Aku rumah yang sederhana. Tak begitu lapang, namun rindang. Tak begitu banyak benda, namun selesa. Tak banyak tangga-tangga, namun lega.
Aku rumah yang sederhana. Yang dahulu dihuni jiwa. Dimana hatinya selalu berada. Selalu setia menyambutnya, tempat ia bercerita.
Namun penghuni kini telah berubah. Ia merasa tak puas akan rumah sederhananya. Setiap coretan kecil ditembok ia permasalahkan. Ia merasa risih melihat langit-langitku yang bernoda. Ia merasa marah melihat retakkan kecil di satu dinding. Namun tak ada usaha besar untuk memperbaikinya. Terlihat seperti ia sedang membandingkan dengan rumah yang lebih sempurna.
Kini ia jarang kembali, ia selalu angkat kaki. Sesekali kembali hanya formalitas bahwa rumah ini masih berpenghuni. Walau didalamnya sudah tak ada kehangatan lagi. Ternyata benar, ia telah menemukan rumah yang lebih indah dan meninggalkan rumah sederhananya.
Lambat laun aku semakin terkikis. Sudah tak kuat menopang lagi. Beberapa sudut ruang hancur lebur bersama isi didalamku. Sang penghuni sadar, dan sempat menyesal, namun sudah terlambat. Tak ada usaha besar yang terlihat untuk membangunnya.
Kini rumah tak berpenghuni itu berpijak sendiri. Berusaha tetap bertahan bersama sisa sisa ruangnya. Menunggu Tuhan memberi penghuni lain untuk membangun dan merawatnya kembali.
iya, berharap penghuni terakhir yang tepat kali ini