Ikhtiar (maksimal), insyaAllah..
If something is meant to go elsewhere, it will never come on your way, but if it is yours by destiny, from you it cannot flee.” —Umar ibn al Khattab
Bus metromini 640 yang saya naiki dari Semanggi sudah mencapai daerah Pasar Minggu, tepatnya di dekat stasiun. Saya biasa turun beberapa meter setelahnya, ketika bis akan berhenti sebentar setelah melewati terowongan. 10 detik. Yup, sekian detik itulah yang biasa disediakan pak supir untuk para penumpang turun.
Posisi duduk saya adalah di ujung kanan paling belakang. Tepat sekali di dekat pintu keluar. Seorang pria berdiri di pintu, menyandar, membuat lebar pintu jadi sangat sempit untuk dilewati.
“Pak, maaf, saya mau turun.. Tolong turun dulu pak” Ujar saya terburu-buru mengingat bus akan segera berjalan.
Sang pemuda berbaju batik itu tak bergeming sehingga saya memaksakan diri untuk keluar, merangsekkan badan bersama tas backpack saya, kemudian meloncat dan menapakkan kaki di aspal jalan.
“Alhamdulillah” Ujar saya, berhasil turun di saat yang tepat dengan berjalannya bus. Namun..
Saya sangat mengenal beban yang setiap hari diemban punggung saya untuk membawa barang yang teramat penting dalam hidup. Seketika saya merasa sangat aneh karena beban tersebut hilang. Segera saya berpaling melihat punggung untuk memeriksa backpack saya.
TERBUKA. Dan Laptop ACER 14 inch telah raib dari tempatnya. Laptop yang menyimpan data pekerjaan saya selama bertahun-tahun.
“LAPTOP! LAPTOP! LAPTOP saya dicuri!!” Saya teriak sambil menunjuk-nunjuk bus yang telah berjalan sekian ratus meter. Berlari dan menghampiri tukang ojek terdekat. Sayang ojek tersebut mogok.
Seorang supir angkot yang lewat berteriak “NAIK, BU”.
Angkot berhasil mengejar bus. Saya melompat. Berlari. Menaiki bus. Kosong. Tidak ada lagi penumpang. Saya turun dan berlari mengejar bus di depannya. Dua Bus 640 tersebut juga sama keadaannya. Kosong.
Seorang satpam yang kebetulan lewat menghampiri.
“Pak, laptop saya dicuri di bis!”
Terdapat kerumunan orang di sekitar stasiun. Mereka melihat kehebohan saya beberapa menit sebelumnya dan mereka mengatakan ada 3 orang pemuda berlari menuruni rel kereta sambil membawa laptop.
Pak Satpam memacu motornya ke daerah tersebut kemudian memarkir motor karena jalannya terlalu sempit. Ditemani seorang warga, kami menelusuri gang kecil menurun sesuai petunjuk orang-orang yang kami lewati. Hingga sampai ke sebuah lapangan becek kecil dan tak ada orang lagi yang melihat 3 pemuda itu lewat kemana.
“Ini sulit, Bu. Sepertinya mereka sudah jauh. Banyak jalan dari sini. Kita tidak tahu mereka kemana sejak dari sini” Ucap warga yang menemani dari gang kecil tadi.
“Sudah bu. Ibu sekarang lapor ke polisi. Setidaknya sudah tahu daerahnya. Biar mereka yang urus” Ujar Pak Satpam.
“Tidak, pak. Ini buka masalah kasusnya. Tapi saya butuh laptopnya kembali karena data-data kerjaan saya ada di sana. Ini mumpung masih beberapa menit lalu. Saya yakin pencurinya belum jauh!”
Saya masih belum menyerah. Saya mendekati warga yang ada untuk bertanya. Nihil. Mereka tidak melihat.
“Ibu, jangan gegabah. Ini bahaya kalau ibu sendirian” Wajah Pak Satpam mulai agak emosi.
“Makanya, Pak. Tolong temani saya!” Sambil berkata saya agak berlari menuju jalan di ujung lapangan becek.
Pak Satpam dan warga tadi mengikuti. Mungkin mereka tidak tega melihat saya sendiri.
Warga tadi memandu kami hingga bertemu kumpulan para pemuda, beberapa diantaranya dengan motor. Seperti pangkalan ojek, tapi dalam gang kecil.
