“Ris, maafin aku. Tadi ada Quiz dadakan yang diadain dosen IT pusat. Jadi, aku harus presentasiin jawaban yang aku tulis.”
Riska mengunci mulutnya rapat-rapat. Terus melangkahkan kakinya ke arah selatan, seolah tak mendengar alasan-alasan yang Andra lontarkan.
“Ris, aku tau aku udah bikin kamu nunggu sampe sejam lamanya. Tolong, Ris, maafin aku.”
Gadis berkerudung itu masih terdiam dan meneruskan langkah kakinya yang semakin cepat.
“Riska, aku tau aku salah. Maafin aku, dong...” Sekali lagi Andra memohon. Kali ini ia memposisikan tubuhnya tepat di hadapan Riska. Hingga secara refleks berhasil membuat gadis mungil itu menghentikan langkah kakinya.
“Ada satu syarat yang harus kamu lakukan.” Kali ini Riska membuka suara. Matanya menatap tajam bola mata Andra.
“Kamu harus temenin aku ke toko buku. Sanggup?” Riska berujar sambil berkacak pinggang di depan Andra yang tertawa terbahak-bahak mendengar syarat yang Riska pinta.
Andra mengehentikan tawanya. “Cuma itu?”
“Siap, tuan putri!” Jawab Andra sambil membungkukan badannya. Memposisikan Riska bak seorang Putri kerajaan. Senyum manis tersungging di bibir Riska. Inilah yang selalu membuat Riska merasa nyaman berada di samping Andra hingga ia pun hampir tak pernah bisa marah untuk waktu yang lama padanya.
“Aku mencintaimu, Ris.” Tiba-tiba saja dua kata ajaib itu muncul dengan bebasnya dari mulut Andra. Sambil terus menggenggam tangan gadis berkerudung yang ada di hadapannya, ia menatap mata hitam itu. Seolah menaruh harap yang lebih disana.
“Aku juga mencintaimu, Ndra.” Ucap Riska dengan senyuman tulusnya. Matanya menerawang ke arah langit yang telah menampakkan senja. Entah, kali ini ia merasa bahwa senja nampak begitu teduh.
Memori Riska bernostalgia pada masa dimana ia bertemu dengan Andra belasan minggu yang lalu. Di sini, di sebuah kebun teh yang begitu sejuk, dimana kala itu sedang diadakan Malam Pengakraban Mahasiswa Baru oleh fakultas. Kala itu, Riska dengan tergopoh-gopohnya naik turun ke atas panggung. Mencari michropone cadangan untuk drama musikal yang akan ia mainkan di malam pengakraban itu. Hingga pada akhirnya dunia berkonspirasi, mempertemukan ia dengan Andra yang kala itu benar-benar membuat hati Riska begitu tenang. Bibir mungil Riska sedikit menyunggingkan senyum mengingat masa-masa itu. Begitu konyol.
“Iya, Ndra?” Jawab Riska dengan nada yang begitu lembut. Sungguh membuat hati Andra luluh dengan sendirinya.
“Maafkan aku yang nggak selalu bisa bersama kamu.”
Riska menatap mata itu. Mencoba menelusup masuk ke dalam tatapan nanar yang terhalang ole lensa kacamata yang Andra kenakan. Tiga menit kemudian, ia tersenyum. “Kamu disini aja, udah lebih dari cukup buat aku.” Jawab Riska yang kemudian disusul senyuman lega di bibir Andra.
Tatapan mereka saling berpadu. Menjadi satu dalam satu senyuman. Begitu hangat dan dekat. Namun, siapa yang mampu mengira, jika jauh di dalam relung hati Riska ada ribuan rasa sesak yang menyerbu. Ia tak tahu, apakah ia bisa untuk berharap lebih dari ini. Senyum manisnya berubah menjadi senyuman getir saat pandangannya bertumpu pada benda itu. Benda yang sudah Andra kalungkan di lehernya sejak ia masih berusia sepuluh tahun; Kalung Salib.
Segalanya terasa begitu manis, walaupun juga tak dapat dipungkiri jika semua juga terasa begitu asing. Indah memang, dikala cinta mampu mengubah segala hitam dan putih menjadi ribuan warna warni yang menyatukan hati. Serbuan rasa bahagia itu semakin sempurna ketika waktu semakin mendekatkan cinta pada satu tahap yang lebih dalam dan begitu dekat.
Jam tambahan mata kuliah wajib sudah usai setengah jam yang lalu. Disinilah kaki Andra terhenti. Duduk terdiam di sebuah bangku panjang tepat di depan tempat ibadah itu. Tempat ibadah yang mungkin tak akan ia kunjungi seumur hidupnya. Tempat ibadah yang selamanya tak akan ia biarkan langkahnya mendekat dan menginjak lantai dingin serta duduk di atas permadani indah diadalamnya; masjid. Dengan sabar, ia menunggu kekasihnya selesai sholat Dzuhur.
Tiga menit kemudian, pandangannya tertuju pada seorang gadis yang mengenakan kerudung abu-abu mendekat kearahnya. Dalam alir otaknya, gadis itu terlihat begitu lucu. Rok bunga-bunga yang ia kenakan hingga menyisakan punggung kakinya tersebut begerak seirama dengan langkah yang ia hentakkan. Membuat Riska terlihat begitu menawan.
