Hari Keempat - Muatan Lokal
Dua buku ini merupakan buku mata pelajaran muatan lokal sewaktu masih MI dulu. Muatan lokal berarti mata pelajaran ini hanya dipelajari di kawasan Sumatera Barat. Untuk Baca Tulis Arab Melayu (BTAM), aku sangat suka dengan mata pelajaran ini dulu. Sedangkan untuk Budaya Alam Minangkabau (BAM), rasanya ini adalah salah satu mata pelajaran yang paliiiiing aku hindari.
Bagaimana tidak? Aku tidak mengerti isinya. Susunan karib-kerabat di Minangkabau, petatah-petitih ala ninik mamak, pembagian warisan, dan lain-lain. Bahkan, waktu itu aku sama sekali tidak bisa bahasa Minang. Kalau diingat-ingat, dulu aku membaca buku ini dengan cara yang aneh, seperti orang yang tidak bisa berbahasa Minang pada umumnya. Yang paling terasa adalah jika ada 2 huruf vokal berdekatan, misalnya pada kata suluah, maka aku akan membacanya benar-benar su-lu-ah, dengan 3 suku kata. Padahal, seharusnya ia dibaca dengan 2 suku kata saja, yaitu su-luah. Ah, kalian yang bisa berbahasa Minang pasti paham maksudku.
Berkaca dari kedua buku ini, aku merasa bahwa kita cenderung antipati terhadap sesuatu yang belum kita ketahui. Sekarang, belasan tahun berlalu, saat aku membaca-baca kembali buku ini, aku mulai mengangguk-angguk seperti burung perkutut. Oooh, begini maksudnya.
Tak salah memang, tak kenal maka taaruf. #loh