“Oh.. tadi ada! 3 orang! Mereka ke arah sana” kata seorang tukang ojek menunjuk sebuah jalan.
Setengah berlari, kami tiba di ujung jalan datar yang berlanjut ke jalan naik yang curam. Kami berhenti.
Kami bertanya pada warga-warga yang ada di sana.
“Sudah naik ojek kali, Bu” kata mereka.
“Sudah Bu, sudah jauh” Kata Pak Satpam dan warga.
“Ayo kita kejar dengan motor, Pak” pinta saya pada Pak Satpam.
“Lah.. motor saya kan diparkir di atas” Ucapnya dengan wajah yang menyiratkan “Sudahlah Bu, ini gak mungkin”
“Saya mau sewa ojek! Tolong panggilkan. Siapapun yang mau bantu saya. Tolong!” Ujar saya sambil setengah berlari balik ke arah pangkalan ojek.
Seorang tukang ojek menghampiri di pertengahan gang.
“Ibu percaya sama saya. Ayo saya antar. Saya kenal daerah-daerah sini”
Saya terdiam sebentar. Ikut ojek ini, berarti saya tidak pergi dengan Pak Satpam. Dan bisa saja saya malah dibawa lari.
Saya tatap mata tukang ojek itu beberapa detik. Mencari sebuah kejujuran untuk meyakinkan hati saya. Hanya ketulusan yang saya lihat di sana.
“Ibu ikut dia. Percaya sama bapak ini” kata Pak Satpam.
“Bismillah” dalam hati saya sambil melompat ke atas motor.
Abang ojek, sebut saja Bang Budi, memacu motornya menaiki jalan kecil curam. Jalan tersebut tembus ke jalan mobil yang cukup besar.
Perempatan. Kemanakah kami harus belok?
Bang Budi mengarahkan motornya belok kanan. Berhenti sebentar untuk bertanya ada tukang cilok. Dia tidak lihat. Begitu pula orang-orang warung.
Apakah kami salah jalan? Haruskah memilih belokan yang lain? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam hati saya. Namun entah mengapa saya merasa kami berada di jalur yang benar. Bang Budi juga tetap yakin melanjutkan arah tersebut. Dia yakin para pencuri membawa laptop saya ke arah Poltangan.
Sudah agak jauh motor melaju. Kami lagi-lagi merasa ragu sudah pada arah yang benar atau belum. Saya meminta Bnag Budi memperlambat laju kendaraan untuk bertanya pada seorang satpam perumahan. Satpam tersebut menjawab tidak melihat.
Saya menarik nafas panjang. “Allah, tolong saya!” Hati saya menjerit.
“Ini yang kehilangan laptop ya? Saya lagi ngejar teman saya, di ojek yang disewa pencuri tadi!” Tiba-tiba saja muncul seorang abang ojek lain di belakang kami.
Sebut saja Bang Asep. “Mungkin ke arah sana” Ujarnya sambil menunjuk sebuah arah.
Bang Budi memacu motornya, mengikuti ojek tersebut.
“Coba di telepon temannya, Pak” Kata Bang Budi ketika kmotor berjalan beriringan.
“Itulah. HP saya gak saya bawa. Nomor dia di HP itu” Ucap bang Asep. Kemudian meng-gas motornya.
Bang Budi menengok ke belekang. “Apa kita balik Bu, nanti kita telepon dari pangkalan?” Kata Bang Budi.
“Tidak, Pak. Itu akan lama. Saya ingin kejar secepat-cepatnya. Saya yakin belum jauh. Saya yakin laptopnya masih belum dikemana-manakan!”
“OK” Bang Budi pun meng-gas motornya mengikuti Bang Asep.
Setelah melewati sebuah gang kecil, kali ini Bang Asep tidak tahu mau belok mana. Orang-orang sekitar juga tidak memberikan sebuah petunjuk. Bang Asep memutuskan untuk belok kiri, kami mengikuti.
Di pertengahan jalan, Bang Asep menghentikan motornya seiring dengan berhentinya sebuah motor dari arah yang berlawanan.
“Ini bu ojek yang ngenterin orang tadi!” Pak Asep berteriak.
