Kedip, Kejap, dan Angguk suatu malam
Mulai berlayar dengan sepatu kayu --
Berlayar di atas sungai bercahaya kristal,
“Kemana engkau pergi, dan apa inginmu?”
Bulan tua bertanya sang tiga.
“Kami datang untuk memancing ikan haring
Yang hidup di laut indah ini;
Jaring perak dan emas kami miliki!”
Bulan tua tertawa dan menyanyikan sebuah lagu,
Saat mereka bergoyang dengan sepatu kayu,
Dan angin yang menggerakkan mereka sepanjang malam
Bintang-bintang kecil adalah ikan haring
Yang tinggal dalam laut indah itu –
“Sekarang lemparkan jaringmu dimanapun kau ingin –
Maka berteriak bintang-bintang kepada ketiga nelayan:
Sepanjang malam jaring mereka lemparkan
Ke arah bintang-bintang dalam buih yang berkelap-kelip –
Lalu turun dari langit sepasang sepatu kayu,
‘Tu adalah pelayaran yang sangat menyenangkan
Dan beberapa kawan berpikir ‘Tu adalah mimpi yang mereka impikan
Tentang berlayar di lautan yang indah –
Tapi aku akan menamaimu tiga nelayan:
Kedip dan Kejap adalah dua mata kecil,
Dan Angguk adalah sebuah kepala kecil,
Dan sepasang sepatu kayu yang belayar di langit
Adalah ranjang geser mungil milik seseorang
Maka tutup matamu saat ibu bernyanyi
Tentang pandangan luar biasa yang akan terjadi,
Dan kau akan melihat hal-hal indah
Saat kau bergoyang di lautan berkabut,
Di mana sepatu tua pernah menggoncangkan tiga nelayan:
Alih bahasa oleh: Lutfi Arifin
Puisi ini pertama kali saya temukan dalam permainan kata pada novel Satanic Verses Salman Rushdie.
Untuk lebih mendalami puisi ini, pergilah ke laut, minimal daerah pesisir, lalu berdiamlah selama seratus enam puluh tujuh bulan di sana. Tidak sempat? Nikahilah anak nelayan dan tinggallah bersama mertua anda, sebelum mereka mengusir anda. Anak nelayan itu yatim piatu. Bersykurlah, kawan. :)