Merasa Berjasa
Dari membaca peran sahabat nabi, aku merasa bahwa perjuangan tidak hanya dipikul oleh sahabat-sahabat pentolan. Ada banyak yang namanya tidak disebutkan dalam sejarah namun tanpa mereka, perjuangan akan pincang jalannya.
Pun sama di sejarah sebelum Nabi Muhammad. Kita tidak pernah tahu nama 3 rasul dalam surat Yasin dan nama pemuda dari ujung kota yang membenarkan ketiga rasul itu. Kita tidak pernah tahu nama pembesar Fir'aun yang menolong Nabi Musa. Dan banyak penolong-penolong agama Allah yang "tersembunyi" dari sanjungan penduduk bumi.
Kita mudah tertipu dengan "ukuran" besar kecilnya amanah dan dampaknya. Kuantitas dan ukuran materialis jadi tolok ukur kesuksesan. Kita berpikir engagement dan dampak yang besar adalah akibat dari perbuatan kita.
Lalu sampai batas mana quote "amanah itu tidak ada besar dan kecil" berlaku?
Besar-Kecil vs Berat-Ringan
Amanah itu ada lingkupnya. Mulai dari:
Diri
Keluarga
Umat
Negara
Dan tergantung bentuk atau jenis amanahnya apa. Terus taruhannya nyawa atau bukan. Urgensinya apa sehingga harus dilakukan, atau seberapa fatal jika tidak dilakukan.
Simpleness itu bicara tentang framework. Ada orang yang sepanjang hidupnya sudah terinternalisasi dengan kebenaran, sehingga amanah level negara pun mudah baginya. Tapi kemudahan dan kesulitan dalam menjalankannya itu tidak mengubah fakta bahwa amanah tersebut memang sudah 'besar' atau 'kecil' pertaruhannya sejak awal.
Tapi easyness itu bicara tentang algoritma. Nggak semua orang mudah untuk "running" algoritma tertentu, sekalipun dia punya library, rules, dan tools-nya.
Makanya mulia di hadapan manusia tidak menjamin mulia di hadapan Allah. Bukankah banyak sahabat-sahabat nabi dengan jobdesk yang keliatannya sepele, jauh dari apresiasi dan tepuk tangan, namun di akhirat kelak Allah hargai mastatho'tum-nya mereka? Kita bahkan tidak pernah tahu lagi jobdesk Arqam bin Abil Arqam setelah fase hijrah. Tapi yang jelas, beliau pasti punya amanah tertentu yang umat tidak perlu tahu.
Itu juga yang bikin sahabat sekaliber Khalid bin Walid dan Amr bin Ash nggak sepede itu merasa bisa sejajar dengan assabiqunal awwalun sekalipun keduanya memegang urusan level negara dan pemerintahan. Boro-boro merasa berjasa, mereka justru merasa diri mereka selalu kurang beramal dan tidak terjamin surganya/syahidnya.
Ada hal menarik juga dari salah satu temenku di SMA dulu. Dengan bodohnya aku simpati kepada dia saat dia ditempatkan di divisi logistik sementara teman-temannya di jabatan yang 'terpandang'. Saat aku utarakan, dia menginvalidasi perasaan simpatiku dan di titik itu aku sadar betapa kerennya dia di usia itu.
"Pahalamu sesuai dengan kadar kepayahan yang engkau rasakan."
Begitulah sabda Nabi kepada Aisyah. Ini bicara tentang effort yang dikeluarkan. Beda kan, kalau mau mindahin 10 liter air pakai wadah 2 liter dengan pakai wadah 5 liter? Yang kapasitasnya lebih kecil, effort-nya harus sekian kali lipat lebih besar. Effort itulah yang dinilai pahala.
"Amanah tak pernah salah pundak."
Benar. Tapi sebagai "pundak" juga jangan sombong dan merasa berjasa. Tapi juga jangan mendramatisir seolah-olah gak mampu. Kalau udah tau amanahnya berat, ber-isti'ablah, tingkatkan kapasitas diri. Supaya effort-nya bisa lebih efisien (nggak hambur) dan energinya bisa dialokasikan ke ladang-ladang amal lainnya. Soalnya masih banyak yang perlu kita kerjakan.
Terakhir, ada satu hikmah menarik tentang merasa berjasa. Dikisahkan dalam buku Ibnu Athaillah, Mengapa Harus Berserah bahwa para sahabat sangat memerhatikan keadaan hati mereka, mengikhlaskan amal mereka, dan takut kalau berbuat bukan karena ridha Allah.
Kata Syekh Abu Muhammad al-Marjani, ketika Allah menurunkan surat At-Taubah (9) : 111 yang berbunyi:
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung."
Ada beberapa orang yang mendengar ayat tersebut dan mereka merasa senang dengan transaksi itu. Mereka senang karena Allah telah membeli dari mereka, memuliakan kedudukan mereka, ridha bertransaksi dengan mereka, mereka senang karena dibayar dengan harga yang tinggi dan pahala yang besar.
Di sisi lain, ada segolongan orang yang berwajah muram dan memerah karena malu kepada Allah. Sebab Allah membeli dari mereka sesuatu yang sesungguhnya merupakan milik-Nya. Andaikata mereka tidak menyembunyikan rasa memiliki terhadap milik Allah itu, tentu Allah tidak akan berkata, “Allah telah membeli dari orang yang beriman.”
Karena itu, golongan yang senang dan gembira akan mendapatkan dua surga yang wadah dan isinya berasal dari perak. Sementara, kelompok yang berwajah muram akan mendapatkan dua surga yang wadah dan isinya berasal dari emas.
Seandainya orang beriman tidak merasa memilikinya, tentu Allah tidak perlu melakukan akad jual beli dengan mereka. Karena itu, Allah mengatakan, “Allah telah membeli dari orang yang beriman,” bukan, “dari para nabi dan rasul.”
Syekh Abu al-Hasan berkata, “Jiwa manusia terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu jiwa yang tidak dibeli karena tidak berharga, jiwa yang dibeli karena kemuliaannya, dan jiwa yang tidak diperjualbelikan karena kemerdekaannya. Kelompok pertama adalah jiwa orang kafir. Mereka tidak dibeli karena hina dan tak berharga. Kelompok kedua adalah jiwa orang yang beriman. Mereka dibeli karena kemuliaannya. Kelompok ketiga adalah jiwa para nabi dan rasul. Mereka tak diperjualbelikan karena mereka adalah jiwa-jiwa yang merdeka.”
Orang yang akan dihisab hanyalah yang merasa beramal.
Bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki apa-apa akan dihisab? Dan bagaimana mungkin orang yang merasa tidak melakukan apa-apa akan dipertanyakan amalnya? Orang yang akan ditanya hanyalah orang yang lalai dan merasa diri mereka memiliki atau ikut berbuat bersama Allah.
Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, "Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar"
Al-Hujurat (49) : 17
Akhir kata, selalu, untuk diri sendiri yang kedatangan amanah-amanah baru yang memang tidak besar. Mudah-mudahan selalu mengasah sense of urgency sehingga tidak menyepelekan penunaian amanah sekecil dan semudah apapun. Terima kasih kepada Allah yang selalu mengingatkanku agar tidak silau terhadap jabatan, kedudukan, dan amanah-amanah yang tampak 'besar' dan 'luas' cakupannya. Yang terpenting bukan besar-kecilnya, melainkan kesiapan ditempatkan di besar-kecilnya, berat-ringannya, dengan level mastatho'tum yang sama.
— Giza, tahu kok bisikan setan bisa masuk lewat membandingkan amanah demi amanah dan perasaan berjasa