“PAK! Tadi itu pencuri laptop saya! Ayo pak, balik ke tempat orang tadi bapak antar!!!”
Sejenak abang ojek ke-3 ini terkesiap. Kemudian segera berbalik arah. 3 motor melaju. Sebut saja ojek ke-3 ini Bang Rudi.
Berhentilah Bang Asep dan Bang Rudi di depan sebuah gang kecil di pinggir jalan raya. Saya tidak tahu tepatnya daerah apa, tapi sepertinya dekat dengan Pasar Rebo.
Saya turun dari motor Bang Asep, berlari menemui Bang Rudi.
“Sampai di sini tadi, Bu” Ujarnya.
“Kali sudah naik bis bu dari sini” kata seorang warga yang ditemui Bang Rudi tepat di depan gang.
Saya menghela nafas. Kalau memang sudah naik bis, mungkin di sini lah waktu untuk saya 'berhenti'. Terlalu tidak mungkin untuk mengejar karena dari sana kemungkinan tujuannya terlalu banyak.
Tapi benarkah ini sudah maksimal? Benarkah ini final usaha saya? Masih adakah yang bisa saya lakukan sebelum menyerah?
Saya berjalan memasuki gang. Bertanya setengah teriak pada ibu-ibu yang sedang nongkrong di depan rumahnya.
“Laptop saya dicuri di Pasar Minggu. Saya mengejar sampai kemari. Adakah ibu melihat pemuda yang membawa laptop ke gang ini?? Dia pakai baju batik-berjas-celana jeans- sepatu pantofel hitam-kaus kaki biru, rambutnya klimis, ada kumis sedikit”
Ibu-ibu saling berpandangan.
“Lah.. saya baru keluar rumah..”
Saya menatap mata-mata ibu tersebut. Mencoba untuk memastikan bahwa mereka benar-benar jujur.
Bang Rudi mendekati salah seorang ibu yang sedang menngendong anak.
“Bu, tadi orangnya mau pinjam uang ibu kan untuk bayar ojek saya?” Tanya Bang Rudi
“Saya gak kenal. Gak saya pinjemin” ujarnya.
Sepertinya dia tahu. Dia pasti tahu. Hati saya meraba-raba.
Ibu tersebut menunjuk jalan menurun ke arah sungai.
“Ayo, pak.. temani saya..!” Pinta saya pada 3 abang ojek.
Dua abang ojek berjalan lambat mengikuti saya yang setengah berlari menuruni jalan kecil menurun. Bang Budi yang sejak awal menolong saya sudah mendahului di depan saya. Dia tahu daerah tersebut.
Berdua dengan Bang Budi, kami menanyakan ke penduduk-penduduk di sekitar sunga. Nihil. Tak ada yang tahu.
ATAU tak ada yang MAU memberi tahu. Entah mengapa saya curiga dengan warga-warga di gang ini. Seperti menyembunyikan sesuatu.
Saya balik ke atas gang karena setelah tidak tahu mau memeriksa kemana lagi. Bang Asep dan Bang Rudi sudah entah kemana. Saya menemui lagi ibu-ibu yang berkumpul di depan gang.
“Bu, saya mohon, laptop itu berisi data saya bekerja bertahun-tahun. Saya tidak mungkin mengulang lagi.”
“Tolong, ibu-ibu.. sudi kiranya yang mengetahui orang-orang yang tercurigai melakukan hal ini pada saya, tolong temani saya kemana saya harus memeriksa keberadaannya di gang bawah..”
Air mata saya sudah mengalir deras saat itu. Karena saya yakin. SAYA YAKIN MEREKA TAHU. Tapi mereka tutup mulut. Entah, mungkin khawatir mereka akan terlibat kasus. Atau mereka mau melindungi ‘tetangga’nya.
“Saya tidak akan melapor pada polisi. Saya hanya butuh data-data saya kembali.”
Saya tergugu. Meminta izin seorang ibu untuk saya pegang bahunya karena saya merasa hampir pingsan. Bibir saya sudah bergetar. Mata saya berkunang-kunang.
“Bu, katakan saja mana tempat termungkin. Kemana daerah termungkin. Saya akan kejar!”
“Lah.. Bu.. dari bawah sana mah banyak jalan keluar.. kita juga gak tau mau nganter ibu kemana..” ucap salah seorang ibu.
