sampai sekarang, aku masih nggak tau mau mengkategorikan kesurupan itu apa. dibilang nggak percaya, nggak bisa juga, karena pernah menghadapi langsung.
waktu itu ikut kegiatan di semarang, aku kebagian di grup paduan suara. duduknya di semacam tribun kecil gitu.
hari itu, gladi bersih. kami menghabiskan waktu lama banget di gedung itu. meskipun duduk, rasanya tetap lelah sekali. mungkin karena sudah terserap habis energinya dengan kegiatan yang padat, terus hawa gedungnya panas dan pengap. jadi lah suasana gladi nggak begitu nyaman.
pas lagi bagian tim teater tampil, kami tim paduan suara diam kan. terus perempuan yang duduk di sampingku (sebut saja pucuk), ngeluh pusing, bibirnya juga pucat sekali. dia kayak mau pingsan tapi masih duduk tegak. berkali-kali bergumam nggak kuat. aku pegang telapak tangannya dan berkali-kali juga minta dia tetap bertahan.
kejadian dia lemas sampai kelihatan mulai hilang kesadaran itu kayaknya ada sekitar 5 menit. eh, tiba-tiba... betulan tiba-tiba banget, dia nunduk. duduknya tetap tegak, tapi kepalanya terkulai ke depan. belum sempat aku teriak manggil panitia, dia mulai bersenandung sambil cekikikan.
aku langsung diam. jujur, kalau ada soundtrack film horor, cocok banget diputar saat itu.
pucuk masih cekikikan sambil nyanyi-nyanyi, aku syok, perempuan lain di sisi satunya si pucuk belum nyadar. tanganku masih digenggam sama si pucuk.
akhirnya aku komat-kamit. baca surat kulhu. teman di sebelahku sempat bingung ngelihat aku kok komat kamit sendiri. aku tetap mandang lurus ke depan, gak berani nengok kemana pun. mencari pertolongan, suara bacaanku agak kukeraskan sedikit. temanku langsung nyadar dan ikut baca-baca.
pucuk masih begitu kondisinya. tangannya dingin sekali. sampai ketika... aku baca ayat kursi di dalam hati. nggak keluar suara sama sekali. baru baca sedikit, genggaman tangan dia jadi kuat sekali. aku yang kaget, nengok ke arah dia... dan tau apa?
senandung dan cekikikannya berhenti. dia tiba-tiba melotot dan nengok ke arahku.
itu... adalah pengalaman paling mengerikan untukku. seumur-umur nontonin orang kesurupan dan ngereog di tv, nemu teman zaman smp hobi pingsan dan kesurupan demi menghindari mata pelajaran tertentu... ini jadi pengalaman yang meresahkan.
mana pucuk tuh betulan melotot ke arahku cukup lama. terasanya cukup lama sih, aku nggak ngitungin. dia sempat mulai senyum ketika bacaanku berhenti.
setelah tatap-tatapan (dan aku merinding sekali lihat matanya) yang terasa lama itu, temanku yang nyadar langsung teriak manggil panitia. orang-orang yang bingung kenapa temanku teriak-teriak, jadi menoleh ke arahku dan pucuk. seketika pucuk pingsan.
kakak-kakak panitia heboh mendatangi tempat kami. tempat duduk bentuk tribun sungguh menyulitkan kami untuk memindahkan pucuk. mana salah satu panitia sempat bentak aku karena katanya aku sok-sokan kuat mau bantu gotong pucuk.
ya punten ya kak, dari smp saya dilatihnya kalau ada teman pingsan ya langsung dipindahkan ke tempat yang aman. nggak harus nunggu cowok kalau memang kondisinya genting. lagian saat itu juga yang laki-laki banyak bengong karena mungkin bingung kenapa kok ada yang pingsan.
(sumpah aku masih dongkol sama senior ini kalau ingat-ingat. padahal aku udah nggak hapal mukanya dan sama sekali nggak tau namanya)
setelah pucuk diamankan, perempuan yang ada di sisi lainnya pucuk ini cerita, kalau pucuk di hari awal datang pun sempat kayak gitu. jadi memang sebetulnya dia ditandai sama panitia dan (katanya) ada salah satu panitia yang ngerti plus bisa mengatasi kejadian macam itu. tapi, malam itu, entah karena euforia, lelah yang menumpuk, atau panitia yang cemas takut gladinya gagal, pucuk yang harusnya tetap dipantau malah lepas dari pengawasan.
aku cuma diam mendengar ceritanya perempuan itu.
esoknya, sampai hari terakhir kegiatan, aku selalu menghindari menatap pucuk. aku nggak mau lagi tatap tatapan dengan hawa mengerikan kayak gitu.