Serial Tumbuh Kembang #4: Tes Darah dan Antibiotik
Tes darah, kejadian yang tidak umum (di keluarga saya, khususnya). Sepertinya saya sedari kecil tidak pernah melakukan tes darah khusus untuk mengetahui suatu penyakit, paling waktu SD pas belajar tentang golongan darah.
Tapi, di Jogja, kami bertemu dengan DSA2 (lebih dari 1 Dokter Spesialis Anak), yang menyarankan untuk tes darah jika mengalami demam lebih dari 3 hari. Kenapa? Supaya tau obat yang tepat. Kalau sakitnya karena virus berarti tidak perlu antibiotik, kalau sakitnya karena bakteri baru diberi antibiotik.
Tidak ujug2.
Tapi tidak heran, di kampung kami, setiap sakit sedikit lalu pergi ke dokter umum, hampir pasti ada resep antibiotik. Padahal antibiotik tidak dibutuhkan kalau sakitnya bukan disebabkan adanya bakteri atau infeksi. Padahal antibiotik itu harus dihabiskan, jika tidak dihabiskan maka bisa menyebabkan resistensi obat.
Namun, di masyarakat kita sepertinya cenderung lebih nyaman saat diberi antibiotik daripada harus menjalani tes darah. Terlebih ketika yang sakit adalah anak2. Kasian katanya. Masih kecil kok diambil darahnya. Padahal dari tes darah kita jadi tau apa penyebab sakit yang sebenarnya. Kita jadi tau bahwa kita sedang kekurangan zat besi, misalnya. Kita jadi tau langkah apa yang seharunya diambil. Tepat, sesuai sasarannya.
Tapi memang tidak bisa dipungkiri, rasa sedih dan kasihan itu pasti ada saat melihat anak kita menjalani tes darah. Tapi gapapa, yang penting bisa segera diketahui penyebab penyakit yang sebenarnya kan. Setelah selesai tes darah jangan lupa berikan pelukan dan validasi perasaan anak.. insyaAllah rasa sakitnya akan segera hilang.
Semoga Allah memberikan kita kelapangan dan kemampuan untuk memahami dan mempelajari banyak hal baru di sekitar kita. Semangat belajar di manapun berada!












