Satu Bintang di Langit Kelam-nya Dewi Lestari
Malam itu udara dingin menembus jiwa raga. Setelah beberapa hari bintang-bintang sembunyi dari langit, kembali mereka menghiasi keindahan malam. Aku menyukai bintang sejak kecil. Menatap keindahan karya Tuhan yang satu itu menurutku sangat menenangkan, terutama ketika pikiranku sedang kusut tak beraturan.
Ia menghampiriku, merebahkan dirinya disampingku. Sebenarnya, ia lebih suka matahari terbit, tapi ia juga mengagumi indahnya bintang-bintang malam itu. Aku enggan membuka suara. Lebih baik aku membisu, daripada harus kembali membuka luka yang luar biasa menyakitkan jika harus dihadapkan dengan pembicaraan-pembicaraan berat setiap kali bertemu dengannya. Aku selalu suka pola pikirnya yang mengagumkan dan selalu jujur. Aku belum pernah menemukan lelaki lain serupa dengan Arjuno, yang matanya selalu berbicara.
Ia bagai jelmaan karakter dambaanku dalam suatu karya fiksi yang mendadak jadi realita. Kecintaannya terhadap puisi dan buku-buku angkatan 45, akan gunung dan keindahannya, serta pengetahuannya tentang dunia membuatku jatuh ke dasar jurang yang sempit dan menyesakkan. Ia memang tidak rajin sholat, sering bolos berpuasa, rokok sudah seperti teman hidup, apalagi minum. Tapi ia tidak berbohong kepada dunia. Ia selalu jujur, ceria, dan selalu menggebu-gebu.
Malam itu, ia lontarkan kisah tentang seorang perempuan cantik yang membuatnya jatuh. Sama sepertiku, perempuan itu cinta aksara, lagu langka, dan mungkin juga cinta Arjuno. Seorang model majalah ternama di tanah air, apalah aku dibandingnya? Kebodohanku yang paling tolol seumur hidup adalah Jatuh hati kepada Arjuno. Ia tahu aku memendam rasa. Kami teman sepermainan. Kami seperti lima sekawan, 3 laki-laki dan 2 perempuan. Ia tahu segala rasa yang kusimpan, yang selalu kututupi lewat kebohongan. Namun mataku tidak pernah berkompromi, keduanya selalu jujur ketika lidahku sebaliknya, dan Arjuno selalu kenal mataku. Ia sama sekali bukan Tuhan, namun ia membuatku takut setiap kali harus bertatapan dengannya. Ia memecah hening, dan aku ingin membencinya sampai mati.
“Lepas gue ya.. Gue melihat Andrea itu sama kayak gue melihat keindahan Lembah Mandalawangi. Damainya mati, gue yakin hati gue ada disitu. Sama halnya, gue yakin Andrea adalah tempat yang tepat untuk hati gue berdiam.”
Masih menatap langit malam itu, ku kunci mulutku serapat yang kubisa. Air mata sudah memberontak ingin lepas namun kupenjara. Ia terus berbicara mengenai perempuan itu, yang membuatnya jatuh, yang sama sepertiku namun bukan aku. Perempuan itu seorang yang taat beragama, itu kelebihannya. Mungkin aku juga seorang yang cukup taat beragama dalam agamaku. Namun aku sama sekali tidak paham mengenai keyakinan mereka selain kewajiban sholat lima waktu dan berpuasa.
“Keluar dari lubang ya.. Di bawah emang gelap, ada gue dan Andrea berdua. Tapi lo punya tali, lo bisa keluar. Diluar pasti ada yang menunggu lo, atau bahkan dia akan membantu menarik lo untuk keluar.”
Tahu rasanya sakit sampai ingin menangis saja sampai tertidur? Dibawah bintang-bintang air mataku akhirnya membebaskan diri. Ingin ku teriakkan isyarat agar ia diam dan berhenti sejenak karena sesungguhnya semua yang keluar dari mulutnya malam itu sangat menyakitkan. Ia seorang laki-laki baik. Ia hanya menegaskan kembali bahwa kami hanyalah sahabat yang tidak punya masa depan bersama dalam konteks lain selain pertemanan. Aku berusaha memahami itu, bahkan aku tahu aku sama sekali tidak punya harapan setitikpun karena pada dasarnya kami memang beda. Kami akan terus menjadi sahabat sampai kapapun itu, tidak lebih dan tidak kurang.
Arjuno selalu ada disaat aku membutuhkannya ketika darurat. Ia selalu memberi pertolongan pertama apapun yang terjadi, kecuali saat ini, saat aku jatuh hati. Ia adalah laki-laki generasi Z yang benci bicara lewat dunia maya. Ia lebih suka berbincang langsung sambil bertatap muka, karena ia tahu mata tidak akan pernah membohonginya. Sementara aku? Aku sama sekali tidak sanggup untuk bicara sambil menatap kedua bola matanya tanpa yakin aku tidak akan semakin jatuh.
