THE PERKS OF BEING A WALLFLOWER
Pertama-tama, saya mau menegaskan bahwa yang tertulis dibawah adalah pendapat saya pribadi sebagai yang punya ini tumblr. Bagi yang tidak sependapat dengan pendapat saya, saya tidak mau berdebat panjang kali lebar dari selokan. Kritik dan saran diterima apalagi disisipkan gula-gula dalamnya. Itu penting. Yang membangun pastinya.
Kemarin baru habis khatam novel ‘Perahu Kertas’ dan ta’bangka karena menjelang halaman terakhir tiba-tiba muncul tulisan “Perahu Kertas, 27 April 2013, Pukul 18.00 WIB”, tepatnya ini malam, di salah satu channel nasional yang akan muncul kalau di remote TV ku dipencetnya angka 6. Kebetulan, kata hatiku. Saya ada punya kesempatan untuk membandingkan yang di novel dengan filmnya. Keren kah filmnya? Atau mengecewakan kah ?
Terlambat yah, kalau saya bilang baru tahu tentang perahu kertas?!! Saya kira tidak, karena tidak ada kata terlambat untuk membaca. Yah mungkin dipikir terlambat karena saya baru baca setelah filmnya keluar, tapi ai donte ker.
Dan komentar saya mengenai filmnya adalah……..*drum rollllllllll*
MENGECEWAKAN, AMAT SANGAT SERIUS, BETULAN, JUJUR KA.
Sekarang, setelah kemarin, di kepala saya masih teringat sekali mengenai seluruh kisah yang ada di novelnya itu perahu kertas dan setelah saya bandingkan dengan filmnya, hmmm sangat tidak sama. Sutradaranya mungkin mau improve, maksudnya tidak mau terlalu sama dengan yang di novelnya, mau mengembangkan cerita atau bereksperimen alasannya dan kebanyakan sutradara yang angkat cerita dari novel memang begitu adanya, dan alhasil… menyebalkan binti mengecewakan.
Menurutku, nda papaji impove, tapi please….please…jangan keluar jalur. Biasanya yang diangkat ke layar lebar adalah novel-novel best seller, yang penyukanya bejibun, dan sutradara harusnya punya target minimal filmnya sebagus bukunya. Tapi, ada satu sutradara pernah saya dengar alasannya mengubah “sedikit” alur cerita adalah agar novelnya yang best seller tidak tergusur. Dan yang ada, justru alur yang berubah itu membuat pecinta novelnya jadi kecewa dan malas nonton. Mungkin bagi yang belum pernah baca bukunya, kemudian nonton filmnya, pendapatnya adalah filmnya bagus, tapi bagi yang sudah pernah baca bukunya, pasti punya pendapat lain, dan yang lain itu belum tentu sama.
Seperti waktu saya juga baru khatam ‘Laskar pelangi’. Tetiba ada berita filmnya akan tayang di bioskop. Pas tayang, ke bioskop lah saya nonton di temani ponakan dilihat dari sisi keturunan, tapi kakak dari sisi tanggal lahir. Dan pas dalam, orang-orang pada senang. Pada suka. Pada nangis nonton itu film. Dan saya yakin, mereka itu yang emosional begitu belum pada baca itu novel karya bang Andrea Hirata. Pasti. Saya yakin. Karena kalau sudah baca novelnya, lantas nonton, pasti jadinya kecewa. Filmnya beda jauh. Sangat jauh. Jauhnya itu antara matahari dengan planet Pluto, planet yang masih saya yakini keberadaannya, walau para ilmuwan bilang bukan planet. Maklum, saya bukan ilmuwan. Dan ingat ! pendapat berbeda yang dicari-cari. Seperti kata dosen,”ada pendapat lain???”.
Itu sekolahnya ikal, sekolah Muhammadiyah. Basis agama. Mana ada anak apalagi pengajar Muhammadiyah ke sekolah kudungnya dipasang seperti pasang slayer PMR, pasang slayer Pramuka, dan slayer-slayer organisasi lain yang didapatkan setelah diksar? mana ada auratnya diperlihatkan ke pria bukan muhrim? Di sekolah, ketemu kepala sekolah, kudungnya dipasang, tapi rambut si bu guru masih kelihatan. Pas ketemu murid-murid, kudungnya sudah kayak slayer, bentuk segitiga membungkus pundak. Kalau mau improve juga tidak bisa seenaknya. Maksudnya jangan membuat pesan yang ingin disampikan penulisnya hilang. Bagusnya lagi kalau pesannya itu justru disampaikan se-spektakuler dari yang dibuku, tapi jangan lebay juga. Minimal lah sama. Pesan di Laskar Pelangi bukan hanya harus rajin belajar supaya pintar dan sukses, bukan hanya tentang persahabatan, bukan pula hanya tentang percintaannya si ikal dengan si aling, tapi agama juga ditekankan. Orang tua ikal sangat menekankan hal agama kepadanya. Disekolahnya yang adalah Muhammadiyah juga menekankan hal yang sama. Dan menurutku sekali jalan, semuanya bisa tersampaikan kalau mau. Tapi mungkin menurutnya yang buat terlalu tumpang tindih kalau begitu. Yah, sudahlah, filmnya juga sudah tayang sudah berlalu. Itu sudah empat tahun yang lalu.
