernah sepi dari “menunggu”, mulai dari hal kecil, seperti menunggu makanan matang, menunggu giliran antrian, menunggu lampu lampu lintas berwarna hijau, sampai ke hal dianggap besar, menunggu berita penting, seperti menunggu keputusan diterima di suatu perusahaan, menunggu hasil uji laborarotium tentang penyakit serius, menunggu jodoh, bahkan menunggu kematian.
Menunggu adalah membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan banyak hal sampai momen atau pihak yang membuatnya menunggu itu datang dan terjadi.
Mengapa menunggu identik dengan membosankan? Karena apa yang diekspektasikan tidak terjadi, ditambah lagi tidak adanya persiapan menghadapi realita tersebut. Tidak punya persiapan maka tidak ada hal yang bisa dilakukan, tentu ini membosankan, lebih parahnya waktu terbuang sia-sia.
Contoh, ketika kita janji bertemu dengan seseorang pukul 10.00, tapi ternyata dia tidak datang tepat waktu dan kita tidak berekspektasi bahwa dia akan terlambat, akhirnya kita menunggu tanpa mengerjakan banyak hal, merenung, membosankan dan tentunya menyia-nyiakan waktu.
Mengapa menunggu membuat orang sampai pada tahap cemas dan stres? Biasanya hal ini terjadi ketika menunggu berita-berita penting, menaruh harapan yang terlalu tinggi, sehingga muncul overthinking, khawatir realita tidak sesuai dengan ekspektasi, terlalu banyak berpikir tentang ke depannya seperti apa dan akhirnya berusaha membuat skenario sendiri.
Mari melihat momen menunggu dari persepsi yang indah dan menyenangkan, ia bisa menjadi ajang meningkatkan value diri. Kita bisa memutarbalikkan keadaan dan menyelisihi stereotipe tentang menunggu.
Hendaklah kita meyakini bahwa tujuan hidup seorang muslim adalah beribadah kepada Allah, maka hendaknya aktivitas menunggu dijadikan ladang memanen pahala. Hendaknya kita meyakini bahwa hidup kita hanya perpindahan dari aktivitas yang bernilai ibadah ke aktivitas yang bernilai ibadah lainnya. Menghabiskan waktu dengan sia-sia bukanlah karakter seorang muslim.
Bentuk pengamalan dari keyakinan tersebut adalah mengalihkan perhatian dari menunggu yang belum pasti ke hal-hal yang bermanfaat. Banyak hal yang bisa dilakukan selagi menunggu, seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an, membaca buku yang bermanfaat, menyelesaikan target harian, dll. Jika perlu, kita punya daftar kegiatan yang bisa kita lakukan saat momen penantian itu hadir sehingga bosan dan jenuh tidak lagi menghinggapi.
Ketika kita fokus untuk melakukan hal yang bermanfaat selagi penantian, kita tidak lagi memikirkan hal yang di luar ranah dan kehendak kita, yaitu memikirkan hasil dari penantiannya seperti apa. Wajar jika cemas dan stres menghinggapi khususnya untuk penantian momen penting, sebab kita “berani mengambil” peran Allah, bukankah keyakinan kita tentang takdir adalah “manusia berencana dan Allah yang menentukan”?
Selain itu, manfaat dari “menikmati” momen menunggu adalah kita bisa mengasah skill sabar yang di zaman sekarang menjadi skill yang beharga dimiliki oleh seseorang, makanya tidak jarang istilah “kesabaranmu setipis tisu dibagi 7” itu dilontarkan satu sama lain baik di dunia maya maupun nyata.
Dengan meyakini dan mengamalkan hal tersebut, menunggu bukanlah isu, ok dia atau momen itu terlambat datang, aku belum bisa melakukan aktivitas yang sudah kurencanakan, tidak mengapa, aku bisa menggantinya dengan aktivitas bermanfaat yang lain.
Hidup kita berprinsip, kita tidak terdistraksi dengan kondisi yang kurang kondusif dan bisa mengambil hikmah dari setiap momen menunggu yang sering dijumpai.
“Bola” ada di tangan kita, apakah ingin memandang “momen penantian” sebagai hal yang membosankan bahkan suatu musibah, atau ingin memandangnya sebagai nikmat yang bisa kita syukuri.
