Perjalanan Kedua Belas
Bagaimana cara meletakkan kembali sebuah hati, beserta perasaan di dalamnya, ke tempat semula?
Jatuh cinta seperti memaksa dirimu mengambil hati di dalam tubuhmu untuk diserahkan kemudian dimainkan oleh anak kecil. Ia akan dibawa lari-lari sambil bergembira. Melompat-lompat sambil bergembira. Tertawa-tawa bergembira. Kemudian menginjak tahi ayam, terjatuh, tertusuk kerikil, atau tergores beling. Kemudian dibikin menangis hingga seolah-olah seluruh air matanya mesti ditiriskan saat itu juga. Mudah-mudahan penggambaranku mengenai jatuh cinta bisa diterima atau kalau tidak, kamu carilah gambaranmu sendiri.
Aku tahu, meletakkan harapan-harapan kepada manusia sama belaka dengan membeli nomor togel. Kamu cuma bisa menebak-nebak, berhitung semampumu, dan berharap mudah-mudahan tebakanmu tepat. Jika hitunganmu presisi, bam! harapanmu terpenuhi. Tetapi togel tetaplah togel. Ia hanyalah sistem yang kamu tahu cuma dari apa yang kamu dengar. Desas-desus, cerita yang dibesar-besarkan, khayalan, hingga konspirasi. Barangkali seperti itulah isi kepala orang-orang yang sedang jatuh cinta. Maksudku, barangkali seperti itulah isi kepalaku ketika jatuh cinta. Ia berpikir dan berandai-andai dan berbicara tanpa tahu berapa banyak kemungkinan yang sebelumnya mesti beradu. Sampai kemudian terjebak di palung gelap nan dingin bernama harapan. Menunggu sekelebat cahaya menyoroti jalannya keluar. Meski sejauh ini cuma ada kegelapan dan hawa dingin.
Pengalaman itu baru selesai kurasakan. Lebih tepatnya, berusaha kuselesaikan. Dua tahun belakangan, yang kulakukan terhadap hati dan pikiranku adalah memaksa mereka untuk bekerja mengagumi seseorang yang sudah lama kukenal. Dia menarik seperti bau daging berbumbu yang dibakar. Menyenangkan seperti memberi makan ikan-ikan gupi di dalam gentong kaca di meja kerjamu. Menimbulkan debaran seperti ketika menonton drama Korea kesukaanmu. Dipaksa menunggu ada kejutan apa pada episode berikutnya. Hingga akhirnya menyakitkan seperti tak sengaja merendam rokok di dalam saku jaketmu yang tersisa cuma dua batang.
"Apa kau menyesal?"
Aku tak banyak berpikir mengenai penyesalan tetapi apakah aku harus menjawab pertanyaanmu?
"Iya lah, goblok!"
Baiklah. Kalau yang kamu maksud dengan menyesal adalah jika ada kesempatan buat melakukan perjalanan lintas waktu ke masa lalu, kemudian apakah aku tak akan melakukan hal serupa, maka jawabannya tidak. Aku akan kembali dengan senang hati. Dan aku akan mencintainya lagi, Wil. Aku akan melakukan kegiatan itu dengan sama persis. Oh, tidak. Aku akan melakukan kegiatan ngehek bernama jatuh cinta, kepadanya, dengan lebih baik dan menghindari lebih banyak kesalahan. Aku akan mencintainya dengan lebih baik dan kalau hal itu belum cukup, aku akan melakukan perjalanan kembali sampai jika masih ada kesalahan tersisa maka itu adalah kehadiranku di hidupnya. Persetan jika aku mesti melakukan perjalanan itu berkali-kali, belasan kali, puluhan kali, ratusan kali bahkan dua juta tujuh ratus empat puluh sembilan ribu miliar kali. Aku akan terus melakukannya, Wil.
"Kau benar-benar goblok! Yang dia ingin cuma kau tak hadir di hidupnya!"