Setelah saya nonton Laskar Pelangi, tapi dibuat kecewa, saya jadi malas nonton sekuelnya, Sang Pemimpi, Karena pasti akan lebih mengecewakan.
Begitupun juga film Negeri 5 Menara. Ini sungguh amat sangat mengecewakan. Setelah saya khatam novelnya, saya kemudian beli DVD bajakannya. Setelah nonton saya berasa mau jual kembali itu kaset atau yang paling ekstrim saya mau bakar atau buang itu kasetnya, tapi saya takut rugi, jadi disimpan saja, tapi tidak dinonton lagi. Betul-betul melenceng sekali. Nda jelas. Sangat mengecewakan.
Katanya film Harry Potter juga begitu. Ada perubahan alur cerita, katanya. Ini ‘katanya’ loh, bukan ‘kataku’. Saya belum pernah baca bukunya, jadi saya pikir bagus-bagus aja sih. Yang buat saya salut adalah karena sang sutradara (menurutku) berhasil membuat imajinasi ‘gila’ tante J.K Rowling dalam bentuk visualisasi yang amat keren.
Kalau 5cm. yah banyak juga yang tidak sesuai novelnya. Sebenarnya karakter tokohnya semua hampir pas, cuma di novelnya Arian digambarkan berkulit hitam manis. Trus waktu saya baca novelnya, waktu kelas 2 SMA (dipinjamkan sama Abo, yang dia juga pinjam dari tetangganya yang adalah calon kakak iparnya juga), saya membayangkan gayanya Zafran itu seperti anak Teknik. Rambut gondrong berantakan (nda gondrong-gondrong amat ji), urakan tapi nda terlalu juga, trus walau gayanya serampangan begitu, tapi pemikirannya filsafat nan puitis. Socrates + Pluto campur Kahlil Gibran gitu lah. Tapi difilmnya tidak begitu adanya. Tapi overall boleh lah.
Salah satu (atau mungkin satu-satunya) film yang sangat mirip, baik itu tokoh maupun hampir seluruh alur ceritanya dengan novelnya adalah film berjudul ‘THE PERKS OF BEING A WALLFLOWER’ yang disutradarai oleh penulisnya sendiri, Stephen Chbosky. Saya juga dengarnya dari cerita kakak yang saya sebagai adiknya. Begini kronologinya :
Dalam pete-pete, tepatnya di bagian paling belakang, duduk berhadapan dan bercakap-cakap dua gadis, yang satu masih belia (saya) dan satunya lagi sudah kepala dua (si kakak).
“w…ada cowok mirip KJW”, si kakak memulai.
“siapa ???”, saya menanggapi si kakak.
“Ezra Miller namanya, ini saya mo cari kasetnya nanti di MTC, sama Emma Watson main. Gondrong, tinggi, dan badboy juga, mirip sekali KJW. Keturunan Indian keknya, muka-muka Indian soalnya”.
“Yang mana itu Emma Watson, bukan yang main di Spiderman terbaru?”
“Emma Stone itu anu. Emma Watson itu yang Hermione, temannya Harry Potter.”
“Ohhhh, itu. Eh pernah memang saya lihat kasetnya, di covernya itu ada tiga orang, itu emma salah satunya”.
“bah, itumi. Yang gondrong itu namanya Ezra Miller, yang mirip KJW”.
“Aih, tidak kuperhatikan. Emma Watson ji yang ku kenal. Bagaimana ceritanya?”.
“ceritanya…ini ada tokoh utama namanya Charlie. Yah kau taumi lah sekolah diluar negeri marak pem-bully-an. Nah ini Charlie juga sering dibully dan dia berteman sama Patrick, itumi si Ezra Miller yang bersaudara tiri sama Sam., itumi si Emma Watson. Ada tentang gaynya juga, si Patrick gay ceritanya. Memang kayak kemayu-kemayu disitu gayanya.”
“oh, belimi. Kalau ada gay-gaynya langsung beli saja.”
“bagus nah ceritanya. Apalagi ini yang sutradarai penulisnya sendiri.”
“oh, iyokah? Dijamin tidak kecewa itu pale.”
“Iyo. Itu toh penulisnya pernah bilang kalau ini bukunya difilmkan dia tidak mau kalau orang lain yang sutradarai. Dia mau sutradarai filmnya sendiri dan casting pemeran masing-masing tokoh, karena dia tahu tokoh-tokoh yang dia tulis dalam novelnya itu seperti apa dan dia mau karakter filmnya seperti yang dinovelnya.”