“Ini ikhtiar saya Bu. Saya dari pasar Minggu hingga sampai di titik ini saya mengejar, Bu. Saya ingin memaksimalkan ikhtiar saya. Saya yakin bisa menemukannya!” Kali ini saya terpaksa berjongkok sebentar, karena kaki saya bergetar hebat.
“Ya kita juga gak tau..” lanjutnya. Mereka saling lirik. Entah apa arti komunikasi antar mereka.
“Allah.. Allah.. Sudahkah ikhtiar saya maksimal sampai di sini??” Jerit saya dalam hati.
Saya meminta ibu-ibu tersebut utuk meminjamkan saya peralatan sholat dan menumpang sholat. Seorang ibu bergerak ke dalam rumah untuk mengambilkan. Seorang pengendara motor dengan seorang wanita membonceng, muncul dari bawah gang dan melihat wajah saya yang sudah sangat ‘pathetic’.
Saya menjawab sesingkat dan sejelas mungkin. Ia terdiam. Lalu memarkir motornya.
“Ibu tenang dulu” kata beliau. Sebut saja Pak Dodi.
Saya memasuki sebuah rumah untuk melakukan sholat di ruang terdepan. Ibu-ibu masih berkumpul di tempat yang sama di depan rumah. Pak Dodi memberi isyarat untuk saya mendekatinya di pintu.
“Ibu tenang dulu. Silahkan sholat. Nanti tinggalkan nomor HP ibu. Tapi jangan ketahuan orang-orang di sini. Sebaiknya ibu balik. Serahkan ke saya penyelesaiannya”
Saya meminta ampun pada Allah SWT dalam sholat saya. Mungkin saya futur. Mungkin saya kurang sedekah. Mungkin saya banyak melupakanNya. Sangat merasa bersalah ketika mengingatNya adalah saat seperti-seperti ini.. Saat mendapat cobaan.
Allah, maafkan saya.. Saya menutup mata. Berdoa meminta petunjuk siapa yang harus saya percayai untuk masalah ini. Banyak orang di luar sana, dan saya terlalu naïf untuk mempercayai salah satunya.
Selesai sholat, saya merasa sangat tenang. Agaknya saya sudah dapat membaca situasi. Perkiraan saya pencurinya adalah warga daerah tersebut. Mungkin karena rasa ke-tetangga-an ibu-ibu di depan tidak mau membuka mulut. Dan saya yakin laptop saya belum dikemana-kemanakan. Usaha selanjutnya adalah memeriksa rumah-rumah, tapi itu tidak mungkin. Atau menunggu di depan gang, menunggu si pencuri lewat keluar gang. Tapi itu juga terlalu riskan karena bisa jadi dia malah kabur lewat jalan belakang atau bertahan di persembunyiannya tidak keluar-keluar. Berarti cara terbaik adalah meminta tolong seseorang untuk menjadi perantara bagaimanapun caranya.
Lalu diam-diam saya membuka tas. Meninggalkan pesan singkat pada suami saya. Juga menulis nomor Hp saya dan suami dalam secarik kertas yang kemudian saya selipkan di kaus kaki, untuk saya serahkan secara diam-diam ke Pak Dodi. Setelah sholat saya mendapat keyakinan untuk mempercayai beliau.
Ada sebuah taksi yang parkir di depan gang dan seorang supir yang turun. Ternyata dia tinggal di gang ini juga. Sebut saja Pak Yanto. Dia menyarankan hal yang sama seperti Pak Dodi, yaitu segera meninggalkan tempat ini. Dia juga janji akan bantu carikan dan meminta saya meniggalkan nomor HP lalu menyarankan saya melapor ke polisi dekat TKP (PasarMinggu). Selesai saya bicara dengan Pak Yanto, saya segera mencari Pak Dodi. Namun beliau telah meninggalkan tempat. Sedikit kecewa, saya menaiki motor Bang Budi untuk menuju Pasar Minggu. Berharap Pak Yanto benar-benar membantu saya.
Di perjalanan, motor belakang saya meng’klakson’ keras-keras. Saya mengengok. Ternyata Pak Dodi dan wanita tadi. Saya meminta Bang Budi meminggirkan motor. Di pinggir jalan daerah Simatupang kami bicara. Pak Dodi menjelaskan saya duduk perkaranya. Intinya hanya dua.
