Entah hasutan darimana bisa membuatku mengubek-ubek kardus berdebu di salah satu sudut rumahku. Kardus berdebu itu ternyata isinya buku cetak dan buku catatan sekolah semasa SMP dulu (isinya pengetahuan atau bisa jadi kenangan).
Mataku tertuju pada buku tulis bersampul kuning bergambar aneka ice cream tapi tertulis “I Scream”. Pikirku dalam diam “Buku apa ini?” Kuambil buku itu lalu kubuka, sontak senyumku merekah, “Buku tempatku menulis puisi” ucapku pada diriku sendiri dengan hati senang.
Setiap halaman yang kubaca mengingatkan betapa sukanya diriku dulu dengan puisi. Mungkin juga dulu Bhs.Indonesia adalah salah satu hal yang kusuka di sekolah selain bunyi bel istirahat dan bel pulang tentunya.
Beberapa puisi dibuku itu aku yang bikin, dari mulai rasa senang, sedih, bangga, kagum, sukacita dan juga dukacita, semuanya kubikin puisi. Salah satu puisi yang kubikin dengan hati sedih adalah tentang Tsunami di Aceh. Seperti ini puisiku :
Azab Tuhan melanda
Menghempaskan nyawa saudara
Tangisan pedih menggema
Tak senyum seperti sedia kala
Kepedihan di negeri sana
Terdengar dimana-mana
Berbisik menusuk kalbu
Menggoyahkan niat bahu-membahu
Senyuman yang riang
Tenggelam disapu gelombang
Hilang di keheningan malam
Terhenyak dalam kesunyian
Terbangun dengan asa
Berharap akan kembali
Senyum saudaraku yang tertidur
Saat bikin puisi itu, aku posisikan diri sebagai bocah yang bersimpati dan merasa sedih atas bencana yang dialami saudaranya sesama bocah usia sekolah. Iya, hanya anak-anak kecil fokusku waktu itu. Seakan merasa apa yang mereka rasakan.
Dan sebelum kuakhiri, aku pernah dengar ada orang berkata puisi itu tidak lebih dari rangkaian kata yang berima. Menurutku dia keliru. Puisi itu tentang menyampaikan isi hati dan pikiran dengan menghemat kata-kata, lebih sederhana dengan arti yang lebih dalam.