Pengaruh MEA terhadap perkembangan bisnis kuliner Skala UKM di Indonesia.
Seperti yang kita tahu, MEA atau yang Masyarakat Ekonomi Asean merupakan perjanjian perdagangan bebas antar negara - negara ASEAN. Perjanjian yang melintas batas dan negara dalam konteks perdagangan ini dalam realisasinya sudah terjadi pada akhir tahun 5 lalu.
Kesepakatan ini bertujuan meningkatkan daya saing negara-negara ASEAN yang merupakan kekuatan raksasa ekonomi ketiga terbesar setelah Tiongkok dan Jepang. ASEAN yang terdiri dari sepuluh negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Myanmar dan Laos, berupaya keras agar bisa menyaingi Tiongkok dan Jepang untuk menarik minat investor asing. Modal asing dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan di negara-negara ASEAN. Dalam cetak biru MEA, ada 12 sektor prioritas utama yang akan diintegrasikan. Tujuh di antaranya sektor barang yakni industri argo, peralatan elektronik, automotif, perikanan, industri karet, industri berbasis kayu dan tekstil. Sisanya lima sektor jasa yaitu transportasi udara, pelayanan kesehatan, pariwisata, logistik serta industri teknologi informasi atau e-ASEAN ( Tempo, 5-11 Mei 2014 ).
Baca Juga Peranan POS Software dalam bisnis UKM
Seperti yang kita tahu, selain sektor - sektor bisnis diatas, sektor kuliner juga merupakan sektor yang sangat potensial berkembang di era MEA nantinya. Daya beli masyarakat yang semakin bertambah dari hari ke hari. Tingginya perilaku konsumtif setiap individu dan semakin beragamnya jenis kuliner baru yang bermunculan setiap harinya, semakin menambah pesona bisnis di bidang kuliner ini. Kebanyakan para pelaku bisnis skala UKM tertarik untuk berbisnis di bidang kuliner ini. Selain berpotensi untuk berkembang ke depannya nanti, bisnis di bidang kuliner sangat di butuhkan hingga di masa masa mendatang karena berhubungan dengan makanan yang notabene merupakan kebutuhan pokok utama manusia. Bermunculannya aneka jenis makanan dan jajanan yang dikemas dengan bentuk yang artistik dan inovatif semakin menguatkan citra bisnis kuliner ini menjadi bisnis favorit yang nantinya, akan bersinar di era MEA pada tahun ini.
Baca Juga Peluang bisnis franchise kuliner tahun 2016
Begitu banyak peluang yang ada pada bisnis kuliner ini. Berbagai macam usaha dan Inovasi serta kreatifitas yang dihadirkan untuk mendongkrak bisnis ini agar sejajar dengan bidang bisnis lainnya juga di tempuh oleh mereka yang terlibat dalam arus bisnis bidang kuliner ini. Sebagai bisnis yang skala UKM yang menyediakan makanan, kecepatan dan pelayanan adalah tantangan yang harus dihadapi selain inovasi dan kreativitas makanan seperti yang disebutkan diatas. Desain dan cara penyajian juga memegang peranan penting dalam usaha kuliner. Bahkan, Restoran maupun kedai yang mempunyai konsep modern resto telah menerapkan teknologi untuk membantu perkembangan usaha kuliner mereka. Teknologi yang biasanya mereka terapkan adalah penggunaan mesin POS untuk mengatur kelancaran transaksi arus keuangan yang terjadi pada usaha tersebut. Ada baiknya kita juga mengaplikasikan teknologi lainnya seperti software restoran yang bernama E-Menu. Software E-Menu ini dirancang sebagai pengganti buku menu manual yang ada selama ini. Kekhawatiran akan kerusakan, warna yang pudar / kusam dan risiko hilang akan tergantikan dengan menggunakan aplikasi buku menu digital ini. Software E-Menu buatan Omegasoft ini mudah di operasikan dan bisa diterapkan oleh usaha kuliner skala UKM maupun usaha skala besar. untuk info selengkapnya, silahkan kunjungi www.omegasoft.co.id
Baca Juga Cara Sukses Membuka dan Menjalankan Usaha Kuliner
Ada banyak peluang yang nantinya terjadi pada era MEA di tahun 2016 ini. Tergantung bagaimana sikap dan cara kita berfikir dan bertindak menangkap semua peluang tersebut. Yang perlu di ingat, pada era MEA 2016 harus disikapi secara bijak, karena pada dasarnya tujuan MEA menguntungkan negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Selain dapat menciptakan ribuan lapangan pekerjaan baru, tentunya hal ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan 620 juta orang yang tinggal di Asia Tenggara. Artinya, dalam setiap 100 penduduk ASEAN, 38 di antaranya penduduk Indonesia. Negara-negara lain seperti Singapura dan Thailand tak memiliki kelebihan yang disebut sebagai bonus demografi ini. Diharapkan dengan jumlah penduduk produktif lebih besar akan ada lebih banyak tenaga kerja yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan perkapita penduduk Indonesia, sehingga di 2019 kita bisa menjadi negara middle income country, menghapus stigma seperti sekarang yang masih middle-lower income country. Kuncinya, Inovasi dan kreativitas dalam berbisnis, juga memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sebagai salah satu inovasi dalam meningkatkan revenue bisnis, khususnya bagi mereka pebinis skala UKM dan bidang usaha kuliner pada umumnya.