Bila saya memilih jalur ‘benar’ (lapor polisi), beliau menolak membantu. Dengan konsekuensi bahwa perkara akan lama diselesaikan; “Polisi baru gerak kalau ibu kasih uang. Dan jaminan barang bisa didapatkan hampir tidak ada. Karena mereka gak kenal medannya.”
Bila saya setuju dibantu oleh beliau dengan ‘cara preman’, maka saya setuju TIDAK lapor polisi dan TIDAK AKAN lapor polisi. Juga untuk tidak memberitahu tentang dirinya, termasuk ke Pak Yanto, si supir taksi yang memegang nohor HP saya. Pak Dodi sejak awal menutupi identitasnya dan tidak bersedia mengungkapkan pekerjaan beliau, tapi beliau meyakinkan saya bahwa dia kenal daerah itu. Dengan konsekuensi, mungkin akan ada kompensasi uang yang diminta bila ‘cara preman’ yang ditempuh adalah dengan cara pura-pura membeli ke pencurinya.
Sejenak saya ragu kembali. Saya takut Pak Dodi meminta uang dulu, dan bisa jadi ternyata beliau menipu dan lari dengan uang saya. Namun ternyata beliau tidak minta uang dulu.
Fix. Saya ikuti kata hati saya. Saya menyerahkan masalah ini ke Pak Dodi.
Saya diantar Bang Rudi sampai lenteng agung. Berhenti sebentar di ATM untuk memberikan sedikit uang untuk Bang Rudi yang menemani saya hingga ‘akhir’. Subhanallah, beliau menolak dibayar, tapi saya memaksa memberi.
Di dalam angkot menuju Depok, saya men-chat bos saya untuk memberikan kabar, meminta maaf, serta meminta waktu untuk mengulang data-data pasien penelitian beliau yang raib. Saya serahkan urusan ini sepenuhnya pada Allah SWT. InsyaAllah usaha saya sudah maksimal. Saat itu saya sudah dalam keadaan sangat ikhlas kalaupun laptop tidak kembali. Dan mulai memikirkan tahap-tahap untuk berjuang mengumpulkan data-data pasien penelitian kembali. Data yang sudah saya kumpulkan dalam dua tahun terakhir.
Kemudian saya sampai di kantor suami di Depok dan melanjutkan kisah yang saya ceritakan di angkot via telepon dalam perjalanan pulang. Saat itu sudah hampir magrib.
Beberapa menit kemudian HP saya ditelepon olah Pak Dodi. Dia meminta bicara dengan abang (suami saya). Dia meminta kami ketemu di sebuah warteg di depan Stasiun Lenteng Agung. Kata beliau, beliau mempunyai petunjuk. Dan yang terpenting, tujuan beliau adalah mamastikan abang juga tidak melapor ke polisi. Saya bilang ke beliau kami mau sholat maghrib dulu.
Abang bertindak hati-hati, beliau menolak menemui Pak Dodi. Terlalu riskan katanya, bisa jadi malah jebakan untuk merampok kami berdua di warteg itu. Betul juga. Saya ini cenderung ‘nekad’, inilah sisi yang sangat diseimbangkan oleh abang.
Pak Dodi menelepon lagi. Abang bicara dengan beliau, bertanya kepentingan untuk bertemu. Abang katakan bahwa urusan ini bisa dia lanjutkan via telepon. Pertama, abang meyakinkan beliau untuk tidak melapor polisi. Kedua, mengenai petunjuk yang ingin dipastikan Pak Dodi ternyata adalah memastikan ciri laptop. Abang katakan ciri laptop saya dengan sangat detail.
Tiba-tiba Pak Yatno menelepon, dia bilang ada laptop ditemukan warga ‘terjatuh’ di jalan gang. Pak Yatno bertanya apakah tadi ada yang namanya Dodi sudah menelepon untuk mengembalikan. Saya sempat berbohong di sini karena sejak awal berjanji ke Pak Dodi untuk tidak memberikan kabar apapun ke Pak Yatno.
“Jangan percayai siapapun di saat seperti ini. Dan jangan berbohong.” Abang berkata pada saya. Selanjutnya saya serahkan semua telepon yang masuk ke abang.