Referensi :
Cambridge Dictionary
Sweeny, Kate (2012). Waiting Well: Tips for Navigating Painful Uncertainty.
Anak-anak yang tetap menyempatkan shalat lail meski lelah beraktivitas seharian.
Anak-anak yang tetap menepati janjinya untuk bangun sebelum adzan subuh dikumandangkan setelah begadang semalaman.
Anak-anak yang mudah dibangunkan untuk shalat subuh, seketika tersentak, bahkan ikut membangunkan saudaranya.
Anak-anak yang berbaris di depan toilet, antri mengambil air wudhu, sambil memperlihatkan air muka yang masih menahan kantuk.
Anak-anak yang berusaha menjaga dzikir pagi dan petang di tengah kesibukan yang padat merayap.
Anak-anak yang tetap menunaikan shalat berjemaah di masjid meski keadaan tidak kondusif.
Anak-anak yang bersyukur dengan hidangan yang ada, bahkan berbagi dengan saudaranya.
Anak-anak yang menjadi teladan di lingkungannya dalam menerapkan adab berinteraksi dengan lawan jenis.
Wallahi, pemandangan yang sangat indah, pemandangan yang tidak bisa ditukar dengan harta, pemandangan yang menyejukkan hati dan mata.
Bagi seorang mukmin, pemandangan terindah dan paling menyejukkan mata bukanlah saat memandang alam semesta, namun ketika melihat orang-orang terdekat dan sekitarnya sedang melakukan ketaatan kepada Allah.
(Inspirasi: Tafsir Al-Baghawi (3/459))
Lingkungan yang mengingatkan kita kepada Allah, lingkungan yang membuat kita semakin dekat kepada Allah adalah rezeki yang tidak bisa dibayar dengan harta, bukan karena ia tak bernilai, tapi karena tak ternilai.
رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
(QS As-Shaffat: 100)
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Semakin dewasa, kita akan mengerti bahwa mengamalkan ilmu dalam kehidupan tidak sesederhana itu.
Tidak sesederhana ketika kita diminta untuk membedakan mana hitam dan putih.
Sering kali kita dihadapkan dengan hal yang abu-abu, hitam yang bercampur dengan putih, putih yang bercampur dengan hitam.
Seni melihat, itu kunci agar tepat dalam bertindak. Bukan melihat dari satu atau dua sisi, tapi segala sisi, semaksimal kita.
Skill seni melihat itu tidak didapatkan dengan instan, namun butuh proses yang panjang, butuh pertolongan Allah yang utama, ilmu, pengalaman, nasihat, dan butuh mendengar persepsi pihak lain.
"Orang yang berilmu bukanlah orang yang sekadar mengetahui mana kebaikan dan mana keburukan, namun orang yang berilmu adalah orang yang ketika dihadapkan dengan dua kebaikan, ia tau mana kebaikan yang jauh lebih besar dan jika dihadapkan dengan dua keburukan, ia tau mana keburukan yang jauh lebih besar."
(Majmu' Fataawa Ibn Taimiyyah 20/48)
Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri, sabar tidaklah mudah, memperjuangkan untuk sabar itu tidak mudah. Sungguh benar, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
... والصَّبْرُ ضِيَاءٌ ...
“Sabar adalah sinar yang terik.” (HR. Muslim no. 223)
Ketika bersabar, rasanya seperti tersengat sinar matahari yang terik. Hal yang bisa membuat kita untuk tetap kuat dan sabar untuk memperjuangkan sabar -bahkan sabar pun membutuhkan sabar- setelah memohon pertolongan Allah, juga kita bisa mengingat dan merenungi firman Allah dan hadits Rasulullah tentang keutamaan, kemuliaan, keuntungan, benefit yang didapatkan oleh orang-orang yang bersabar, di antaranya adalah:
Pertama, Allah bersama dengan orang yang bersabar.
“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqarah (2): 153)
Jika kita bisa merasa tenang ketika orang yang kita sayangi ada di samping kita, maka bagaimana lagi kalau Allah yang sangat sayang dengan hamba-Nya? Rabb pemilik semesta alam ini bersama kita dengan kebersamaan yang khusus dan spesial?
