akhir-akhir ini sadar satu hal. aku gak pernah jago lari sejak dulu. aku pikir lari melelahkan. lebih tepatnya gak nyaman.
Kenapa tiba-tiba bahas lari? ya. gapapa. pengen nyampah aja. kayanya kalau gak diomongin hatiku bisa busuk tanpa sadar. kamu tuh ngomong kaya orang paling suci aja as.
maksudku diantara banyak kali kesempatan untuk berhenti kadang ada pemikiran-pemikiran nonsense yang menyeruak masuk tanpa permisi. dengan sinisnya berbisik tanpa minta dijawab
“kamu tuh gak capek lari terus? minta dikejar atau emang gak ada kepercayaan diri untuk nunjukkin diri kamu?”
mungkin, jauh di dalam sana. di kedalaman hati yang tidak akan pernah bisa dijangkau manusia, aku menyadari banyak sekali hal saat menghabiskan waktuku di rumah. ini seperti balik ke beberapa tahun sebelum aku memulai segalanya. ya semacam membiasakan diri dengan tempat yang seharusnya.
aku tidak pernah begitu memikirkan interaksi dengan teman-temanku, maksudku aku selalu pasif. selalu begitu sejak dulu. kadang cenderung mengabaikan banyak pembicaran ngalor-ngidul meski aku rindu ingin bertemu. rindu? rasanya kadang mewujudkannya mahal untuk orang yang terlalu egois semacam aku ini.
ya kangen. ya terus bisa apa. ya ketemu. tapi menuntaskan rindu kadang gak sesederhana itu. ada pembicaraan lebih lanjut. that kind of conversation was somehow bitter for me. i dont have to explained, its tiring anyways.
ya wajar kan sembunyi terlalu lama jadi membangunkan sisi sensitif yang terkubur belasan tahun belakangan. ya aku gampang sekali menangis. akhir-akhir ini. tekanan yang datang dari dalam diri memang bukan hal yang ringan. karena, diri sendiri yang harusnya jadi pertahanan terakhir juga diam-diam mulai ragu dengan optimisme yang bergaung dalam jiwa akhir-akhir ini.
maas tak pernah kemana-mana.
kamu akan menemuinya disini, ya dia akan merespon layaknya terakhir kalian menyapanya kemarin. jika moodnya tidak tiba-tiba muram, sapaanmu akan disambut bahagia.
maas asyik bersembunyi, maas sedang mencoba tenggelam. karena ternyata tenggelam tidak semudah yang dipikirkan orang-orang, kadang ada sebagian dirimu yang menolak tenggelam sekeras apapun sebagiannya lagi berusaha.
dilema semacam itu tidak bisa dihindari, dan ya itu melelahkan untuk dibayangkan.
dalam banyak pembicaraan kita, kamu akan menemukanku seakan begitu asyik bicara seakan lama tak pernah bicara. ya mungkin aku banyak menghabiskan waktuku dengan diam. mungkin aku hampir lupa apa saja yang sudah kujalani selama ini. fase ini menyiksa. aku tak dapat banyak bicara karena satu sisi berkata untuk mengurangi emosi-emosi yang tak perlu---singkatnya aku disarankan untuk jadi robot yang kerjanya hanya menatap layar laptopku--maksudku, emosi-emosi yang aku tak sanggup menanggungnya.
jadi jika aku lari atau sembunyi,
cant you just accept it and just shrug it off?its not like i ever be part of you that you adore me that much.
i’m enjoying this introvert atmosfer so much that i forget about everything painful backthen.