Adaptasi
T. A. HIDAYAT
Sudah lebih dari tiga minggu sejak terakhir kali aku berkunjung ke Stasiun Delft. Saat ini, seperti kebanyakan penduduk Belanda, aku bekerja dari rumah. Catatan ini rencananya akan aku tulis secara rutin, paling tidak dalam seminggu ada satu tulisan, rencananya. Mungkin agak berbeda dengan tulisan rekan-rekan lainnya, tulisanku hanya akan bercerita seputar kehidupan sehari-hariku. Atau, paling jauh mungkin sebatas refleksi.
Situasi yang ditimbulkan oleh pandemi ini jelas bukan sesuatu yang normal. Dari kehidupan sekitar, banyak kebiasaan manusia yang harus disesuaikan. Yang paling umum tentu soal pekerjaan: semua pekerjaan dilakukan sebanyak mungkin dari rumah. Komunikasi dengan rekan kerja semua dilakukan melalui daring, entah itu lewat Zoom, Microsoft Team, Discord, dan banyak lainnya.Ā
Saat belanja di supermarket, setiap orang diwajibkan untuk mengambil keranjang dorong. Ada petugas khusus yang membersihkan gagang keranjang itu sebelum setiap orang mengambilnya. Anehnya, keranjang biasa yang ditenteng itu tidak disediakan. Mungkin ada alasan khusus, entah apa pun itu, dan semua orang mengikuti aturan itu. Bahkan, orang yang hanya mampir untuk membeli sebuah makanan ringan pun diwajibkan untuk mengambil keranjang dorong. Antrian pun jadi panjang: bukan karena banyaknya orang, tapi karena kita diwajibkan untuk menjaga jarak 1,5 meter antarmanusia.
Pada 3 April kemarin kebetulan aku berulang tahun. Biasanya, aku merayakannya dengan makan enak. Waktu di Indonesia, di pagi hari ibuku akan memasak mie goreng. Katanya, itu adalah simbol dari umur yang panjang, karena mie itu bentuknya panjang. Lalu malamnya aku, mama, dan papa mungkin pergi untuk makan di restoran favorit kami. Dua tahun terakhir, saat jauh dari orang tua, juga biasa aku rayakan ulang tahun dengan masak-masak: nasi kebuli, coto makassar, atau soto betawi. Yum! Aku terbiasa berkumpul-kumpul dengan orang-orang terdekatku.
Tahun ini, aku merayakannya di tengah masa karantina di Belanda. Pagi hari diawali dengan membalas ucapan-ucapan selamat di WhatsApp, lalu dilanjutkan dengan rutinitas pekerjaan. Siang hari aku video call dengan orang tua, pacar, dan calon mertua (hehe). Telepon yang penuh dengan ucapan, canda, dan tawa. Sore hari, temanku datang ke rumah untuk memberiku kue ulang tahun. Dia menelpon dan menyuruhku keluar rumah. Saat aku keluar rumah, sudah ada kue di depan pintu. Temanku itu berdiri agak jauh di depan rumah dan mengucapkan selamat. Namun, tentu saja kami harus tetap menjaga jarak! Ucapan selamat itu dilanjutkan dengan obrolan sejuk yang berlangsung cukup lama. Menjelang maghrib seorang teman mengirimkan pesan āyou might see something in your doorstep ;-)ā. Benar saja, tiba-tiba ada paket datang ke rumah. Ternyata buket bunga yang dikirimkan oleh manajer dan seorang temanku di kantor. Keesokan harinya, datang lagi seorang teman yang memberikanku hadiah berupa masakan yang dibuatnya sendiri.
Saat awal menjalani masa karantina ini, semua memang terasa aneh. Namun, setelah tiga minggu, aku merasa mulai terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan baru ini. Sampai pada titik bahwa, saat semua kembali normal, aku akan butuh waktu beberapa hari lagi untuk menyesuaikan diri untuk kembali pada kebiasaan lama.Ā
Rutinitas dari pekerjaan tetap bisa aku kerjakan dengan lancar, malah rasanya jadi semakin sibuk. Orang-orang mampu untuk mengikuti aturan pemerintah untuk menjaga jarak 1,5 meter. Aku masih dapat merasa senang dan bahagia dengan merayakan ulang tahun dengan cara yang sama sekali baru.
Alam akan selalu menemukan jalannya. Pun manusia. Manusia akan menyesuaikan diri. Dan pada akhirnya, manusia akan beradaptasi.
Delft, 5 April 2020