Dalam kitab tafsir As Sa’di, disebutkan bahwa Allah bersama dengan orang yang sabar adalah dengan memberikan pertolongan, bimbingan, dan arahan-Nya, hingga kesulitan dan kemalangan itu terasa ringan, segala hal yang besar terasa mudah, dan segala kesusahan yang dia rasakan akan lenyap. Sekiranya orang-orang yang bersabar itu tidak memiliki keutamaan kecuali mereka memperoleh kebersamaan dari Allah, niscaya cukuplah bagi mereka hal itu sebagai keutamaan dan kemuliaan.
Kedua, mendapatkan kebaikan yang sejati
Orang yang tertimpa musibah lalu ia bersabar, maka ia telah mendapatkan kebaikan yang sejati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu). (Sumber: https://muslim.or.id/7198-memahami-syukur.html)
Ternyata orang mukmin itu spesial, setiap kondisi kita itu selalu baik, bahkan ketika ditimpa musibah, namun dengan syarat kita harus berabar. Namun, seringkali tidak merenungi hadits ini, sehingga dada kita sesak, padahal kalau kita berjuang untuk sabar maka kita sedang berada di kondisi baik, sebagaimana jika kita mendapat nikmat lalu bersyukur.
Ketiga, pahala tanpa batas bagi orang-orang yang bersabar
… Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.” (QS az-Zumar (39): 10)
Bagaimana jika kita tau bahwa ternyata Allah tidak pernah menyia-nyiakan sedikit pun perjuangan kita untuk bersabar? Dan balasannya bukan main, pahala tanpa batas. Bukankah ini yang kita cari dalam hidup? Pahala yang akan mengundang keridhaan dan kasih sayang Allah? Ketika kita mengetahuinya, insyaa Allah kita akan lebih berjuang dengan keras agar bisa bersabar.
Dan yang menjadi puncak perjuangan kita untuk bersabar, semoga perjuangan kita untuk bersabar itu happy ending, semoga perjuangan kita untuk bersabar dalam mentauhidkan Allah, bersabar dalam mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan Allah itu berakhir di tempat terindah yang pernah ada, ketika malaikat berkata,
(Malaikat berkata,) “Salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu) karena kesabaranmu.” (Itulah) sebaik-baiknya tempat kesudahan (surga). (Ar Rad (13): 24)
Maka itulah diantara keutamaan, kemuliaan, keindahan yang didapatkan oleh orang-orang yang bersabar. Semoga Allah beri taufik untuk bisa mengamalkannya.
Semburat mentari yang menyapa di atas horizon timur
Lembayung senja yang bersanding dengan kicauan burung
Lansekap pantai ditemani desiran ombak yang menenangkan
Kata beliau hafizhahullah, ketika melihat alam yang indah, coba ucapkan kalimat ini, "Ya Allah, ciptaanmu sungguh indah, dan selalu indah, demikian pula takdir yang sering kali berseberangan dengan keinginanku, sebenarnya pasti indah, pasti yang terbaik."
Ilmu bukanlah tujuan, namun ilmu adalah perantara untuk mencapai tujuan yang lebih agung, yaitu takut kepada Allah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala.
“Sesungguhnya, yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu)” (QS Fathir: 28)
Orang yang berilmu adalah orang yang pengecut, ia pengecut di hadapan dosa dan maksiat, ilmunya membuat ia takut bermaksiat kepada Allah. Ketika kemegahan dan perhiasan dunia yang ia dambakan ditawarkan padanya, namun ia tau bahwa harganya sangat mahal, ia harus bermaksiat kepada Allah, maka ilmunya membuat ia berani berkata “Saya tidak bisa melakukan ini, saya takut kepada Allah, Allah tidak meridhainya.”
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata “Orang yang berilmu adalah orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sekalipun dia tidak melihat-Nya, menyukai apa yang disukai-Nya, menjauhi apa yang dimurkai-Nya.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata “Orang yang berlimu bukanlah orang yang sekadar banyak menghafal hadits, namun orang yang berilmu adalah orang yang banyak takutnya kepada Allah.”
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kata sabar bukanlah kata asing di benak kita, seringkali kita mendengarnya, baik ketika percakapan sehari-hari, membaca Al-Qur’an, membaca hadits, ketika dinasihati, dan kondisi lainnya.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan dalam kitabnya Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah, menyebutkan bahwa “Sabar secara bahasa adalah menahan, yaitu menahan hati dari keluh kesah, menahan lisan dari mengaduh/mengeluh, kecewa/marah, menahan anggota badan dari menampar pipi dan merobek baju.” Hati, lisan, dan anggota badan kita harus ditahan dari melakukan hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah.
