“Megvan az mikor haragszol a pasidra, de aztán csinál valami cukit és romcsit...”
(me)
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Saudi Arabia
seen from Bangladesh
seen from Malaysia
seen from Egypt
seen from Bangladesh
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Australia

seen from Japan
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from China

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Japan
“Megvan az mikor haragszol a pasidra, de aztán csinál valami cukit és romcsit...”
(me)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
@polres_padangsidimpuan @hilmanjy Keluarga Besar Polres Padangsidimpuan mengucapkan : SELAMAT TAHUN BARU IMLEK 2020 Gong Xi Fa Cai... Semoga kita semua selalu sehat, bahagia, dan beroleh damai sejahtera. #polrespadangsidimpuan #padangsidimpuan #pasid #psp #visitsidimpuan #pasidcity #sumaterautara https://www.instagram.com/p/B7siRNPhx-V/?igshid=1c2vx55q2y0c8
Going ride,,, from Pasid to Medan via Labura (i beg permission to all of my friends) #dronesia #benhur #pasid #labura #labusel #labuhanbatu #simpangkawat #googlemaps #mytripmyadventure #mytripfisabilillah
So, everyone judges you on how you speak, what you wear and who you socialize with? It’s okay. Let them talk. They've got nothing better to do. They are themselves living a shallow life, you are just a subject of discussion. They are irrelevant. I do not hate 'a lot' of people. I overlook them, they’re just insignificant. Yes they are. I'm so busy loving my life already that there is no place for any negatives. There is a great time to start everything. Your time is now. #visitsidimpuan #gunungteletubies #pasid #pasidhits #padangsidimpuan #ngabuburit #photography #like4like #likeforlike
Kisah Pasid (897/SPA/2010) - Tersesat di Latimojong
“Gunung Latimojong merupakan gunung tertinggi di pulau Sulawesi, indah dan misterius."
“Jan, gue minat ikut nih Latimojong, gue daftar jadi salah satu peserta ya.”
“Serius, Sid?.”
“Yoi, Jan!.”
Begitulah sepenggal isi chat saya dengan salah satu saudara Stapala yang penempatan di Sorong, Fauzan ‘Jane’. Awalnya saya melihat postingan Jane di Facebook yang berisi ajakan untuk naik Gunung Latimojong, gunung tertinggi di tanah Sulawesi.
Bulan Mei tiba, saya pun berangkat dari Sumatra Utara menuju Sulawesi Selatan.
Di Baraka, Kabupaten Enrekang, kami sepakat berkumpul. Anggota pendakian cukup banyak, sebagian besar adalah teman Jane di Sorong. Memulai pendakian dari desa terakhir yang harus ditempuh selama empat jam dari Baraka, tiba di Pos 2 menjelang malam. Perjalanan dilanjutkan kembali keesokan harinya hingga sampai puncak.
Selanjutnya, dalam perjalanan turun gunung, tim kami terpencar menjadi tiga bagian, rombongan yang dipimpin Jane melesat pertama, selanjutnya adalah saya, dan terakhir rombongan teman-teman lainnya. Medan pendakian yang sangat menyiksa, membuat perjalanan turun ini terasa sama melelahkannya dengan saat naik, terkadang saya harus berhenti untuk melemaskan kaki yang sudah mulai kram.
Tiba kembali di Pos 2 yang menjadi tempat kemah saat naik, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, saya bertemu dengan rombongan Jane. Jarak kami ternyata lebih dari setengah jam, cukup jauh juga ternyata. Di Pos ini saya sholat dan makan cemilan seadanya, serta melemaskan otot-otot yang sudah tegang.
Tak lama kemudian, rombongan Jane pun melanjutkan perjalanan. Sebenarnya saya ingin mengikutinya, namun dikarenakan waktu itu kaki saya masih lemas, saya terpaksa menunda keberangkatan saya. Asumsi yang saya peroleh dari keterangan teman-teman pendaki lainnya, jarak antara Pos 2 dengan desa sekitar dua jam. Kala itu waktu masih menunjukkan pukul hampir setengah lima sore.
Saya pun dengan pede memulai berjalan sendirian lagi, keterangan dari porter yang ditemui di Pos 2 mengatakan tidak akan ada jalur yang membingungkan, hanya berbelok ketika sudah memasuki perkebunan warga.
Di sinilah letak kesalahan saya yang kedua, yaitu berjalan sendirian. Dan kesalahan saya yang pertama adalah tidak mengingat jalur pendakian awal dari desa ke Pos 2 karena terlalu asyik mengobrol dengan porter sepanjang perjalanan, Yang saya ingat hanyalah medan dari Pos 1 ke Pos 2 sangat sulit, dimana di sebelah kiri jurang, ditambah kondisi jalur yang licin dan berlumpur.
Saat saya sudah berada di tengah perjalanan, hujan kembali mengguyur, jalur menjadi teramat licin. Dengan sangat perlahan, saya menyusuri jalur sembari berpegangan dengan tanaman-tanaman yang tumbuh di pinggir jalur. Perkiraan saya jarak Pos 2 ke Pos 1 hanyalah satu jam. Ternyata salah.