Hingga akhirnya disimpulkan seperti ini. Pak Yatno adalah warga gang yang ingin melindungi tetangganya (yang mencuri laptop) dan Pak Dodi adalah bukan warga gang namun kenal daerah gang dan dihormati preman-preman sana. Saya dan abang berpikir mungkin Pak Dodi sudah menemui si pencuri dan ‘menasehati’nya untuk menyerahkan laptop, lalu bertindak sebagai orang yang mengembalikan laptop ke saya. Namun, pencuri (dan mungkin warga) ingin memastikan bahwa laptop benar-benar dikembalikan ke saya, bukan malah dilarikan oleh Pak Dodi (menjadi milik dia); sehingga Pak Yatno menyuruh saya (melalui SMS) memberi kabar bila laptop sudah benar-benar kembali.
Pada telepon berikutnya, abang setuju untuk bertemu Pak Dodi, kali ini dengan tempat janjian yang ditentukan abang sendiri. KFC Srengseng Sawah. Saya dan abang sebelum berangkat juga sudah bersepakat mengenai ‘jumlah’ maksimal uang yang akan ‘keluar’ bila Pak Dodi meminta kompensasi.
Saya dibonceng abang, dan kami ditemani oleh Fikrul dan Amri yang juga mengendarai motor, membuntuti beberapa meter di belakang kami. Fikrul ini master beladiri thifan, dan Amri bisa taekwondo. Mereka akan ‘menjaga’ kami kalau ada sesuatu terjadi di tempat pertemuan.
Tepat di depan KFC Srengseng Sawah, Pak Dodi menyerahkan sebuah laptop. Laptop saya.
Beliau tidak mengajukan syarat apapun saat menyerahkan. Pun beliau menolak ketika abang mengeluarkan uang dari dompetnya.
“Melihat mbak ini..”, ujar Pak Dodi sambil menunjuk saya yang masih speechless,,
“..saya teringat istri dan anak saya. Jam segini mereka juga dalam perjalanan pulang dari tempat kerja.” Lanjutnya sambil tersenyum.
Laptop saya kembali. Utuh!
Subhanallah, Walhamdulillah, Allahuakbar..
If something is meant to go elsewhere, it will never come on your way, but if it is yours by destiny, from you it cannot flee.” —Umar ibn al Khattab
___________________________________________________
Kami berempat (saya, abang, Amri, Fikrul) mencapai kantor Badr. Masih dalam keadaan speechless, saya menaiki tangga kantor Badr, bersegera ingin melakukan sujud syukur.
Fikrul: “Tadi itu.. Gak seru..”
Saya, abang, Amri: “Errr.. Fikrul…”
___________________________________________________
Catatan: Terima kasih untuk Pak Dodi (nama samaran) atas bantuan yang saya tidak tahu harus saya balas dengan apa. Terima kasih untuk Bang Budi (nama samaran)yang mengantar saya hingga akhir. Juga pada Pak Yanto (nama samaran)atas kebersediaannya membantu mencari. Pada Bang Asep dan Bang Rudi (nama samaran)yang mengantar sampai gang. Pada ibu yang menyediakan rumahnya utuk sholat, dan sekaligus menenangkan saya bahwa laptop saya insyaAllah akan ditemukan. Pada ibu yang meminjamkan mukena. Pada satpam pasar Minggu dan abang angkot Pasar Minggu. Pada warga Pasar Minggu hingga sepanjang jalan ke Poltangan sampai gang dekat Pasar rebo, yang memberikan petujuk. Pada Fikrul dan Amri yang ikut dalam misi penjemputan laptop. Pada Jay, Isni, Fiza, Big, atas doa dan dukungan morilnya. Pada bos saya, dr.Ramadhan atas pengentian, doa, (dan omelannya [He phoned me and literally shouted “Kamu ini sering baget kayak gini”] walaupun sebenernya gak sering XD XD).
Dan tentu saja terima kasih sebesar-besarnya untuk my ultimate logic-wonderful-caring-handsome hubby. Atas pengertian terhadap istrinya yang ‘ngoyo’, atas kepercayaan terhadap istrinya untuk terbang dan mengembangkan sayap selebar-lebarnya, tapi tetap menjaga agar tidak ‘nyasar’ ke tempat yang salah atau berbahaya. I love you, Darl!