Catatan Kajian Kepemimpinan (2/4)
Catatan sejarah dari Abu Syammah (596-665 H) yang lahir 7 tahun setelah Shalahuddin wafat, orang orang di masa itu seperti orang yang hidup di masa jahiliyyah.
Masyarakat seperti orang yang hanya sibuk dengan perut dan kemaluannya. Tidak mempunyai kepedulian untuk menyebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Titik fokus kesibukannya bukan amar makruf nahi mungkar. Secara umum seperti itulah kondisi masyarakat yang tergambar, meskipun masih ada pribadi-pribadi yang lurus. Kondisi itulah yang menjadi celah besar masuknya Pasukan Salib menjajah Al Aqsha.
Krisis umat bukan disebabkan karena kekurangan atas individu yang hebat. Apakah di masa keterpurukan umat itu tidak ada ulama atau tokoh yang hebat? Jelas ada, bahkan tidak hanya satu-dua orang. (Al Khatib, Al Baghdadi, Al Mawardi). Tapi keberadaan individu yang hebat dibidang apapun tidak dapat menghambat kemerosotan umat.
Persoalan yang mendasarnya ialah tidak terhubungnya unsur dari  jaringan interaksi sosial. Unsur masyarakat ialah pemikiran, sumber daya manusia, kemudian materi.
Yang penting ialah tiga unsur ini harus terhubung secara seimbang dalam takaran sunatullah, yang mana ketika tiga unsur ini terhubung maka mampu menciptakan masyarakat yang dahsyat.
Pemikiran ialah kunci sukses dari gerak sosial yang dibentuk oleh Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya sekedar mentahfizhkan Al Quran, ketika beliau wafat tidak banyak sahabat yang hafal Al Quran secara penuh, hanya terbatas beberapa orang.
Namun beliau SAW mengajarkan Al Quran sebagai ilmu dan hikmah (terapan), artinya Al Quran itu diajarkan sebagai ilmu sehingga para sahabat faham akan maksud dan tujuan dari Al Quran dan juga faham bagaimana diterapkan dari kaidah-kaidah yang diajarkan kemudian dikembangkan sebagai ijtihad atau inisiasi dari para sahabat.
Para sahabat selama 32 tahun digembleng oleh Rasulullah dengan Al Quran. Semisal periode Makkah, ada sekitar 86 surat yang diajarkan selama 13 tahun sehingga para Sahabat terlebih Muhajirin memiliki keunggulan dan kelebihannya, terlebih pendalaman jiwanya terhadap Al Quran sehingga mereka menjadi orang yang kaya akan gagasan. Gagasan itulah yang menjadi sumbu roda dari sdm atau materi yang dimiliki.
Seperti Utsman bin Affan yang memiliki harta kekayaan, semuanya dierahkan untuk li I’la kalimatillah karena pemahaman yang mendalam itu. Ketika situasi ekonomi sedang sulit, Utsman rela melepas aset hartanya yang jika dikonversikan senilai milyaran untuk wakaf sumur.










