tak ada cerita, pagi ini
Achmad sudah bilang sebulan sebelumnya bahwa ia akan resign. Kami mengangguk, lalu kembali bekerja seperti biasa.
Hari-hari setelahnya pun tidak berubah. Kami tetap ada sesi ngopi pagi dan setiap jam istirahat. Tetap debat bola. Tetap saling lempar meme politik. Tetap mengeluh soal atasan dengan nada setengah bercanda.
Rasanya seperti tidak ada yang akan benar-benar berakhir. Hari terakhirnya juga sederhana saja. Salaman, tertawa, lalu ia pergi. Aku kembali ke meja dan melanjutkan pekerjaan.
☆☆☆☆☆
Keesokan paginya, seperti biasa aku membuat kopi, lalu beranjak ke smoking area.
Di sana hanya ada Mas Agung dari RnD dan Pak Pur Engineering yang sedang asyik bercengkerama.
Aku masih berpikir Achmad belum datang, karena tadi saat lewat ruang Marketing kursinya masih kosong.
Sampai Pak Pur nyeletuk,
"Sepi ya, nggak ada Pak Achmad. Biasanya ada saja cerita dia kalau lagi di sini.”
Aku tersentak, tapi untung masih bisa kusembunyikan kekagetanku.
"Iya, ya Pak… sepi,” jawabku pelan.
Dan pagi itu semuanya baru terasa. Kehilangan itu benar-benar menjadi nyata.
Ternyata kemarin itu terakhir kami ngopi. Ternyata minggu lalu terakhir kami debat bola, saat Manchester United—tim favoritnya—tumbang di Old Trafford oleh tim papan bawah.
Ternyata semua yang biasa itu sudah selesai. Kepergian tidak terasa saat seseorang pamit.
Ia terasa sehari setelahnya—ketika tak ada dia di smoking area.





















