Behind The Scene: Search and Rescue QZ8501
Baru saja saya sampai di rumah setelah mengikuti kuliah umum geodesi paling membahana tahun ini. Apaan tuh, Min? Yeah, Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB ini memang luar biasa. Selalu punya cara untuk membangkitkan semangat, menginspirasi, dan memotivasi mahasiswanya–setidaknya saya merasa demikian.
Maka, untuk mengawali postingan saya kali ini, saya hendak menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada dosen-dosen, seluruh staf, baik di prodi maupun fakultas, serta alumni-alumni yang telah berkenan berbagi pengalaman hebat. Dan dari kuliah umum yang baru saja dilaksanakan dengan tema ‘Aplikasi Survei Hidrografi dalam SAR AirAsia QZ8501’, saya hendak membagikan sedikit cerita yang tadi saya dengarkan dari narasumber Bapak Nanang Henky, ketua IA-GD ITB yang sekaligus mewakili AKSLI (Asosiasi Kontraktor Survey Laut Indonesia) dan Mas Muhammad Aga Ridha, party chief kapal MGS Geosurvey yang berperan penting dalam proses evakuasi pesawat nahas ini.
Hal pertama yang saya simpulkan dari cerita panjang para narasumber tadi adalah: Niat baik selalu menemukan jalan. Awalnya, tawaran dari AKSLI untuk membantu pencarian pesawat dan korban sempat ditolak. Setelah dikatakan bahwa ini misi kemanusiaan-bukan bisnis, akhirnya dengan melalui berbagai perundingan dan persiapan yang sangat cepat, Kapal MGS Geosurvey beserta para surveyor, alat-alat dan seisinya dapat berangkat ke Selat Karimata. Iya, insya Allah ada jalan.
Setelah sampai, dengan bermodalkan informasi posisi terakhir pesawat yang ditangkap oleh radar, kapal Geosurvey langsung memetakan dasar laut. Ya, tidak semudah dan secepat itu juga sih. Mereka membutuhkan waktu dan informasi-informasi pendukung lain hingga menyebabkan beberapa kali mereka memperluas daerah pemetaan. Sampe akhirnya, diperoleh beberapa debris yang terdeteksi dari pemetaan dasar laut yang mengerahkan alat-alat canggih: Multibeam Echosounder, Side Scan Sonar, Remotely Operated Vehicle, dan Ultra Short Base Line.
Penemuan objek-objek terduga tersebut menjadi titik terang proses pencarian tersebut, setelah sekian hari di laut dengan ketidakpastian posisi pesawat. Untuk memverifikasi objek-objek tersebut, diturunkanlah para penyelam dengan bantuan 'Beacon’, underwater locator/positioning system, agar para penyelam dapat langsung menuju koordinat objek yang diperoleh dari SSS atau MBES.
Debris pertama yang berhasil diverifikasi ternyata adalah ekor pesawat pada 7/1 yang kemudian berhasil diangkat 3 hari kemudian. Penyelaman itu juga mendapati sebaris kursi pesawat dengan 2 jenazah yang masih terikat seatbelt. Akhirnya, para penyelam tersebut mengevakuasi korban ke permukaan. Belakangan diketahui bahwa dua jenazah tersebut adalah warga negara Korea Selatan yang dikenali dari gendongan bayi yang masih melekat.
Percaya atau tidak, bagian ini yang paling 'menguras hati’ saya. Membayangkan jika penyelam tidak turun dan mendapati jenazah mereka, maka jenazah mereka akan di dasar laut selamanya. Belum lagi saya juga membayangkan bagaimana bayi mereka 'terlepas’ dari gendongan dan sampai sekarang belum ditemukan :’(
Setelah ekor ditemukan, menyusul ditemukannya black box, fokus selanjutnya adalah memverifikasi objek terbesar yang diperoleh dari pemetaan yang diduga sebagai body pesawat. Namun, banyak halangan yang datang sehingga proses verifikasi lambat. Sampai akhirnya kapal Swift milik Singapura menyetujui untuk menurunkan ROV-nya untuk mengambil gambar objek terduga tersebut. Iya, setelah mereka mendapatkan gambar yang ternyata itu adalah benar body pesawat, mereka langsung mempublikasikannya.
Sebelum saya tahu bahwa ternyata yang menemukan posisi badan pesawat awalnya adalah kapal Geosurvey, saya telah membaca berita online tentang penemuan badan pesawat tersebut oleh kapal Singapura. Hal ini menyebabkan banyak komentar buruk yang ditujukan pada negara kita di kolom komentar portal berita online tersebut. Sedih ya, padahal mereka hanya memverifikasi temuan kapal kita. Maka, dengan postingan ini, saya ingin menunjukkan bahwa INDONESIA BISA! Kita juga punya alat-alat canggih dan sumber daya manusia yang sudah ahli, tolong jangan diremehkan sembarangan.
Sebenarnya masih banyak hal lain yang para narasumber sampaikan, bahkan tadi sempat ditunjukkan beberapa video yang diambil di lokasi evakuasi yang tanpa sensor. Tapi karena saya keasikan mendengarkan, mencerna, dan melihat foto-foto dan video yang ditampilkan, saya tidak sempat mencatat waktu, lokasi, jumlah, dimensi, serta hal-hal lain mengenai proses evakuasi ini. Saya kira, tulisan saya ini juga mengandung kekeliruan data maupun kata, maka saya memohon maaf atas hal-hal tersebut. Untuk teman-teman yang tadi hadir dan merasa ada yang keliru dengan tulisan ini, bisa disampaikan langsung pada saya supaya saya perbaiki.
Di akhir postingan alias tulisan alias resume kuliah umum tadi, saya simpulkan bahwa geodesi, khususnya hidrografi, ternyata berperan sangat penting dalam proses evakuasi ini. Penemuan-penemuan bagian pesawat yang tenggelam di dasar laut membuat (hidrografi) Indonesia mendapat apresiasi dari dunia. Iya, kita punya (teknologinya), kita bisa, Indonesia bisa!
Kesimpulan ketiga: ternyata banyak 'drama’ dalam proses ini, dan apa yang disampaikan di media tidak sepenuhnya benar. Ya, saya memang harus lebih percaya pada para narasumber yang benar-benar ada di atas kapal dan mengetahui pasti apa yang terjadi di sana.
Kesimpulan keempat: YOU ARE ALL THE HEROES, untuk semua pihak yang terlibat dalam proses evakuasi ini, khususnya 'utusan’ AKSLI yang telah membawa titik terang untuk pemerintah. Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas Anda-anda semua dengan pahala yang setimpal.
Dan ingat kesimpulan pertama di atas, setiap niat baik pasti menemukan jalan. Jangan menyerah :)
Bandung, 22 Januari 2015 (ditulis dari 19.00-20.30)
















