Kerusuhan Poso, 22 Januari 2007 dan Kematian Opa Gam.
Nur Gam Simu, kami cucunya sering memanggil beliau dengan sebutan Opa Gam. Berkacamata, berambut tipis, postur tubuh yang tidak terlalu gagah tetapi tidak terlalu kecil juga, orang yang mudah tertawa, dan ramah. Sejak kecil saya tidak pernah kenal dengan keluarga kecil Opa Gam. Kata nenek Opa Gam berpisah dengan istrinya dan tidak memiliki anak. Mungkin karena itu Opa Gam sangat suka dengan anak-anak. Untuk sebutan Opa kayaknya Opa Gam sedikit lebih muda untuk panggilan itu yaa untuk seumurannya Opa Gam bisa dikatakan gaul pada zaman itu. Saya adalah cucu yang paling dekat dengan Opa Gam. Mungkin karena waktu itu saya cucu paling bungsu dikeluarga besar. Opa Gam sering sekali kasih uang seribuan ke saya makanya kalau Opa Gam kasih uang dengan nominal yang lain saya menolak dan merengek supaya diganti dengan uang seribuan, hal itu sering menimbulkan tawa semua keluarga. Tapi tetap saja, Opa Gam pemilik tawa yang paling saya suka.
Opa Gam meninggal 22 Januari 2007, hari itu adalah kerusuhan Poso yang terakhir. Dulu, waktu itu saya sekitar kelas 5 SD, pernah tanya ke Opa Gam, βOpa, Opa.. Opa Gam kerjanya apa?β β βOpa seorang Mujahid.β Begitu katanya. Waktu itu, mendengar jawaban Opa saya tidak bertanya lebih lagi, hanya bertanya dalam hati, βMujahid itu apa yaa? kerjanya dimana? Dikantor? Sekolah?β. Mungkin karena saya anak kecil dengan pemikiran sederhana jadi jawaban Opa Gam berlalu begitu saja. Sampai setelah kematian Opa Gam dan mendengar kakak bercerita banyak tentang Opa Gam, saya jadi tahu bahwa Opa Gam bekerja untuk membela kebenaran. Setidaknya untuk anak sekolah dasar saya bisa menyimpulkan seperti itu. Opa Gam orangnya rajin ibadah, saya juga tidak jarang mendapati Opa mengaji dengan suara kecil hampir tidak terdengar dikamarnya.
Beberapa minggu sebelum 22 Januari 2007, waktu itu keluarga sibuk mengurusi persiapan pernikahan salah satu adik mama. Opa Gam pergi ke Poso dijemput beberapa temannya. Saya tidak tahu alasan kenapa Opa Gam harus keluar kota saat semua orang sibuk dengan pernikahan, tetapi waktu itu saya masih ingat kekhawatiran semua keluarga terutama nenek, bagaimana nenek berkali-kali mengingatkan Opa untuk datang ke pernikahan adiknya mama, dan Opa Gam mengiyakan. Tetapi, duka menimpa seluruh keluarga. 22 Januari 2007, dengan hebatnya kabar meninggalnya Opa kami dengar dari salah satu kerabat yang masih bertahan di Poso. Opa Gam tertembak dalam kerusuhan dihari itu dan ada kemungkinan telah meninggal. Kabar itu kami terima setelah pesta pernikahan yang tidak dihadiri Opa gam. Sebelumnya kami sekeluarga sudah mendengar kalau di Poso sedang terjadi kerusuhan (lagi) dan adu-tembak antar beberapa kelompok. Seperti biasanya, mendengar kabar seperti itu dan Opa Gam tidak berada dirumah membuat semua keluarga cemas. Dan hari itu puncaknya, 22 Januari 2007, berita kemungkinan Opa Gam meninggal sontak membuat nenek tanpa sempat berpikir langsung berangkat dengan mobil tercepat ke Poso. Kami terus mencari, menunggu dan menerima kabar dari salah satu kerabat yang menemani nenek untuk memastikan kabar kematian Opa Gam. Hari itu semua orang tidak diperbolehkan keluar rumah karena kondisi yang kacau, bunyi tembakan bisa terdengar hampir disemua bagian jalan, pukulan tiang-tiang listrik pertanda kerusuhan yang memekakan telinga, takbir dan teriakan yang menyatu, perasaan aneh yang dirasakan semua orang, helikopter yang melintas diatas kepala memperingati banyak hal. Dan nenek menerobos semua itu mencari tahu kebenaran kondisi Opa tanpa menggunakan alas kaki. Iya, karena paniknnya nenek dan kondisi yang ternyata diluar kendali nenek sampai tidak sadar kalau tidak memakai sendal. Katanya nenek mendatangi semua kenalan Opa dan mereka membenarkan kabar kematian Opa tetapi tidak satu pun yang tahu dimana tepatnya posisi Opa. Sampai akhirnya, nenek menemukannya. Nenek menemukan Opa Gam sedang tidur, tidur bersama luka dikepalanya. Tidur tanpa kacamatanya. Tidur dengan kedua tangan yang dia letakkan diatas perutnya. Tidur bersama dengan tangis nenek yang pecah. Opa Gam tertidur di kamar Jenazah Rumah Sakit.
