Sebagai mahasiswa kedokteran, ada privilege (untuk tidak menyebutnya konsekuensi) menyaksikan realita. Ya, realita kehidupan yang manis-manja.
Suratan takdir sembilan minggu belakangan aku menjalani rotasi pendidikan profesi di modul kesehatan perempuan. Sebut saja obsgyn, alias kebidanan dan kandungan. Sembilan minggu yang manis, sekaligus manja. Sembilan minggu realita kehidupan, bukan? :)
Satu hal yang menurutku paling menarik sepanjang modul ini adalah, mengamati usia dan pendidikan ibu-ibu hamil. Di cipto, kebanyakan yang datang adalah pasien rujukan. Tentu, masing-masing punya cerita komplikasi atau ancaman tersendiri. Usianya bervariasi. Namun nyaris tak sempat kujumpai ibu berpendidikan s1.
Hipotesisnya adalah: mungkin, ibu berpendidikan tinggi lebih memilih layanan persalinan swasta (yang bermakna mereka punya lebihan uang), atau kesadaran mereka terkait pemeriksaan antenatal sedemikian tinggi sehingga tindak perlu ke rumah sakit rujukan karena memang tidak ada komplikasi yang masih perlu diwaspadai. Itu satu.
Berikutnya adalah rumah sakit jejaring: tangerang, fatmawati, dan persahabatan. Semestinya memang ketiga rumah sakit ini jugalah tempat rujukan. Akan tetapi, kasusnya sedikit berbeda dari di cipto. Selain lebih sederhana, yang menarik adalah riwayat kehamilan yang bahkan mencapai G11 (gravida atau hamil ke-11) tanpa keguguran. Masih kudengar, ada yang meyakini banyaknya anak akan mendatangkan banyak rezeki, ada pula yang berharap mengusir sepi di masa tua nanti.
Hipotesis berikutnya yaitu: daerah pinggiran, sekalipun pinggir dari ibu kota, kultur banyak anak seolah tak bisa luntur. Kultur begitu lekat dengan leluhur. Sekalipun banyak diberitakan mengenai perencanaan keluarga, tanpa figur di kalangan terdekat hasilnya ibarat kafilah berlalu.
Tidak kalah gereget, ada pula cerita bumil yang berkunjung ke Puskesmas. Di satu sisi kita boleh berbangga lantaran semakin banyak yang sadar untuk memeriksakan diri ke tenaga kesehatan, di sisi lain ada saja hal yang masih perlu dijadikan sorotan. Ibu-ibu ini seolah berlomba menikah di usia sedini mungkin. Usia belasan, bahkan belum lagi layak dinyatakan lulus SMP.
Bukannya dilarang. Menikah dini bagaimanapun lebih baik dibandingkan maksiat dini. Akan tetapi jika pernikahan yang sejatinya mulia itu justru menjauhkan dari pendidikan, apalah artinya?
Yang paling menggemaskan adalah ibu-ibu dengan pendidikan tertinggi SD, atau bahkan tidak tamat. Untuk menjawab pertanyaan sederhana pun masih perlu dibantu. Jangankan risiko hubungan seksual dan hamil pertama di bawah usia 20 tahun, ditanya kapan terakhir kali haid saja harus minta ibu yang kasih tahu. Syukur jika nanti mereka segera beradaptasi merawat bayi dan suami.
Bagaimana menurutmu kawan?
Ini baru segelintir cerita. Belum lagi kalau kita bicara aborsi, hamil di luar nikah, infertilitas, dan masih banyak cerita seru dalam lingkup kesehatan perempuan. Pendidikan dan pengetahuan jelas punya dampak yang signifikan. Namun, yang bisa bermakna lebih dari itu adalah kepedulian. Kepedulian dari kita, agar orang-orang di sekitar kita memiliki pengetahuan yang sama sehingga bisa memilih sikap untuk kebaikan diri dan keluarganya.