Radiohead dan Sisa-Sisa Kebahagiaan
Untuk mengenang masa-masa indah di SMA, sebenarnya kita sebagai siswa biasa tak perlu banyak lagak sok selebriti. Bersolek bak supermodel hanya untuk buku tahunan sekolah─yang harga dan fungsinya tak bisa dinalar dengan akal sehat. Sekarang ayo berpikir sejenak. Kita semua pergi ke tempat paling fotogenik, berdandan semaksimal mungkin, dengan kosmetik tambahan (yang berarti pengeluaran tambahan), dan memboyong fotografer professional, hanya untuk... buku tahunan? Kenang-kenangan masa SMA? Ayolah kawan. Bukankah itu adalah tindakan narsistik? Ingin dipandang orang dengan wujud sempurna, dengan latar belakang sempurna? Apa masa-masa SMA kita sempurna? Tentu tidak. Apakah buku tahunan bergaya layaknya katalog Shopie Martin itu bisa merangkum emosi-emosi penting seperti rasa mengawang-awang jatuh cinta, rasa angkara murka dipermalukan guru di depan kelas, rasa panas melihat suporter voli sekolah lain bertindak cabul, atau rasa hangat persahabatan dikala ujian akhir semester? Tentu saja tidak. Lantas apa yang akan kita kenang? Mohon maaf sebelumnya. Tapi bagi saya, it’s just way too much.
Sebenarnya ada jalan lain untuk merasakan romantisme kangen masa-masa SMA dengan maksimal. Yaitu dengan musik. Lagu atau album tertentu yang bisa membawa pendengarnya melayang ke ingatan baik/buruk dengan visualisasi sejelas-jelasnya.
Dan bagi saya, hanya ada satu album yang menjadi soundtrack masa SMA paling menyenangkan. Radiohead - The Bends.
Masih saya ingat dengan jelas. Semenjak saya kenal Radiohead di kelas 11, The Bends selalu jadi teman yang asyik untuk melewati hari-hari busuk ulangan beruntun, tugas proyek melelahkan, tes olahraga, ujian semester, dan lain-lain. Secara tak langsung berbagai perasaan di berbagai situasi terangkum jelas di keduabelas lagunya. Baik secara bebunyian maupun lirik. Misal, perasaan semangat untuk melakukan apapun di nomor ‘The Bends’ dan ‘High and Dry’. Perasaah nggak habis pikir dengan nilai ulangan yang tak kunjung membaik di ‘My Iron Lung’ dan ‘Planet Telex’. Perasaan suntuk tingkat dewa menghadapi remedial matematika di pagi buta ketika malamnya menggarap tugas rekayasa lewat ’Just’. Atau perasaan pasrah akan masa depan di nomor ‘Bullet Proof...I Wish I Was’ dan ‘Street Spirit (Fade Out)’. Dan jangan lupakan lagu paling muram, paling depresif, dan paling bikin nangis. Signature album The Bends berjudul ‘Fake Plastic Trees’ yang sukses besar membuat saya hilang arah berminggu-minggu pasca ditolak seleksi SNMPTN. Special mention pada riff gitar indah dan suara melengking Thom Yorke di ‘Black Star’ yang selalu saja mengingatkan saya pada sore hari di Perempatan Kasri, menunggu angkot tengik Pandaan-Tretes berangkat. Kemilau cahaya jingga matahari, raung mesin kendaraan bermotor, batagor Kasri, Mbak-mbak penjaga toko gitar, dan pemandangan Warnet Friendship yang perlahan mengosongkan diri.
The Bends sudah menjadi artefak kenangan masa SMA yang depresif dan melelahkan sekaligus indah dan tak terlupakan. Mungkin saya tak akan bisa move on dari The Bends yang berarti saya tak akan bisa melupakan kenangan-kenangan indah di SMA. Atau mungkin The Bends bisa membuat sebuah insepsi di otak saya. Bahwa masa-masa ini hanya berlangsung sekali seumur hidup. Hanya di SMAN 1 Pandaan. Dan mengulangi masa-masa indah tersebut akan jadi utopia yang mustahil tercapai tanpa mesin waktu doraemon.
Post scriptum: Kapan hari yang lalu saat cap 3 jari ijazah di SMA, saya lakukan kebiasaan saya dulu. Berangkat sekolah mendengarkan ‘The Bends’ dan pulang sekolah di angkot mendengarkan ‘Black Star’. Ternyata tidak bisa menciptakan perasaan yang sama ketika saya melakukannya saat masih SMA. Mungkin The Bends sudah berhasil menanamkan insepsinya ke otak saya. Dan masa-masa SMA sudah resmi menjadi artefak sejarah yang sangat berarti buat saya. Bye bye Smanda!
Perempatan Kasri di 2015













