"We sins differently"
Pikiranku hanyut kepada dosa demi dosa yang kuperbuat. Aku membandingkan dengan oranglain, dan aku bertanya
"ya Allah, kenapa mudah sekali untuk mereka tidak melakukan dosa A sepertiku?"
Nyatanya, Allah memang tidak mendatangkan situasi yang menjadikan hal tsb sebagai ujian yg mendatangkan dosa A kepada mereka. Pantas saja mereka tidak melakukan dosa A, asbabnya memang tidak Allah datangkan kepada mereka.
Namun bagi mereka, sulit untuk menghindari dosa B. Yang mana bagiku hal itu sangat mudah. Dan Allah tidak meletakkanku di situasi yang mengujiku untuk berpotensi melakukan dosa B.
"We sins differently? Hmm.. It's make sense"
gumamku. Betul juga. Setiap dari kita sudah digariskan menemui 'bentuk' ujian masing-masing. Tapi kenapa "We sins differently" ini masih saja terasa mengganjal di hati?
Kemudian aku coba memperhatikan.
Ternyata, kalimat itu banyak digunakan untuk menangkis berbagai nasihat. Pantas saja mengganjal, kesombongan itu bermanipulasi menjadi kalimat yang seolah olah bijak. Barangkali, kita jadi bebal dan mengulangi dosa yang sama bukan karena kesalahan yg kita perbuat, namun karena menolak nasihat.
"We sins differently" agaknya patut kita katakan kepada diri sendiri ketika melihat oranglain melakukan dosa yang TIDAK kita perbuat. Karena barangkali, dosa itu sedang dalam upaya pertaubatan yg teramat sangat, namun kita tidak melihat. Jika imanmu kuat, tanyakan apakah ia tau yang dilakukan adalah dosa? Barangkali ia memang belum mengetahui. Jika ia sudah tau, tanyakan apa yang menjadi kesulitannya dan bantulah ia. Jika tidak, maka pastikan diri ini masih menyimpan selemah lemah iman, yaitu mendoakan. Doakan bukan sekedar menyemogakan. Sebut namanya dalam sujudmu
"We sins differently" tidak dibenarkan untuk menangkis nasihat nasihat yang datang.
"Ah, tapi kan ga semua orang tulus! Ada juga yg ngomong gitu untuk menunjukkan dirinya lebih baik!"
Wait. Apakah dia benar benar mengatakan "I am better than you?" Atau itu hanya asumsi kita sendiri? Agaknya kalimat ini bisa menginspirasi mu (seperti aku tersadarkan oleh kalimat ini waktu itu)
"Fokus saja dengan apa yang orang lain tampakkan, karena berprasangka itu bukan tugasmu. Dengan begitu, hidup menjadi lebih mudah"
Kalo pun benar dengan gamblang ia berkata "I am better than you" All you need is smiling. Doakan dia, hatinya sedang terluka teramat dalam.
Ohya, dan percayalah. Orang tulus itu ada, dan banyak! Jangan sampai kita menyesal kehilangan orang orang yg berani menasihati kita. Karena di zaman ini, menyampaikan sebuah kebenaran yang bahkan sudah jelas tertulis di dalam Al Quran saja butuh mental baja.
Jadi, kebenaran apa yang sudah berani kamu sampaikan hari ini?
*ngomong ke diri sendiri, yg akhir akhir ini ngerasa banyak takut dan banyak dosa
-KA, 15/07/23











