Selesai
Masih begitu melekat diingatanku, hampir tiga tahun lalu. Kau, seseorang yang datang membawakan cahaya untukku ditengah keterpurukanku. Membantuku bangkit yang padahal kutau saat itu kau sendiri juga tak sedang baik-baik saja. Tak ku pungkiri, kau juga lah yang sudah membuat ku kembali ke jalanNya. Meskipun ku sadar penuh, niat ini tidaklah seharusnya ada. Terimakasih pula untuk kau yang sudah sempat menjadi teman bertumbuh ku.
Semuanya berjalan begitu indah, sebelum segala yang diluar prasangka ku datang. Saat itu aku hancur sehancur-hancur nya. Tapi aku pun sadar itu semua karena salah ku sudah berharap dan membangun ekspektasi terlalu jauh denganmu. Hingga tiba saatnya kau harus meninggalkan kota itu, yaa kota yang dari dulu sangat tak membuatku nyaman. Kau pergi begitu jauh, hingga seolah tak bisa lagi untuk tersentuh olehku.
Kupikir semua sudah usai sampai perpisahan itu. Namun ternyata kau kembali merajut tali yang sempat terkoyak oleh kekecewaan lalu. Dan bodohnya, aku kembali terjerambah didalam jebakan itu. Saling berkabar, bertukar cerita, dan seterusnya. Aku berpikir terlalu jauh saat itu. Aku berharap dan merayu Rabb ku untuk suatu hal yang baik menurutku.
Namun sekali lagi, manusia tidak pernah benar-benar tau apa yang terbaik untuknya. Harapan yang begitu tinggi, seketika tersadarkan oleh angin lembut nasihat teman kala itu. Yaa aku sadar, apa yang kita lakukan tidak lah dibenarkan, jalinan ukhwah yang tidak seharusnya, yang padahal hanya kedok dari sebuah dosa.
Saat itu tentu saja aku kembali bimbang, apa yang harus aku lakukan. Bertahan dengan segala resikonya atau berhenti dan meninggalkan segala yang memang tidak seharusnya. Pembenaran-pembenaran datang dipikiranku, bergelut dengan waktu hingga beberapa purnama.
Saat itu dengan sangat berat hati, dengan sangat kecewa, aku perlahan menjaga jarak denganmu. Sulit? Jangan ditanya!, berapa kali aku jatuh atau bahkan terpeleset kedalam jurang itu.
Hingga suatu hari, Allah begitu menyayangiku, Dia tunjukkan segala hal yang menguatkan tekadku. Ya.. ternyata segala yang kupikir telah usai nyatanya masih berlanjut. Bahkan mungkin lebih jauh dari yang kukira. Dahulu mungkin doa ku adalah bisa bersama mu. Tapi ternyata setelah kupikir kembali,
"Aku tidak mau menjadi perempuan yang rela menghabiskan sisa hidupnya dengan laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya, atau bahkan memang tidak berniat menyelesaikannya?"
Terimakasih sudah pernah menjadi kisah, terimakasih sudah pernah hadir, dan terimakasih sudah mau menjadi teman.
-Catatankisah
11'01'21