Allah subhaanahu wa ta’ala, Rabb kita, telah mewajibkan sabar atas hamba-Nya dalam banyak firman-Nya, di antaranya,
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (QS Ali Imran (3): 200).
Syaikh As Sa’di rahimahullah dalam tafsinya menjelaskan bahwa kesabaran ada tiga macam, yaitu,
Pertama, sabar dalam ketaatan kepada Allah hingga ia mampu menunaikannya, contohnya sabar untuk shalat tepat waktu, sabar menahan kantuk ketika bangun shalat malam atau kajian, sabar menahan lapar dan haus ketika berpuasa.
Kedua, sabar dalam menjauhi maksiat hingga ia menjauhinya, contohnya sabar untuk tidak melihat hal yang diharamkan, sabar untuk menundukkan pandangan.
Ketiga, sabar atas takdir-takdir Allah yang memilukan agar tidak memakinya, contohnya sabar ketika tertimpa musibah, sabar ketika cita-cita belum dikabulkan oleh Allah karena ada hikmah yang Allah sediakan dibalik itu, sabar untuk tetap yakin bahwa apa yang ditakdirkan Allah adalah yang terbaik terlebih ketika realita kita tidak sesuai harapan kita.
Kalau kita renungkan, hidup kita berputar pada tiga perkara itu, sehari-hari kita berusaha untuk taat kepada Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir yang memilukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa hidup dipenuh dengan kesabaran, di setiap detik, setiap derap langkah, dan setiap helaan nafas.
Fenomena di usia yang menginjak sekitar seperempat abad, usia 20-30 tahun, salah satunya adalah mulai bertebarnya kabar dari teman-teman seperjuangan dulu tentang progress mereka dalam meraih mimpinya, mulai di media sosial, dapat kabar langsung dari orangnya, atau dari pesan berantai.
Ada yang sudah berhasil, sudah jadi "orang", bekerja di instansi dan perusahaan dambaan, menikah di usia muda, punya anak yang lucu, keliling dunia tanpa biaya. Di sisi lain, masih ada yang sedang di pertengahan jalan mengejar mimpinya, masih ada di “batu loncatan” katanya. Di sisi yang lain juga, ada yang sedang berada di fase kegagalan, menelan realita "pahit" dan terpaksa menjalani kehidupan yang berbanding jauh dari ekspektasinya dulu.
Harapannya, di kondisi apa pun kita sekarang, itu semua tidak membuat kita merasa sukses seutuhnya atau gagal seutuhnya. Semoga kita bisa diberi taufik oleh Allah untuk melihat bahwa setiap kondisi adalah ujian, bukan melihatnya sebagai parameter kesuksesan dan kegagalan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan. (QS Al-Anbiya: 35)
Takdir baik dan takdir buruk adalah ujian.
Kaya adalah ujian, sebagaimana miskin pun juga ujian.
Mulia di mata manusia adalah ujian, sebagaimana hina di mata manusia pun juga ujian.
Punya jabatan tinggi adalah ujian, sebagaimana punya jabatan rendah pun juga ujian.
Sehat adalah ujian, sebagaimana sakit pun juga ujian.
Bekerja adalah ujian, sebagaimana jobless pun juga ujian.
Punya pasangan adalah ujian, sebagaimana jomlo pun juga ujian.
Dan begitu seterusnya.
Setiap ujian memiliki tantangan dan tingkat kesulitan tersendiri. Sisi kanan tidak perlu pongah sebagaimana sisi kiri tidak perlu berkecil hati.
Lebih baik fokus menyelesaikan ujian masing-masing tanpa perlu terdistraksi dengan ujian orang lain, karena kita semua akan berdiri di hadapan Allah dan mempertanggungjawabkan cara kita “menyelesaikan” ujian.
Harapannya, di kondisi apa pun kita sekarang, kita tidak akan pernah lupa untuk memperjuangkan kesuksesan hakiki dan berusaha semaksimal mungkin menghindar dari kegagalan hakiki.