“Ih, bagus itu karena pasti orang tidak akan kecewa kalau begitu. Memang sebaiknya begitu, penulis yang casting pemainnya kalau perlu jadi sutradaranya sekalian karena dia yang tahu persis tentang tokoh-tokoh yang dia gambarkan di novelnya dan pasti ceritanya akan sama dengan yang di novel karena dia pasti tahu sekalimi apa yang dia tulis dalam novelnya dan pesan yang ditekankan untuk disampaikan.”
“Iyo nah, betul tidak kecewa ki kalau begitu. baru kabarnya digosipkan ki pacaran Ezra sama Emma, gara-gara pernah ada status twitternya Emma yang dia lagi mau jalan bareng sama Ezra. Akrabki memang, tapi bertemanji keknya.”
(Ituu cewe’ dimana pun berada, mau cerita apa, ujung-ujungnya pasti gossip. Itumi ada serial ‘gossip girl’. Yang merasa bukan perempuan harap maklum, karena begitulah perempuan). Lanjuuuuuuuttttttttttt….
“Aduh, yang mana orangnya itukah Ezra Miller, saya nda pernah lihat”
“Ada, nontonmi filmnya nanti, tapi setelah saya sudah. Jangko coba-coba lambung kiri. Trus toh, pernah ditanya Ezra, dia nda ke-gay-gay-an ji kah setelah berperan jadi gay, trus dia bilang sekarang dia masih normal. Masih suka perempuan. Tapi tidak tahu mi nanti, bisa saja berubah, begitu katanya.”
“Oh, trus apa lagi mau mu beli ?”
“mauka juga beli Lincoln. Bagus nah filmnya. Ada juga Joseph Gordon-Levitt”
“Iyokah ada? Tapi waktu saya lihat kasetnya bukan mukanya Joseph Gordon-Levitt disitu.”
“Ka memang bukan dia jadi Lincoln. Dia beseng-besengji. Yang jadi Lincoln itu Daniel Day-Lewis.”
“Oh, yang mana itu orangnya?”
“ada itu, nda terlalu tereksposki memang orangnya. Filmnya saja Cuma enam. Enam tapi masuk semua nominasi Oscar ca’.”
(untuk Daniel Day-Lewis nanti dibahas yah, kapan-kapan. Durasi ca’)
Si kakak juga belum pernah baca novelnya. Temannya sebenarnya punya novelnya, bahasa inggris tapi. Karena si kakak nda pintar-pintar amat ji bahasa inggris, jadinya dia tak pinjam. Tapi komentar temannya si kakak, yang notabene sudah baca novelnya sendiri memuji film tersebut. Dia bilang, katanya Charlie yang di film mirip sekali sama yang di novel. Pemain-pemain lainnya juga mirip.
Kalau komentar pembaca dengan film yang diangkat dari novel yang dia baca begitu, kan bagus. Artinya, pembaca tidak mendapat kecewa, karena apa yang ada dibayangannya ketika membaca bukunya persis dengan apa yang dia harapkan ditampilkan lewat filmnya. Jadi ketika nonton filmnya, seperti membaca buku itu kembali.
Ada lagi satu film indonesia yang ceritanya diangkat lewat novel juga dan ditayangkan perdana pada tanggal 25 April 2013 lalu. Sang penulis novel sendiri pernah tampil di KickAndy! dan waktu itu novelnya yang jadi hadiah untuk dibagikan ke penonton, baik di studio maupun di rumah.
Novelnya adalah tentang anak supir angkot dari kota Malang yang berhasil jadi direktur di New York. From small apple to big apple. Judul filmnya sendiri ‘9 summer 10 autumn’, dan dari tweet-tweet yang saya baca di twitter, semuanya pada memuji film ini. Bagus katanya. Tidak buat kecewa seperti film-film pada umumnya yang diangkat dari novel, dan pesan yang ingin disampaikan penulis bisa disampaikan juga lewat filmnya.
Si penulisnya bilang, dia tidak mau ini film hanya untuk menguras air mata, tapi dia mau berbagi motivasi dan inspirasi ke semua orang tentang pengalaman hidupnya melalui film ini. Dia ingin menyampaikan bahwa semua orang, siapapun itu, terutama yang kurang mampu, bisa sukses selama mereka dapat dukungan penuh untuk itu. Penulis berpendapat bahwa semua anak Indonesia sebenarnya bisa sukses, dan punya hak untuk itu, tapi selama ini kebanyakan dari mereka tidak mendapat dukungan penuh untuk itu. Dan disini keluarga punya peranan penting, terutama orang tua. Orang tua harus mendukung penuh anaknya. Karena dukungan itu juga yang memacu individu tersebut untuk menjadikan hidupnya dan keluarganya juga lebih baik.
Saya rencananya mau nonton, tapi belum tahu kapan. Maklum, jadwal padat, seandainya cair atau gas, mungkin bisa ji. Dan mungkin selasa ide yang bagus.
“Ya Allah, semoga cepat pulang hari selasa orang. Amin.”
Demikian sedikit tulisan hari ini. Yang lebih jangan dikurangi. Yang kurang lebih baik disyukuri.