Hari ini, kembali melakukan selebrasi. Satu tahun sekali, berkontemplasi bersama sekaratnya nurani yang ditinggal pergi.
Selamat untuk nurani yang hingga hari ini masih mau diajak berkompromi. Aku ingat betul, tiga tahun terakhir kamu dihajar habisa-habisan oleh memori tentang seorang anak perempuan. Tanpa basa-basi, tanpa permisi, tanpa maaf, tanpa terima kasih. Aku tahu, masih sangat banyak pertanyaan yang muncul dari dalam dirimu hinggal hari ini. Masih ada rasa bersalah serta tidak terima karena dicurangi. Sadarkah kamu selama ini, nurani?
Kamu memang paling hebat dalam bicara “Aku bisa melakukan semuanya sendiri, aku tidak butuh orang lain.” Tapi sadarkah kamu bahwa sikapmu itu selalu saja mengandalkan logika berpikir? Sadarkah bahwa hari ini kamu sedang sekarat? Sadarkah bahwa kamu sedang sakit? Sadarkah bahwa kamu memang lemah? Sadarkah bahwa kamu memang hancur? Sadarkah bahwa kamu tidak seperti apa yang kamu bayangkan dan katakan?
Selama ini kamu sangat mahir menutup diri hanya karena ingin terlihat lebih kuat dari pada yang lain. Kamu yang berwawasan, kamu yang bisa memahami karakter seseorang, kamu yang pintar menguatkan seseorang, kamu yang pandai bertutur kata, kamu yang selalu tampil mengesankan. Kamu selalu bersembunyi dibalik semua mahakaryamu. Seperti pisau bermata dua, sampai kapan kamu mau bersembunyi serta berkompromi untuk membahagiakan sekitar, sementara di sisi lain kamu hanya memperburuk kesehatan baik fisik atau mentalmu.
Jarang sekali aku temui untukmu bersuara sedikit saja. Karena kamu selalu mengemban semuanya sendirian, tidak ada seorangpun untuk diajak bercakap, kamu memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu untuk melakukan apa yang kamu mau, nurani. Sekarang, waktunya sudah habis. Kamu terlihat bingung dan tidak melakukan apa-apa. Bahkan kamu tidak tahu apa yang kamu mau. Kamu lupa bagaimana rasanya menginginkan seuatu hingga putus asa. Kamu lupa rasanya mengejar sesuatu, mempunyai cita-cita, memiliki tekad. Yang terpenting, kamu lupa caranya membakar semangat hidupmu lagi.
Bertahun-tahun lalu, kamu tidak seperti ini, nurani. Kamu tahu betul di mana kamu akan berdiri lima tahun dari sekarang. Bahkan kamu tahu di mana kamu harus berdiri besok. Kamu selalu memiliki rencana yang menakjubkan serta cara yang unik untuk mencapainya. Kamu selalu mendambakan ladang terbuka yang indah, meninggikan eksplorasi, dan kegembiraan hidup. Kamu yang selalu berlari bebas, mendobrak batas-batas, serta memberontak buas. Tapi sejak kejadian tiga tahun lalu, kamu telah berhasil membangun kandang yang begitu kuat. Kamu berhasil memperlakukan dirimu selayaknya binatang, nurani.
Percayalah, bukan kesedihan yang membawamu pada titik ini, tapi perasaan ketika kamu tidak dapat menemukan kata-kata untuk menggambarkan semua yang merayap pada setiap larut malam selama bertahun-tahun. Ketika kamu sendiri di dalam gelap dan tidak ada yang lain selain kehampaan serta keheningan. Kamu selalu ada di dalam perjalanan, nurani. Kamu lupa, bahkan kamu tidak ingat ke mana kamu harus pulang karena setelah kejadian tempo hari tiga tahun lalu, kamu merasa kehilangan rumahmu. Ingatkah kamu, nurani? Kita selalu berbicara tentang rumah adalah tempat di mana kamu diinginkan dan dibutuhkan. Maka, pulanglah pada seseorang yang menginginkan serta membutuhkanmu.
Aku tahu betul, hari ini kamu sangat merindukan anak perempuan itu, nurani. Itu adalah hal yang wajar. Mengapa kamu selalu menolak perasaan itu? Biarkan hidup mengambil tanganmu serta membimbingmu sepanjang jalan dengan jemari yang menyilang serta percaya bahwa kamu akan menemukan sesuatu yang indah di perjalanan.
Matahari sebentar lagi terbenam, kamu harus bergegas. Semoga kamu menemukan jalan ke malam di mana tidur adalah hal terakhir yang harus kamu pertimbangkan. Semoga kamu berjalan melalui lampu-lampu tua yang yang usang dan mendapatkan inspirasi dari warna-warna lampu itu. Semoga kamu menemukan keinginan untuk berbicara lagi, untuk tertawa lagi, dan semoga ini membawamu kembali menjadi diri sendiri.
Selamat ulang tahun, nurani.
Selamatkan dirimu sendiri.
Dari aku yang tidak tahan melihatmu sendiri.