Titik Hilang
Pagi itu, di dekat Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Kami berkemas dan bersiap untuk memulai pendakian, setelah sehari sebelumnya melakukan perjalanan hampir seharian untuk sampai ke area Taman Nasional, dan memutuskan untuk sehari bermalam di Campground Mandalawangi yang masih satu kawasan dengan Balai Besar dan jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango. Dingin yang menusuk dan kabut lembut menyambut kami sejak pagi sampai matahari mulai merangkak naik. Setelah membereskan administrasi, pengecekan logistik, tes kesehatan, dan penyelesaian semua persiapan. Kami memulai pendakian hari pertama dengan tujuan akhir sampai Kandang Badak, pos terakhir sebelum para pendaki biasanya melanjutkan summit attack pada keesokan harinya. Bagiku, entah ini pendakian keberapa namun berkunjung ke Gunung Gede-Pangrango adalah salah satu pendakian dalam tujuanku untuk bisa berkunjung ke beberapa gunung tertinggi di daerah Jawa Barat. Ah, jangan berekspektasi lebih, mungkin saja dan kemungkinan kau jauh lebih berilmu dan berpengalaman dalam kegiatan luar ruang. Sedangkan aku sebatas pemuda yang senang melakukan kegiatan dibawah pohon-pohon tinggi sebagai kanopi dan menyeduh minuman hangat ditemani obrolan yang erat bersahabat. Sepanjang awal pendakian sampai Kandang Badak, kemudian sampai puncak dan kembali turun dengan lintas jalur, bergantian diterjang hujan lebat dan badai hebat. Benar, tidak ada yang pasti dan dapat benar-benar terprediksi manusia tentang kondisi alam. Akhirnya rencana untuk melakukan summit attack pada dini hari diurungkan karena kondisi cuaca yang takutnya membahayakan keselamatan jika kukuh untuk terus dilanjutkan, namun akhirnya mampu menuju puncak dan kembali turun ketika cuaca mulai membaik dan tenang. Benar, aku sangat setuju dengan prinsip para pegiat alam, “Puncak adalah bonus, tujuan akhir adalah pulang dengan selamat.” Sebab bagaimana mungkin, menuruti ego tapi mengorbankan keselamatan diri dan juga membahayakan hidup orang lain? Seperti akhir-akhir ini yang terjadi di salah satu gunung daerah Sulawesi Selatan. Tiga orang pendaki wanita pemula yang belum tahu banyak perihal kegiatan luar ruang ditinggalkan di tengah perjalanan oleh rombongannya dengan alasan karena ingin pergi dan menapaki puncak, akhirnya tiga orang yang ditinggalkan terserang Hipotermia parah, untung saja masih hidup dan dapat terselamatkan pendaki lain. Sungguh, benar-benar tindakan sangat gegabah dan benar-benar sangat membahayakan, menggadaikan keselamatan rekan demi kepuasan pribadi yang jauh dari kata sepadan. Suatu perjalanan tentu jauh memiliki harga yang lebih tinggi dari sekadar tujuan untuk dapat mengambil gambar kemudian mengunggahnya ke media sosial untuk mendapat like dan sanjungan, atau untuk jadi ajang memamerkan & mendapatkan pengakuan bahwa ia lebih kuat dan lebih mampu dari teman-temannya karena bisa menggapai puncak-puncak tinggi bumi di bawah kakinya sendiri. Esensi sebenar-benarnya sebuah perjalanan mengajarkan bahwa tidak ada hal yang lebih pantas untuk ditaklukkan dan dijejaki kecuali diri sendiri, tidak ada hal yang lebih layak untuk diperjuangkan selain semakin mendekatkan diri kepada tuhan, tidak ada alasan yang sepadan untuk menuruti ambisi dan membahayakan keselamatan sebab tujuan akhir setiap perjalanan adalah kembali pulang dan kembali berjumpa dengan orang tua, sebelum waktu habis namun belum sempat membanggakan dan membahagiakan. Yang sangat