Aku dibesarkan tanpa perhatian utuh dari kedua orang tua sejak kecil. Semenjak adikku terlahir di dunia, kedua orang tuaku sibuk saja dengannya. Hingga aku terabaikan. Ibuku sudah menyadari hal itu. Kemarin beliau baru mengakuinya bahwa telah mengabaikan ku saat itu. Walau terlambat karena baru menyadarinya sekarang, tapi ada banyak pelajaran yang ku dapatkan.
Karena pengabaian itu, aku jadi ingin punya teman sebanyak mungkin. Untungnya, Allah SWT dekatkan aku dengan teman-teman yang positif. Sejak kelas 4 SD aku sudah ikut belajar agama di pesantren dekat rumah. Pulang ke rumah hanya ketika setelah sholat isya atau makan ketika lapar. Selebihnya kehidupanku lebih banyak di sana. Pulang sekolah, aku bergegas ke pesantren hingga sore. Pulang ke rumah hanya untuk mandi dan makan. Menjelang maghrib sudah pergi ke pesantren lagi. Bahkan hari libur pun begitu. Kecuali orang tua ku mengajak pergi jalan-jalan.
Ketika keadaan semakin sulit, aku semakin dekat dengan temanku. Pergi ke tempat baru, mudah sekali bagiku mendapatkan teman baru. Seperti sudah tertanam dalam bawah sadar bahwa teman adalah 'rumah' bagiku. Aku bisa menjadi diriku yang sebenarnya di hadapan mereka.
Pertama kali aku tertarik kepada lawan jenis, perasaan gundah saat menstruasi pertama, semuanya ku utarakan kepada yang menjadi teman dekatku saat itu. Padahal hal ini seharusnya ku utarakan hanya kepada orang tua agar aku dibimbing untuk selalu taat dan berada di jalan-Nya.
Dalam masa pencarian teman dekat ini, aku seringnya dikecewakan. Pada akhirnya mereka tidak tulus, timbul rasa iri padaku, lalu perlahan kita menjauh. Jadi, dalam setiap fase hidupku, yang menjadi sahabatku selalu berganti. Mereka menjauh-menghilang-aku mencari sahabat baru-mereka berubah menyebalkan-menjauh lagi-menghilang lagi.
Mungkin ini karena aku yang terlalu bergantung kepada mereka. Seharusnya, berteman atau bersahabat seperti biasa saja. Namun lagi dan lagi, hal ini karena di rumah yang sebenarnya aku tidak mendapatkan rasa aman dan nyaman sehingga jalanku harus seperti ini.
Hingga pada akhirnya, saat masa SMA yang paling krusial di masa-masa fase remaja datang, aku mendapatkan sahabat yang ku anggap dekat sekali. Aku menyayanginya. Aku bergantung padanya. Setiap kali gundah melanda, aku datang kepadanya. Hingga masa kuliah berlalu-lalu kerja-dan akan menikah. Selama itu kami bersahabat. Lalu ada saat dimana aku menyadarinya. Bahwa aku hanya dianggap seperti serpihan debu yang bisa dia bersihkan kapan saja. Aku yang salah karena terlalu menganggapnya berlebihan.
Aku dihina secara fisik dan mental. Walau dengan bahasa yang masih halus karena disisipkan pada obrolan kami. Dan aku terlambat menyadarinya. Padahal hal tersebut sudah terjadi sejak kami dekat.
Suatu waktu dia pernah cerita bahwa dia bertanya ke pacarnya, "sahabatku itu cantik gak sih yang? Kok kayaknya gak ada yang suka ya? Kasian juga jomblo terus". Hinaan fisik mulai melanda. Namun bodohnya aku hanya tertawa meresponnya. Sakit hati baru datang dua hari kemudian.
Lalu, "ah aku gak mau main ke rumah kamu. Kan masih ngontrak. Nanti aja kalo udah punya rumah sendiri." Disini aku langsung diam tapi tidak berani marah. Bodoh, seharusnya aku langsung pergi saja saat itu. Lagi-lagi penyesalan datangnya belakangan.
Dia juga selalu bilang bahwa dia senang punya sahabat sepertiku. Karena dia selalu ingin menjadi superior sedangkan aku mampu menjadi inferior jadi dia senang aku selalu berada di bawahnya dalam hal apapun. Lalu saat keadaan dunia berpihak padaku, dia menjadi agresif. Semakin merendahkan dan perlahan menjauh.
Suatu ketika, saat pertama kali bekerja, uangku memang belum banyak. Aku juga masih membantu ekonomi orang tua. Dia ingin hangout bersamaku, tapi aku menolak dengan jujur bahwa aku tidak ada uang untuk hangout. Lalu setelah itu dia selalu membahas bahwa, "aku tuh pengennya kalo jalan-jalan sama kamu aja tapi kan kamu tau sendiri keadaan kamu juga gak memungkinkan". Memang betul, tapi haruskah diutarakan? Bahkan empati pun tidak punya.
Hingga puncaknya dia mengatai orang tua ku matre lah, kok aku yang miskin ini bisa dapet calon suami mapan sedangkan dia engga. Kok karierku bagus sedangkan dia engga. Kok aku bisa menikah bak princess sedangkan dia engga. Dan dia selalu menyombongkan diri bahwa pernikahannya menghabiskan uang puluhan juta yang sudah pasti aku tidak akan mampu.
Aku pernah berpacaran dengan lelaki toxic. NPD. Hingga aku selalu merasa rendah diri. Kuceritakan semua padanya karena memang kami saling mengenal dekat. Namun ujungnya, ketika ada suatu keadaan yang membuat kami berkumpul secara tidak sengaja, sahabatku lebih memilih mengobrol dengan mantanku dan mereka nyambung karena sesama sudah menikah sedangkan saat itu aku belum menikah. Yang selalu aku sesali, kenapa aku bertahan disitu seharusnya aku langsung angkat kaki saja. Ketika pamit pulang, ku utarakan pada sahabatku bahwa perlakuan dia kepadaku tidak menyenangkan. Dan dia menjawab bahwa mantanku juga sahabatnya, jadi masa dia cuekin. Padahal dia yang paling tau masalahku seperti apa. Tapi pada akhirnya dia selalu berpihak pada yang lain. Sejak saat itu, aku segera menjauh. Pergi dari hidupnya, dan memulai kehidupan bahagia dengan suami yang sangat mencintai dan meratukan-ku. Pada akhirnya, sekarang mantan sahabatku itu merasa aku ini sombong karena ketika ekonomi membaik aku malah menjauhinya.
Terima kasih atas pelajaran hidup yang diberikan kepadaku. Karenamu, aku jadi paham bagaimana mengenali karakter seseorang hanya dari raut muka 😆 sekian curhatnya hari ini.
Bogor, February 1st, 2025