Kertas kosong. putih. bersih. belum ternodai goresan pensil sama sekali.
‘ayo sa, pikirkan, pikirkan, pikirkan. tugas ini gampang banget, kamu cuma tinggal tulis apa harapan-harapanmu.’
sudah satu setengah jam berlalu semenjak Bu Tika memberikan tugas pengganti kelas bahasa Indonesia dan pergi meninggalkan kelas. sembilan belas orang lainnya yang juga mendapatkan kertas yang sama seperti Sasa, terlihat asik menggoreskan pensil di atas kertas, menuliskan semua harapan-mereka dengan bersemangat. Sebaliknya, Sasa justru terlihat tertekan dengan tugas yang harus ia kerjakan itu. tangannya bergetar dan basah oleh keringat. bibirnya pucat dan terlihat putus asa.
Sasa bukan tipe anak yang intovert, ia sering menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. makan bersama, nonton bersama, bahkan menginap di rumah temannya sering ia lakukan. Tapi, satu hal yang tak pernah ia lakukan ke teman-temannya adalah menceritakan apa yang sedang bergejolak dalam dirinya. ia lebih memilih untuk menyimpannya sendiri, termasuk alasan mengapa tak ada satu katapun yang telah ia tuliskan di atas kertas “harapan”nya.
Lima belas menit lagi, bel pergantian pelajaran berbunyi. Sasa bertambah panik. Bukannya ia tak dapat menulis, namun tak ada yang dapat ia tulis.
“Harapanku adalah memiliki harapan.”