Bully Dari Orang Tua dan Bully yang Menjadi Lumrah. Bagaimana Ya?
Bully, apasih yang kalian ketahui tentang kata tersebut? Ya, kata ‘bully’ itu sendiri adalah kata dari bahasa Inggris yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah menggertak atau mengganggu. Istilah yang sangat dekat dengan bully adalah penindasan, pengucilan, atau bisa juga intimidasi.
Tak perlu jauh melihat dunia luar, saya sendiripun mengalaminya. Saya berada dalam lingkungan bully itu sendiri. Bukan, saya bukan yang terbully namun saya memiliki teman yang menjadi korban bully itu sendiri. Cukup sulit untuk meminta mereka angkat bicara, saya baru mengetahui betul bagaimana perasaan mereka setelah saya bertanya tentang apa itu ‘bully’.
Bully, apasih itu?
Menurut narasumber pertama, bully yang ia ketahui adalah bully yang bukan hanya kekerasan fisik, tetapi bully yang menganggu psikologis kita, sehingga kita sendiri menjadi semakin penakut, bisa jadi sampai mencapai tingkatan depresi.
Berbeda dengan narasumber pertama, narasumber kedua beropini bully adalah suatu kejadian dimana diri kita merasa telah direndahkan oleh seseorang atau pihak tertentu yang membuat korban bully merasa tidak nyaman. Dari pemaparan mereka tersebut, sangat jelas terlihat bagaimana korban dari bully. Mereka sangat tertekan pastinya.
Lalu siapakah mereka yang membully?
Menurut mereka, mereka dibully oleh banyak pihak namun yang paling sering adalah
1. Dari pihak orang tua. Terkadang anak merasa sangat terintimidasi oleh orang tuanya sendiri, karena gaya pola asuh dari setiap orang tua berbeda, maka ada saja yang mengeluhkan mereka dibully oleh orang tua mereka sendiri. Sebagai contoh, terkadang orang tua suka membandingkan terhadap anak A dengan anak mereka sendiri.
2. Dari pihak senior kelas/kampus atau juga teman. Dalam lingkup inilah yang marak terjadi, bisa dikatakan jika pembullyan memanglah banyak yang berasal dari sini. Karena ada saja yang membuat sang pembully membully korbannya.
Kenapa bisa terjadi?
Pernahkah dipikiran kalian terlintas “kok bisa ya mereka dibully?”
Maka inilah jawaban yang membuat saya sendiri menjadi berpikir, sepertinya saya jugalah yang membully mereka. Dan dikalangan teman, juga sangat banyak terjadi pembullyan. Alih – alih bercanda, namum diri yang dalam topik bercanda ini tak menyukai apa yang ditertawakan. Konteks yang dijadikan bahan bercanda pun terlampau jauh, misalkan yang ditertawakan adalah karena ia tidak bisa melakukan sesuatu. Dan itu terus diperbincangkan, ditertawakan, dibuat bahan olok – olok. Dan yang menjadi bahan tertawaan itu tak berani mengungkapkan rasa tidak nyaman yang ada di hatinya. Teman yang membuat bahan candaan itu banyak, namun yang ditertawakan satu. Apalagi dia orang yang pemalu, habis sudah dia. “iya, mereka seperti itu adalah karena aku yang diam saja jika dibully, dan lama kelamaan mereka jadi terus menerus membuat bahan candaan dari apa yang aku lakukan. Mereka makin berani karena aku yang penakut”. Papar salah satu nara sumber.
Jelas sekali disini penindasannya, dan saya berpikir disini saya juga ikut andil. Saya pun sering ikut serta bercanda dengan teman – teman sekelas, termasuk bercanda dalam konteks – konteks yang konyol. Saya juga pernah menertawakan teman, saya tidak merasa bahwa itu bisa saja termasuk kedalam pembullyan. Karena saya tidak tahu isi hati teman yang saya tertawakan. Ini juga yang terjadi pada oknum – oknum pembully. Kita tidak mengetahui apakah teman yang kita tertawakan itu sakit hati atau tidak, kita berpikir bahwa itu bercanda walau tanpa tahu teman yang terbully tersebut merasa direndahkan.
Inilah yang tak akan terlupa oleh mereka yang terbully.
Jika kita tilik kembali, pembullyan berasal dari orang tua itu memanglah ada, dan ini marak ketika pembagian rapot berlangsung di sekolah – sekolah. Menurut narasumber kedua, ia dibully oleh orang tuanya sendiri ketika pembagian rapot usai. Dimana sang orang tua membandingkan dirinya dengan anak yang mendapat peringkat lebih darinya.
Berbeda hal dengan narasumber pertama, ia secara rinci menceritakan apa yang membekas di dalam hatinya tentang bully. “Ada satu kejadian dimana aku meminjam buku catatan temanku, lalu pada saat waktunya mengumpul buku tersebut aku lupa membawa bukunya. Bukunya tertinggal dirumahku. Dia yang kupinjam bukunya marah tak terkira, karena memang guru pelajaran waktu itu sangat terkenal tegasnya. Dan aku berakhir di luar kelas karena di hukum oleh guru itu, tetapi dia tidak. Kuanggap itu angin lalu, namun kejadian ini terus berlanjut hingga di grup kelas kami. Dia terus menerus meminta mengembalikan bukunya lewat pesan di grup, alhasil teman – teman sekelasku juga berkomentar pedas. Dari sanalah mulai banyak bermunculan cacian - caian untuk diriku. Aku kelu, dan tak terasa bulir – bulir air mata merambah turun, aku menangisi cacian mereka terhadapku. Itu yang membekas dalam dihatiku”
Jika bully sudah menjadi bahan bercanda, maka tidak ada lagi tawa sehat yang tercipta.
�X4�=
