disayangkan, pengalamanku setelah berkunjung ke beberapa tempat adalah permasalahan banyaknya sampah yang ada dimana-mana. Seakan sudah menyatu menjadi sesuatu yang memang menetap di berbagai tempat, padahal sampah adalah barang sisa pemakaian manusia setelah datang dan menetap sejenak namun enggan diambil dan dibawa turun kembali, padahal oleh siapapun telah dihimbau dan diperingati serta diberi sanksi tegas bagi mereka yang melanggar. Menurutku, daripada ada yang datang berkunjung namun meninggalkan banyak sampah, lebih baik jangan datang sama sekali, sebelum kesadaran dan kepeduliannya terhadap lingkungan tumbuh dan dipraktekkan. Karena hanya akan mengotori dan merusak alam dengan sampah yang ia tinggalkan. Karena tetap saja, segiat apapun pemerintah dan pihak pengelola memperketat peraturan, akan selalu banyak juga permasalahan yang mendera alam. Sebab masalah utama bukan pada kurang tegasnya peraturan dan himbauan yang ada, tapi pada kesadaran tiap diri manusia. Untungnya jumlah orang-orang yang ‘bandel’ jauh lebih sedikit dari banyaknya orang-orang yang benar-benar peduli pada alam. Seringkali takjub melihat beberapa rombongan pendaki mengangkut banyak botol-botol plastik dan plastik sampah yang ukurannya jauh lebih besar dari carrier yang dibawanya. Jelas itu bukan sampah mereka sendiri, tapi sampah-sampah orang lain yang ditinggalkan tanpa ada pertanggungjawaban. Salut kepada mereka yang benar-benar peduli dan menjaga alam, semoga semakin banyak yang bergerak dan disadarkan untuk bersama-sama memupuk kepedulian.
Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak. Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu. Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar. ― Anonim
Sungguh, banyak hal yang benar-benar patut disayangkan. Banyak yang mengaku sebagai pecinta alam, tapi belum mewujudkan kecintaannya dalam bentuk kepedulian. Banyak yang mengaku pergi untuk mengagumi ciptaan tuhan, tapi sengaja meninggalkan ibadah yang merupakan kewajiban. Banyak yang mengaku pegiat alam, tapi belum giat menjaga kebersihan dan merawat kelestarian alam. Tidak tertuju kepada siapapun, hanya sebagai bentuk muhasabah diri dan ajakan untuk sama-sama menjaga kepedulian & kewajiban kita sebagai manusia.
Jika seorang yang mendaki gunung diibaratkan menjadi sebuah analogi hidup, ia yang telah mencapai puncak sebagai titik tertinggi pasti penuh rasa senang dan kebanggaan. Bahkan terkadang muncul sedikit kesombongan dan perasaan merendahkan kepada orang lain yang masih dibawah atau bahkan belum naik sama sekali, merasa diri lebih tinggi dan lebih hebat sebab sedang berada di titik paling tinggi. Lupa bahwa semakin angkuh perasaan yang dibina, semakin kecil kehormatannya dan semakin habis kebaikannya, lupa bahwa tidak ada orang yang menetap lama di puncak tertinggi dan setiap orang pasti turun kembali.
Maka untuk siapapun yang sedang berada di puncak, atau sedang dalam perjalanan menanjak dan merangkak, bahkan yang belum bergerak dan masih diam di tempat. Jangan lupa bahwa setiap yang mencapai puncak tertinggi akan kembali ke bawah dan kembali ke dalam tanah. Jangan lupa bahwa yang terpenting bukan mencapai puncak tertinggi tapi memelihara sikap rendah hati dan terus mawas diri. Karena pada akhirnya, semua orang akan menuju sebuah titik hilang, meninggalkan semua kemewahan dan kembali menuju ‘dekapan’ tuhan bersama amal dan tabungan kebaikan sebagai satu-satunya teman.
Bandung, 300618
















