Semakin aku bertambah usia, semakin orangtuaku menua, kurasakan bahwa kami makin berhati-hati dalam menyampaikan hal-hal yang berkecamuk dalam pikiran, kesulitan-kesulitan, juga menyikapi perbedaan-perbedaan atas pilihan dalam menjalani kehidupan. Ada hal-hal yang kini tak mudah untuk diutarakan. Mungkin karena aku telah memiliki kehidupan sendiri, dengan segala permasalahannya. Mungkin karena kami takut membebani pikiran satu sama lain. Mungkin karena sama-sama tak ingin menimbulkan friksi yang akan merenggangkan hubungan.
Namun aku terkadang dapat menangkap "sesuatu" dari semburat air muka mereka.
"Papa udah seneng kok dapat sekian puluh ribu sehari. Yang penting bisa buat makan," kata Mama. Beliau bercerita tentang uang yang didapat Papa dari hasil mewarnai kerajinan bambu, salah satu usaha keluarga kami, yang mulanya adalah usaha sampinganku, lalu qodarullah justru menjadi wasilah bagi orangtuaku.
Aku memaksakan diri tersenyum, "Alhamdulillah. Yang penting cukup kan?"
"Iya cukup, Alhamdulillah," ujarnya.
Hatiku rasanya sesak. Di usia senjanya, mereka tak memiliki tabungan apa-apa di rekening. Namun, mereka tak pernah tampak susah di depan cucu-cucunya. Tiap anak-anakku datang, atau bahkan ketika mereka berkunjung ke rumah kami, pasti ada uang yang mereka rogoh untuk membeli jajanan untuk cucu-cucu. Dan aku melihat raut bahagia mereka dari kegembiraan anak-anakku tatkala menerimanya.
Mungkin itu yang disebut dengan hati yang kaya.
Aku anak pertama perempuan, yang mungkin telah mengecewakan hati mereka--meski mereka tak berucap apa pun. Aku melepas harapan-harapan mereka. Karir sebagai ASN, gaji dan tunjangan, serta proyeksi hak pensiun di masa depan. Semua telah kulepas menginjak tahun ke-10 ku mengabdi pada negara. Keputusan yang telah bulat dan telah kupikirkan sejak lama.
Meski orang berkata aku telah melakukan perniagaan yang terlampau mahal. Namun bagiku, karir dan dunia yang terbentang di hadapanku, adalah murah, dibanding hidayah yang harus diupayakan agar tetap terjaga dan bertambah. Bukankah Allah berjanji akan memberikan ganti yang lebih baik? Mudah-mudahan Allah mencatat niatku ikhlas semata-mata karena mengharap wajah-Nya.
Aku tahu mama khawatir ketika melihatku tak tampak sibuk mengerjakan pekerjaan paruh-waktu di depan komputer. Sudah beberapa bulan ini, aku memang berhenti menerima pekerjaan lepas. Kusadari, anak-anak butuh perhatian lebih banyak untuk pendidikannya, dan aku baru memulai pendidikan rumah tahun ajaran ini. Aku berharap, Allah akan memberikan kecukupan dengan sebab aku memilih menunaikan prioritas-prioritasku, amanah dari-Nya.
Aku berdoa, semoga Allah memudahkanku untuk dapat berbakti pada keduanya, dalam segala kondisi hidupku. Dan Allah berikan taufik dan ketakwaan pada orangtuaku.
Sebagai orangtua, janganlah terlampau berharap pada anak. Sebagai istri, janganlah terlampau berharap pada suami.
Kita harus terus menerus berbaik sangka akan kemurahan Ar-Rohim. Betapa bodoh manusia , ketika menyangka ketenangan itu datang karena kita dapat bersandar pada suami, pada anak, pada negara, pada perusahaan, pada usaha kita yang mengalirkan profit dengan derasnya. Padahal tidak demikian. Ketenangan yang hakiki adalah hanya karena kita mengingat-Nya, sebagai satu-satunya tempat bersandar.
Aku tak pernah lupa akan sebuah nasihat dari Ustadz "Jangan berharap pada manusia karena engkau akan kecewa. Berharaplah pada Allah, niscaya Engkau tidak akan pernah kecewa."
Menulis sebagai renungan.