Seperti biasa, (hampir) tiap malam melalui telegram kami chatting ngalor ngidul. tapi biasa juga ada yang berfaedah, nyisip-nyisip di antaranya haha. nah kemarin malam setelah panjang kali lebar ngalor ngidul, kemudian tiba-tiba temen gila ku ini bilang “Kamu cocok deh ke Jepang”
Dia lalu bercerita tentang dua tahun lalu waktu dia liburan ke Jepang. berencana sholat Jumat di Kyoto, salah satu Mesjid kecil. karena salah naik kereta akhirnya telat sampai dan tidak dapat Jumatan. Karena sudah agak sore, jadinya ketemu ibu-ibu seorang mualaf. Ibu itu dari daerah yang jauh dari Kyoto. Datang ke mesjid itu untuk belajar ngaji setiap hari Jumat. Namun hari itu gurunya tidak ada, sering seperti itu. Kalo pas dapat guru, Ibu itu akan senang sekali.
Cerita itu cukup menampar bagi kami. Lalu saya nanya, gimana caranya untuk jadi volunteer di sana?. Dia pun tertarik dan kami putuskan untuk ke Konsuler Jepang. Berharap akan dapat info dari sana.
Tadi siang selepas sholat dhuhur, Dia menjemputku di rumah. Karena saya lagi cuti dan dia rela kabur di jam kantor untuk ini haha.
Kurasa ini ide tergila yang kami lakukan. Baru juga nyeletuk tadi malam, eh esok siang udah ada di ruangan konsuler jepang haha.
Baru masuk ke area parkir, kami ditanya tujuannya ke mana. kami jawab ke konsuler jepang. sampe di pintu masuk gedung, ditanya lagi. bingung sih jelasinnya. ya kami bilang saja, kami sedang cari program volunteer, cari info gimana caranya supaya bisa ke jepang haha. disuruh titip kartu SIM dan dipersilahkan naik ke lantai 7.
sampe di lantai 7, ruangan konsuler jepang ditanya lagi sama satpamnya. satpam bingung, kami juga bingung haha. melewati metal detector, lepas jam tangan, hp, tas dan barang elektronik lainnya. semuanya masuk di dalam loker, kecuali jam tangan boleh dipakai kembali.
sepiii banget, gak ada tamu selain kami. tapi satpam yang berjaga ada tiga orang. sepertinya kami tamu pertama di hari ini karena begitu kami duduk, satpam lalu menyalakan tivi untuk kami nonton sambil menunggu panggilan staf dari balik loket.
setelah sekian menit, akhirnya kami dipanggil. ditanyain mau apa, yaudah kami gagu bingung lagi dan saling pandang haha. akhirnya kami jelaskan bahwa kami sedang mencari info jalur masuk ke Jepang. Ternyata selama pandemi tidak membuka program magang yang kurang dari 90 hari. Yang dibolehkan masuk Jepang adalah yang penduduk asli sana, yang punya pasangan asli Jepang.
Di konsuler Jepang pun hanya melayani pengurusan visa. Mereka tidak tahu menahu tentang program volunteering atau sejenisnya. Kami diarahkan untuk membaca brosur mereka yang sudah terpajang di depan loket atau mencari dari sumber lainnya.
Setelah konsultasi singkat tersebut, kami kembali duduk sambil mengambil beberapa brosur. Brosurnya mostly pake bahasa Jepang haha. Setelah baca-baca beberapa brosur, kami pun meninggalkan ruangan.
Sempet mampir ke Konsuler Australia karena letaknya bersebelahan. Kami tanyakan informasi serupa, lalu kami diarahkan untuk mengakses website yang tertulis di depan pintu. hem~
Kami lalu turun ke parkiran, ngobrol bentar di mobil. Biasalah, ngalor ngidul haha hihi yang semoga mengandung sedikit faedah. HAHA
Oh iya, kenapa judulnya Tokyo Marathon? Karena pembahasan ini diawali dari kalimat dia kemarin siang yang katanya ngantuk tapi ga bisa tidur, padahal punya target bisa ikut Tokyo Marathon suatu saat nanti jadi harus mulai program lari untuk persiapan.
jadi mari mulai membayangkan kejadian hari itu, dia ke Jepang untuk ikut tokyo marathon dan saya jadi guru ngaji di Kyoto. Aamiin :’)