Sugeng siyang,
Selamat siang,
Sejenak terbesit di kepala saya mengenai kejadian khas di Indonesia ketika Ramadan mulai tiba. Mendadak media sosial ramai dengan perdebatan tutupnya warung, berita sweeping hiburan malam oleh ormas, penerapan Perda tertentu selama bulan Ramadan, dan anjuran agar masyarakat senantiasa menghormati kaum muslimin yang sedang menjalankan ibadah puasa. Ketika saya masih berumur tujuh tahun, terdapat anjuran agar menghormati orang yang sedang berpuasa pada buku pelajaran, ceramah, dan kultum subuh. Hal-hal tersebutlah yang selalu membuat saya menahan kesal justru ketika berpuasa pada bulan Ramadan dan saya pun mulai bertanya, “Apakah kita benar-benar berpuasa?”
Namun, semua itu berubah ketika pemerintah menyatakan Coronavirus (Covid-19) sebagai pandemik serta mulai menerapkan protokol kesehatan pada masyarakat. Puasa tahun ini tidak lagi disambut dengan penuhnya jamaah tarawih di masjid, tidak ada lagi lantunan tadarus Al-Quran dari masjid, tidak ada lagi pengajian yang melibatkan banyak jamaah, tidak ada lagi pembagian takjil secara massif, tidak ada lagi sweeping mengenai hal-hal yang dianggap mengganggu kekhusyukan dalam berpuasa, tidak ada lagi pusat perbelanjaan yang penuh sesak karena mempersiapkan kebutuhan konsumsi. Pemerintah telah memberi anjuran dan arahan agar segala bentuk ibadah selama bulan Ramadan dilaksanakan di rumah tanpa melibatkan banyak orang sebagai bentuk pencegahan wabah Covid-19.
Ramadan kali ini justru dipenuhi banyaknya orang yang membutuhkan uluran tangan kita sebagai bentuk empati dan solidaritas. Banyak karyawan yang bekerja dari rumah (bagi yang beruntung), dirumahkan, atau bahkan di-PHK, banyak usaha yang tutup karena biaya produksi tinggi, pusat perbelanjaan ditutup untuk menghindari kontak dengan banyak orang, siswa harus belajar dari rumah, pencari nafkah yang bukan karyawan kantor pun susah untuk mencari sesuap nasi demi keluarganya. Terkait dengan situasi tersebut, saya berpikir mungkin Allah sedang menunjukkan kuasaNya dengan menampakkan keadaan ini agar kita benar-benar berpuasa, berpuasa atas lapar kita, berpuasa atas obsesi dan keinginan kita, berpuasa atas kekuasaan kita, berpuasa dari kesombongan kita di dunia, berpuasa dari segala kegiatan duniawi dan konsumtif kita selama bulan Ramadan ini.
Namun, bagi saya, justru inilah momentum kita untuk menunjukkan seberapa tawaddu’-nya kita kepada Allah. Memang, jika kita berani dan sudah berniat menjalankan puasa, tentu kita harus menjalankan dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya atas dasar niat lillahita’ala. Tidak ada lagi nafsu ingin sweeping, tidak ada lagi nafsu untuk berbuka puasa dengan mewah, tidak ada lagi nafsu untuk berbelanja secara berlebih, tidak ada nafsu ingin dihormati, dan tidak ada lagi nafsu ingin merusak. Justru ketika orang yang tidak berpuasa bisa menjalankan aktivitasnya dengan normal tanpa adanya intervensi ataupun gangguan, berarti kita telah berpuasa.
Berikut merupakan sekelumit celotehan mengenai puasa:
“Pasa iku niat ingsun karana Allah, ora arep sing liyané, ora pathèken wong liya ngerti apa ora, ora peduli kabèh iku, sing penting kéné pasa.”
Sekian dan terima kasih,
Matur nuwun,