“Kata Chicco Jerikho di filosofi kopi, setiap biji kopi akan menemukan penikmatnya. Lo juga sama, lo pasti menemukan penikmat lo. Tapi gue minta maaf, tempat gue bukan lo. Penikmat lo bukan gue. Gue bisa selalu ada di dekat lo selama apapun itu yang lo mau, tapi kita beda, kita gaakan bisa jadi apa-apa. Pundak gue akan selalu ada untuk lo bersandar, telinga gue akan selalu siap mendengar semua yang keluar dari mulut lo, se-sampah apapun itu. Karena ini posisi gue, sebagai sahabat yang baik untuk lo. Jangan menjauh dari gue ya. Gue gamau kehilangan teman lagi. Udah cukup satu aja dulu. Jangan lo. Kita udah terlalu dekat, lo juga gaakan bisa menghindar dari gue selama kita masih sama-sama bernafas di bumi ini.”
Bintang-bintang malam itu menjadi saksi perjalanan kami. Ia seka air mataku, dan aku membeku. Dalam peluknya yang hangat, aku disadarkan bahwa nyaman ini sementara. Ketika ia sudah resmi menjadi pemilik hati Andrea, tidak akan ada lagi vespa putih yang siap menjemputku kemanapun aku mau pergi, tidak akan ada lagi tangan yang siap mengulur bila aku ingin menyebrang jalan, atau sekedar ingin menjaganya supaya tidak tertipu ibu-ibu tua di tepi Braga yang meminta uang. Tidak akan ada lagi lagu yang ia nyanyikan kepadaku, karena sudah cukup masa latihannya untuk menyanyi kepada Andrea. Aku hanyalah pengganti, panggung latihan, tempatku tak akan pernah jadi penonton yang ia harapkan. Sahabat-sahabatku yang lainnya sudah tau kisah kami. Rasa kami tidak akan jadi apa-apa. Ia bukan Dilanku, dan aku bukan Mileanya, hanya mimpi. Kalau kata Dewi Lestari, ia hanyalah satu bintang di langit kelam.
Dibawah indahnya malam hatiku sesak. Aku selalu menikmati bintang-bintang di langit kapanpun itu, saat ia bisa dihitung jari atau ketika sedang banyak-banyaknya. Tapi malam itu berbeda, kawanan penerang malam itu seperti mengolok-olok dan mengejekku, menghina betapa bodoh dan tololnya aku, jatuh ke dasar jurang paling dalam dimana sahabatku sendiri berdiam disana, sedang menunggu kepastian dan jawaban dari seorang Andrea sang gadis sampul yang taat beragama dan cinta puisi angkatan 45. Aku jatuh di lubang yang salah. Cerita mereka hampir sempurna tanpa perlu aku muncul ditengah-tengahnya. Seperti lembar yang cacat di suatu buku yang nyaris tamat. Keberadaanku tinggal tunggu diusir, tunggu di robek, kemudian kisah itu selesai jadi sempurna. Aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu takut untuk memanjat tali dan keluar dari lubang. Padahal di lubang ada Andrea yang tinggal menunggu Arjuno menyambutnya.
Dalam dekapnya aku menangis. Ia terus meminta maaf, tapi aku tahu bahwa ini adalah murni kesalahanku. Aku yang terlalu enggan untuk mengontrol perasaanku, dan terlalu payah karena masih saja menyisipkan namanya dalam doaku. Ide yang gila memang, karena Tuhan takkan pernah menyetujui perbedaan kami yang sangat signifikan. Malam itu hening dalam perjalanan pulang . Lima sekawan mendadak bisu karena mereka tahu aku dalam pilu. Mereka tahu Arjuno hanya ingin yang terbaik untuk aku dan persahabatan kami.
Malam itu dibawah bintang-bintang, aku melepasnya. Tangisan paling tersedu-sedu sepanjang persahabatan kami telah membuatku ikhlas merelakan bahwa ia tercipta bukan untukku. Aku mendewasakan diri. Ada yang lebih penting dari perasaanku seorang. Persahabatan ini jauh lebih penting dibanding menjauhi mereka karena ada Arjuno di dalamnya. Siang tadi aku kembali bertemu dengannya. Kami berlima makan siang di suatu kantin dekat kampus. Aku sudah berani menatap matanya, dan ternyata, aku tidak semakin jatuh. Asaku hanya satu, bisa terus melihatnya berbahagia karena itu saja cukup bagiku. Persahabatan kami mencukupkan. Lewat malam itu, segala sesak telah habis dilahap waktu.
*catatan ini, Kepada Ia yang Sedang Jatuh Hati dan seri Bukan Aku terinspirasi dari kisah seorang kawan dalam perjalanan kereta menuju Kota Pelajar. Kepadamu, maaf kisahmu miris.















