"Kita tidak suka berunding dengan siapa saja sebelum kemerdekaan tercapai 100% dan lautan kita dengan beres. Jangan kira kalau rakyat tidak mengerti diplomasi. Kita tidak suka berunding selama musuh masih dalam negeri kita. Selama masih ada 1 kapal musuh, kita harus terus berontak," setidaknya itu ucapan yang pernah keluar dari mulut seseorang yang biasa kita dengar dengan sebutan Tan Malaka itu dikutip dari harian Merdeka, 11 Januari 1946. Di samping itu Tan masa hidupnya tampak seperti seorang revolusioner kesepian, tanpa keluarga, tanpa pasangan, tanpa rumah. Takdir Tan Malaka tampaknya digariskan berjuang bagi Indonesia dari balik tabir. Begitu muncul ke permukaan, saat itu juga ia mengalami banyak kesulitan. Bisa jadi karena ide-ide perjuangannya yang dinilai kelewat radikal, melampaui zamannya. Tan Malaka kerap mengambil jalan oposisi terhadap pemerintah yang bersikukuh mengambil jalan diplomasi.
Sikapnya ini dianggap menentang pemerintahan yang sah. Sjahrir merasa sangat kesulitan dengan agitasi di dalam negeri yang begitu hebat. Atas saran orang-orang di sekelilingnya, Sjahrir memutuskan agar Tan Malaka ditangkap. Sesudah Kongres Persatoean Perdjoeangan di Madiun pada bulan Maret 1946, Tan Malaka dan beberapa pengikutnya ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan Yogyakarta tanpa diadili. Bersamaan dengan meletusnya pemberontakan PKI di Madiun, Tan Malaka dibebaskan dari penjara Magelang. Beberapa hari kemudian ia bersama Soekarni mendirikan Partai Murba.
Tanggal 19 Desember 1948 Ibukota Rl Yogyakarta diduduki tentara Belanda dalam Agresi Militer Kedua. Soekarno-Hatta dan beberapa pemimpin Republik ditawan oleh Belanda. Jenderal Sudirman beserta tentaranya memutuskan melawan Belanda dengan cara bergerilya. Jalan ini juga ditempuh oleh Tan Malaka. Bersama sepasukan kecil tentara ia bergerilya ke pedalaman Jawa Timur. Tapi sungguh naas, karena dituduh melakukan agitasi dan menghasut rakyat, Tan Malaka tewas ditembak oleh sekelompok tentara lain yang dipimpin oleh Soekotjo. Menurut sejarawan yang bertahun-tahun meneliti kehidupan Tan Malaka, Harry A. Poeze, makam Tan Malaka ada di Desa Selopanggung, di lereng Gunung Wilis, Kediri.
Politik memang kemudian menenggelamkannya. Di Bukittinggi, nama Tan cuma didengar sayup-sayup. Ketika Harry Albert Poeze, sejarawan Belanda yang meneliti Tan sejak beberapa puluh tahun lalu, mendatangi Sekolah Menengah Atas 2 Bukittinggi, banyak guru-guru sekolah itu terkejut. Sebagian guru tak tahu Tan pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang dulu bernama Kweekschool (sekolah guru) itu pada 1907-1913. Sebagian lain justru tahu dari murid yang rajin berselancar di Internet. Mereka masih tak yakin, sampai kemudian Poeze datang. Poeze pun menemukan prasasti Engku Nawawi Sutan Makmur, guru Tan, tersembunyi di balik lemari sekolah.
Di sepanjang hidupnya, Tan telah menempuh pelbagai royan: dari masa akhir Perang Dunia I, revolusi Bolsyewik, hingga Perang Dunia II. Di kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia, lelaki kelahiran Pandam Gadang, Suliki, Kab.Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 ini merupakan tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).
Buku Naar de Republiek dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian itu telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemuda radikal Sayuti Melik, misalnya, mengenang bagaimana Bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal penting dari Buku Massa Actie. Waktu itu Bung Karno memimpin Klub Debat Bandung, salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantaran menyimpan buku terlarang ini. Tak aneh jika isi buku itu menjadi ilham dan dikutip Bung Karno dalam pleidoinya, Indonesia Menggugat.
W.R. Supratman pun telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukkan kalimat "Indonesia tanah tumpah darahku" ke dalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari Massa Actie, pada bab bertajuk "Khayal Seorang Revolusioner". Di situ Tan antara lain menulis, "Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri.... Kewajiban seorang yang tahu kewajiban putra tumpah darahnya."
Di seputar Proklamasi, Tan menorehkan perannya yang penting. Ia menggerakkan para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), 19 September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan "masih sebatas catatan di atas kertas". Tan menulis aksi itu "uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan". Setelah rapat ini, perlawanan terhadap Jepang kian berani dan gencar.
Kehadiran Tan di Lapangan Ikada menjadi cerita menarik tersendiri. Poeze bertahun-tahun mencari bukti kehadiran Tan itu. Sahabat-sahabat Tan, seperti Sayuti Melik, bekas Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo, dan mantan Wakil Presiden Adam Malik, telah memberikan kesaksian. Tapi kesaksian itu harus didukung bukti visual. Dokumen foto peristiwa itu tak banyak. Memang ada rekaman film dari Berita Film Indonesia. Namun mencari seorang Tan di tengah kerumunan sekitar 200 ribu orang dari berbagai daerah bukan perkara mudah.
Poeze mengambil jalan berputar. Ia menghimpun semua ciri khas Tan dengan mencari dokumen di delapan dari 11 negara yang pernah didatangi Tan. Tan, misalnya, selalu memakai topi perkebunan sejak melarikan diri di Filipina (1925-1927). Ia cuma membawa paling banyak dua setel pakaian. Dan sejak keterlibatannya dalam gerakan buruh di Bayah, Banten, pada 1940-an, ia selalu memakai celana selutut. Ia juga selalu duduk menghadap jendela setiap kali berkunjung ke sebuah rumah. Ini untuk mengantisipasi jika polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, atau Amerika tiba-tiba datang menggerebek. Ia memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer-dua kali jarak yang ditempuh Che Guevara di Amerika Latin. — in Indonesia.