Hi Cantik
Spesial untuk yg cantik
Bicara soal cantik, pasti identik sama perempuan, bukan laki-laki. Buat gue pribadi cantik enggak akan pernah punya definisi. Sekalipun di kbbi ada kata itu. Saat cantik itu sendiri punya definisi, relativitasnya akan dipertanyakan.
"Cantik itu relatif!"
Sering kan denger orang bilang begitu. Gue pribadi sepakat. Karena ya begitu adanya. Cantik, balik ke preference orang yg menilai itu. Enggak bisa sama. Banyak faktor yg akhirnya mempengaruhi preferensi seseorang saat menilai kecantikan orang yg lainnya. Entah populasi mayoritas, propaganda iklan, bahkan pendapat pribadi.
Kita ambil contoh :
Di Indonesia, kebanyakan kulit kita sawo mateng atau kuning langsat. Jadi wajar, ketika kita ngeliat orang yg satu tanah air kita tapi kulitnya putih, lalu kita sebut dia cantik.
Di Inggris atau Amerika, atau negara-negara yg orangnya bule-bule dan rambutnya blonde-blonde, harusnya bukan yg aneh juga, ketika mereka usaha buat tanning dan suka sama kulit sawo mateng kaya orang indonesia. Buat mereka itu cantik.
Di Korea, mata mereka cenderung sipit, dan enggak ada garis di bagian kelopak mata atasnya saat mereka melek. Makanya mereka suka sama mata kaya orang indonesia, pas melek ada garisnya di kelopak mata atas (fyi gue gatau namanya apa wkwkwk). Bagi mereka itu cantik.
Beda kan? Berangkat dari sini kenapa gue katakan bahwa beauty is undefined.
"Kenapa sih semua orang menganggap kalo cantik itu kulit putih, mata belo, badan langsing, paha kecil? Orang yg close minded pasti gitu"
Kata siapa? Kata sebagian orang mungkin iya. Belum tentu sebagian orang yg lain. Atau mungkin menurut lo cantik itu ya begitu kali? Hehehe.
"Faktanya gitu, orang indonesia standar cantiknya pasti gitu, gimana orang enggak insecure coba!"
Bicara soal standar cantik, balik lagi ke preference yg sebelumnya sudah dibahas. Faktor mayoritas juga bisa mempengaruhi preferensi seseorang (terlepas dr faktor yg lain ya). Mayoritas kulit kita sawo matang, makanya jadi bahagia liat orang yg kulitnya putih, pokoknya yg putih cantik deh. Padahal belum tentu orang dr wilayah lain bisa beranggapan sama, contoh yg tadi gue sebut sedikit. Karena preference nya beda. Kita melihat mereka, mereka melihat kita. Ya gitu aja terus. Lalu kapan coba untuk liat diri sendirinya yg padahal dikagumi sama orang diluar wilayah kita sendiri? Wajar kalo insecure terus-terusan, bisa jadi ternyata kita yg close minded, bukan orang lain yg close minded. Mainnya kurang jauh kalo kata anak sekarang.
Bahkan IMO, standar cantik yg bangun juga bukan sepenuhnya lingkungan. Tapi, diri kita sendiri pun ikut andil untuk mengamini, kita yg juga sepakat untuk mendefinisikan bahwa cantik itu kulit putih, mata belo, perut langsing, badan tinggi, dll. Lalu mulai berupaya untuk menjadi cantik, saat tidak dianggap, kekecewaan datang menghantui dan menyalahkan hal-hal diluar diri yg tidak adil menilai siapa yg cantik. Kalau begitu diri kita sendiri pun engga fair dalan menilai cantik, kenapa yg dianggap cantik hanya seperti definisi itu saja? Padahal cantik pun ga menuntut untuk diartikan demikian. Double standar nanti dia, katanya relatif tapi kok menuntut? Saat kita menilai kakak kelas cantik aja, belom tentu buat teman sebelah kita dia itu cantik juga, kan?
Oke, berarti enggak usah jauh-jauh dulu deh ya bicara iklan skin care or make-up yg sebenernya toxic juga. Balik lagi ke diri sendiri dulu bersedia atau enggak untuk melihat lebih luas lagi bahwa cantik tidak punya definisi pasti? Dia dinamis. Kalau masing-masing individu mulai tegas dengan dirinya sendiri. Semakin banyak juga individu yg akan mengerti satu sama lain. Essence of life is not only about physical.
Sampe kapan mau terus-terusan berkutat sama definisi cantik? dia itu gamau diterjemahin, tolong jangan lelah-lelah untuk menerjemahkan dia. Jati diri lo aja masih ngambang belom diterjemahin.
Lagipula percuma juga kan udah usaha lelah-lelah buat jadi cantik kaya yg lo definisakan tapi justru berbanding terbalik dengan kepercayaan diri lo, jadi kikuk. So, menurut gue better mengupayakan pede nya dulu yg dikedepankan. Pake sendal jepit ke mall aja kalo kita pede, akan asik diliatnya sama orang lain. Begitu juga dengan fisik, orang akan respect ketika lo respect sama diri lo sendiri.
No offense, gue berkata seperti ini bukan berarti rekomendasi biar kalian enggak merawat diri or melarang skin care an beraneka macam brand. Itu penting dan bagian cara kita merawat apa yg sudah dikasih. Tapi, jangan sampe tujuan kita merawat diri yg sudah di Anugerahi Sama Allah justru ilang, yg ada malah skin care-an dan make-up an biar cantik doang. Kalau untuk merawat diri bisa jadi kita bersyukur karena udah dikasih fisik yg sempurna lalu kita rawat dengan baik, tapi kalo tujuannya biar cantik, buat siapa? Kalo buat dilihat dan jadi perhatian orang, udah siap kecewa lagi?
Yuk, bangun cantik!
Sebelum menyalahkan hal-hal diluar kita, coba kita bercermin dulu sejenak.
Kalo kata film Imperfect (masih), daripada terus-terusan insecure, lebih baik banyakin bersyucure hehehe.