Setelah lama berjalan, saya belum juga keluar dari hutan. Sekadar informasi, jalur Pos 2 ke Pos 1 adalah hutan lebat. Namun saya masih pede bahwa jalur saya benar dikarenakan terdapat beberapa pita tanda penunjuk jalan di sepanjang jalur. Jadi ketika saya mulai merasa ragu terhadap jalur tersebut, saya melirik kanan kiri untuk menemukan pita, melihat pita tersebut, saya merasa lega, dan kembali berjalan.
Pukul enam sore, akhirnya saya berhasil keluar dari hutan tersebut. Dari kejauhan terlihat papan penunjuk Pos 1. Alhamdulillah, batin saya. Sempat beristirahat di Pos 1, namun hanya sebentar, karena senja sudah turun. Syukurnya hujan telah berhenti.
Dari belakang, sama sekali tidak terlihat pendaki yang menyusul dan di depan sama sekali tidak terlihat juga rombongan pendaki ataupun penduduk lokal. Saya melanjutkan perjalanan kembali, disini saya hanya mengingat satu spot saja, yaitu gubuk di samping sungai kecil. Malam pun menjelang, saya pun menyalakan senter.
Selanjutnya, saya sudah tidak ada ingatan sama sekali dengan jalur manan yang harus saya lalui, yang saya ingat adalah hanya ada satu jalur saja, dan ada pertigaan, satu menuju ke desa, satu kembali ke arah hutan.
Kegelapan menyelimuti areal perkebunan, saya berjalan dengan perlahan, di sini saya sudah gamang, sambil terus mengingat Tuhan. Saya banyak berdoa, sembari mengusir ketakutan, yah, bagaimana pun, selain takut salah jalan, saya juga takut adanya makhluk halus yang mengganggu. Apalagi informasi tentang jalur Latimojong ini sedikit sekali yang saya dapatkan dari internet.
Semakin jauh saya melangkah, saya menemukan persimpangan lagi, satu ke arah atas, satu ke arah bawah, disini saya benar-benar tidak ingat sama sekali. Walaupun saya sudah sering naik gunung, namun kala itu, saya benar-benar bingung untuk menentukan arah.
Pita-pita yang sepanjang pendakian sangat membantu, kini sudah tidak terlihat lagi karena sudah malam atau mungkin bahkan tidak ada lagi sejak memasuki areal ladang warga. Sesekali saya masih melewati hutan. ketika itu waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Ada sekitar satu jam saya bolak-balik, pertama saya mengambil persimpangan ke arah bawah, namun setelah cukup jauh berjalan, ternyata dan memasuki areal hutan lagi sehingga saya ragu, dan memilih kembali ke persimpangan lagi. Ketika saya melihat cahaya, saya mengira itu adalah cahaya senter pendaki yang telah sampai juga, ketika saya kejar ke belakang, ternyata hanyalah cahaya kunang-kunang.
Pun ketika saya memutuskan untuk mengambil persimpangan ke atas, saya meninggalkan tas dan berjalan. Namun, setelah di atas, tidak ada sama sekali jejak kaki di lumpur yang ada di jalur. Hal itu membuat saya ragu karena saya berpikir rombongan Jane pastilah kalau lewat jalur ini akan meninggalkan jejak langkah.
Saya kembali ke tempat asal, dimana tas saya lepaskan, dan mulai duduk. Saya berpikir, apa saya salah mengambil jalur sebelumnya?
Setelah cukup lama duduk di persimpangan karena lelah bolak-balik, tiba-tiba di kejauhan saya melihat cahaya beriringan, sempat ragu itu cahaya kunang-kunang lagi. Lama saya perhatikan, lalu saya mengambil keputusan untuk mencari tahu. Saya memanggul tas dan mengejar cahaya tersebut.
Alhamdulilah, ternyata mereka adalah rombongan pendaki asal Bandung yang sempat turun bersama sebelumnya. Pastilah mereka mengira saya makhluk jadi-jadian atau apalah, karena kondisi saya yang ngos-ngosan dan berkeringat, saya menyapa mereka dan berkata saya bingung terhadap jalur turun. Mereka hanya tertawa kecil, dan mengajak untuk turun bersama. Selanjutnya kami pun akhirnya sampai di desa.
Sungguh pengalaman yang sangat mencekam, saya menyesal telah berjalan sendirian kala itu, di malam hari, ditambah medan pendakian yang tidak saya kenal. Namun demikian, saya bersyukur masih selamat dan mendapat pengalaman berharga. Setelah mengalaminya, saya jadi punya kisah seperti itu yang saya bagikan buat kalian. :)
STAPALA JAYA!
Profil penulis:
Patuan Handaka Pulungan (Pasid 897/SPA/2010)
Mahasiswa DIV STAN, DJP.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Édesem nekem nem kell a pasid, épp ezért van veled.😉🙏