Entah kenapa, ketika aku menyungkurkan wajah dalam sujud yang lama, aku secara perlahan dan sengaja membayangkan sebuah rupa dan selarik nama. Tak lain, itulah kau adanya. Aku tahu, bahwa membayangkanmu dalam benak tidaklah bermaksud untuk menandingimu dengan Tuhan. Lagipula, Tuhan kan Maha-Tak-Tertandingi. Dan kurasa Tuhan pun tahu, bahwa sosokmu yang sekelebat mampir di mayang ingatan adalah caraku untuk berbicara dengan-Nya, meski tak ada kata-kata yang mengungkap apa-apa. Bisa jadi, Tuhan mengartikannya bahwa aku memintamu dalam sujudku. Siapa tahu. Juga entah kenapa, sudah lama air mata ini tak mengalir. Di dalam persona tegar seorang pria, air mata sudah lama bersembunyi dan membenci dirinya sendiri karena bahkan tak diakui oleh si empunya. Hanya dalam sepi dan tiada mata bersaksi, air mata itu jatuh dan turun tanpa suara yang mengiringi. Dan, salah satu takdir jatuhnya airmataku tidak lain adalah karena kau. Jarang, walau aku sendiri memang yang selalu bertahan, untuk tidak mengeluarkan tangis secara sembarang. Tapi mau bagaimana lagi, isi kepala dan hatiku saja sudah kau akuisisi. Hingga aku tahu, bahwa ketika lelaki sampai berurai air mata, ada seseorang yang berharga, yang ingin dimiliki sekaligus dilindunginya. Siapa tahu, itu memang kau. ©miftahulfikri #miftahulfikri #olahrasa #purwarupaperasaan https://www.instagram.com/p/BoG5lWKnjW1/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=7l56dfdkw6za
