Opa Gam terkena satu tembakan tepat diubun-ubun kepalanya. Saat kerusuhan terjadi, Opa Gam ikut didalamnya. Mengangkat tinggi senjatanya, menggemakan takbir, mengepalkan semangat, membela apa yang dia yakini. Kata orang-orang Opa Gam adalah pemegang senjata yang hebat. Hari Β itu sedang terjadi adu tembak dan kacamata Opa Gam jatuh, beliau menunduk mengambil kacamatanya tetapi satu tembakan mengenai ubun-ubunya. Opa Β duduk terjatuh dan ketika peluru panas berhasil menembus kepala, dua tembakan senjata Opa Gam berhasil mengenai 2 orang lainnya. Teman Opa yang sama-sama berjuang dengan Opa menceritakan hal ini pada keluarga. Saya menangis, semua orang menangis, keluarga berduka, semua orang berduka.
Hari hampir magrib, kami keluarga mendapatkan kabar kematian Opa Gam langsung dari nenek, bersama dengan tangis nenek bilang kalau Opa meninggal dan ditemukan dibawah pohon nangka dijalan tanah runtuh, Poso. Dikebun Opa Gam menanam banyak pohon nangka dan Opa Gam sangat suka dengan nangka, saya juga. Tangis memenuhi semua sudut rumah. Saya tidak bisa merincikan bagaimana duka, luka, marah, sedih merasuk kesemua hati keluarga. Karena ini perasaan yang tidak bisa kami jelaskan kecuali dengan tangis yang meraung.
Malam itu juga Β jenazah Opa Gam dibawa dari Poso untuk pulang kerumah. Empat jam perjlanan, hampir tengah malam, Opa Gam pulang.
Apakah Opa Gam memang sebaik itu? Saya bertanya-tanya.
Rumah kami berada di paling ujung sebuah lorong dan sekarang dipenuhi dengan banyak manusia. Waktu itu saya bahkan tidak bisa melihat ujung dari kumpulan orang-orang itu, mungkin juga karena malam dan gelap. Mereka semua berteriak sesuatu dengan lantang, Takbir! Allahu Akbar! Takbir! Allahu Akbar! Saya tidak berbohong saat mengatakan kalau lorong kami dipenuhi banyak orang. Bahkan setelah beberapa hari Opa Gam meninggal salah satu koran kota menuliskan, ββ¦seketika lorong Al-Khairat menjadi lautan manusia.β
Apakah Opa Gam memang sebaik itu? Atau itu adalah jawaban dari benarnya apa yang dilakukan Opa?
Hari ini, 10 tahun berlalu. Malam ini, saya merindukan Opa Gam, sangat merindukan Opa. Karena itulah tulisan ini lahir, bukan untuk mengungkit kejadian dimasa lalu atau membenarkan dan menyalahkan pihak lain. Tetapi ini hanya tulisan rindu seorang cucu kepada Opanya.
Apa Opa Gam tahu? Sekarang Poso yang dulu Opa lindungi orang-orang diddalamnya sudah jadi kota yang lebih baik dibanding waktu Opa masih bekerja sebagai Mujahid. Saya tidak peduli Opa disebut apa oleh orang lain atau pun pemerintah tetapi bagi saya masih tetap sama, Opa Gam adalah pembela kebenaran.
CahyaAbdullah (Via : SenjaPagi)
Palu - Senin, 17 July 2017