Merobohkan Dinding Kekhawatiran
Dalam kurun waktu enam bulan, ia mulai dihinggapi kegelisahan dan bayangan-bayangan buruk tentang masa depan. Bagi orang lain mungkin enam bulan terlalu lama untuk dalih ‘menyesuaikan diri’. Mereka memang benar, ia lebih banyak menghindar selama enam bulan sejak awal kepulangannya ke kampung halaman.
Perempuan usia seperempat abad ini masih terbelenggu akan sesuatu yang entah apa sebenarnya dirinya sendiri pun enggan mencari tahu. Karena kekosongan kegiatan dan waktu luang terlampau banyak, ia kembali terjerumus dalam siklus kebodohan.
Menjelang bulan suci Ramadhan, hati kecilnya mencoba berontak lebih keras. Bagaimanapun caranya, perempuan ini harus diselamatkan. Dari tekanan sosial, ekspektasi keluarga, sudut pandang kawan-kawan sebaya, dll. Ia butuh sebuah turning point. Maka, momen ibadah suci selama satu bulan ini sangat pas untuk mengejar momen itu. Hati kecil bersuara setiap hari, setiap waktu. Dan pada satu malam sebelum masuk puasa, suaranya terdengar oleh si perempuan.
Begitulah sebulan berlalu, meski satu dua kali terjungkal, hati kecil selalu sigap menyemangati perempuan ini. Pasca merayakan Hari Kemenangan, perempuan ini seperti mendapatkan kembali gairah hidup. Bertemu sapa dengan keluarga yang sudah bertahun lamanya berjarak, mengisi ruang-ruang kesepian yang ia simpan sendiri.
Tidak hanya karena keluarga, reuni bersama teman semasa remaja betul-betul meningkatkan semangatnya. Meski belum banyak berbincang, tapi senyum dan keceriaan yang ia dapat adalah amunisi ruang-ruang hampa dalam jiwanya. Oh, begini indahnya melepas rindu.
Dan, makin rajin ia berusaha menyusun rencana masa depannya, Allah meniupkan kabar gembira ke sekian. Sebuah kesempatan untuk mendapat pekerjaan. Bukan sebuah pekerjaan yang ia impikan, tapi setelah perenungan dalam-dalam, ini bisa jadi jembatan menuju mimpinya yang sesungguhnya.
Hati yang telah terisi kebahagiaan, mencari jalan kembali pada Tuhan. Selama ini ia menyadari, jarak yang ia buat antara dirinya dengan Allah. Ia tidak ingin seperti itu lagi, ia ingin mendekat, meski harus merangkak.

