“Lama nunggunya, ya?” Tanya Riska sambil merapikan mukenah yang ada di dalam tasnya.
“Ah, nggak kok. Tenang aja.” Katanya sambil memerhatikan wajah Riska secara seksama, membuat gadis itu terheran dibuatnya.
“Kenapa ngeliatin aku gitu, sih?” Tanya Riska sambil memelototkan matanya.
“Kamu cantik, Ris.” Jawab Andra sambil terus menatap bola mata gadis itu, melukiskan semu merah di pipinya. Di tengah senyuman manis yang Riska ukir di bibirnya, jauh di lubuk hati Andra terus mengiang sebuah pertanyaan. “Hingga sampai kapan senyum manis itu pantas untuk kunikmati?”
“Besok tanggal 6 Januari, Ndra...” Ujar Riska sambil melepas helm yang ia kenakan.
Riska memelototkan mata. “Loh, kok lalu? Jangan lupa untuk ibadah Minggu Ephipanias di gereja kamu.” Jawabnya mengingatkan Andra yang terlihat masih linglung.
“Oh, iya! Untung kamu ingetin, Ris.”
“Kok bisa lupa, sih? Nanti Tuhan marah sama kamu, loh.” Goda Riska sambil mencubit perlahan lengan Andra.
“Ya Tuhan, Maafkan Andra.” Kata Andra sambil menengadahkan tangannya ke udara. Membuat Riska tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyolnya. Dalam tawa kali ini mereka saling menguatkan. Ada setitik kebahagiaan yang mereka rasakan. Kebahagiaan yang tak bisa dimengerti banyak orang. Kebahagiaan yang menyelimuti beda, kebahagiaan yang belum tentu bisa dirasakan oleh orang-orang yang sibuk menghakimi perbedaan mereka.
Andra sedikit iseng melongokkan kepala ke arah jendela rumah Riska. “Mama sepertinya udah nunggu kamu, tuh. Buruan masuk. Jangan lupa sholat Isya’ dan jangan tidur kelewat larut lagi, ya.” Pesan Andra sambil menggenggam tangan Riska. Riska tersenyum sambil mengangguk. Entah mengapa, kali ini Andra merasa bahwa senyum dan tawa Riska kali ini begitu beda. Ada rasa takut yang tiba-tiba menyeruak di hati Andra. Rasa takut kehilangan dan rasa takut untuk tak bisa menikmati senyum manis milik Riska itu.
“Iya, hati-hati ya, Ndra. Makasih untuk hari ini.” Ujar Riska. Sepersekian detik kemudian Andra mengarahkan laju motornya menjauh pergi dari pelataran rumah Riska. Riska masih berdiri ditempat itu, hingga punggung Andra tak terlihat lagi. Menghilang dibalik pohon besar di pertigaan komplek rumahnya.
Benar saja yang Andra katakan. Mama telah menunggu Riska di ruang tamu. Wajahnya temaram kelam layaknya menunggu seseorang. “Mama, belum tidur?” Riska menghampiri ibunya dan kemudian mencium tangan lembutnya.
“Pulang sama siapa?” Tanya Mama singkat.
“Sama Andra, Ma” Jawab Riska yang tak juga kalah singkat.
“Kenapa masih sama dia, sih?”
Riska terdiam. Ia tahu, kemana arah pembicaraan ini akan tertuju.
“Nggak inget nasehat Mama, Riska?”
“Cinta tak mungkin bersatu dalam beda.”
Riska terdiam sejenak. Memalingkan muka ke lain arah. Sambil bangkit berdiri ia berkata, “Semua agama itu sama, Ma. Tuhan tetap satu. Hanya cara menyembahNya saja yang berbeda!” Bentak Riska ketus. Mama hanya terdiam memandangi putrinya.
Dengan kesal, Riska melangkahkan kaki meninggalkan Mamanya. Pintu kamar ia banting sekeras mungkin. Meluapkan emosi dan rasa kesal dalam hatinya. Betapa ia benci dijejali pertanyaan sampah macam itu. Ia sadar dan mengerti, betapa apa yang ia perbuat barusan pada ibunya begitu laknat dalam ajaran agamanya. Namun, haruskah selalu seperti itu? Haruskah orang yang ia cintai memiliki agama yang sama, memiliki tempat ibadah yang sama, dan salahkah jika cinta mereka harus menyatu dalam beda?
Hari ini, cuaca terlihat sedikit mendung namun hujan tampak tak turun juga. Kicauan burung gelatik di atas atap yang mulai ramai dengan kedatangan jemaat gereja membuat suasana semakin teduh. Andra terduduk di deretan kursi nomor dua dari tempat pendeta berdiri. Hari ini adalah jadwal untuknya melaksanakan ibadah Minggu Epiphanias bagi umat Kristiani. Sambil membolak-balikkan lembar demi lembar kitab sucinya, pikiran Andra tertuju pada Riska. Seandainya saja Riska ada disini. Duduk manis dengan senyuman cantiknya, menemaninya menyenandungkan pujian-pujian untuk Tuhan.
Di waktu yang sama, Riska baru selesai membasahi wajahnya dengan air wudhu. Ia menggelar sajadah dan bersiap untuk memulai sholat Dhuha. Mukena putih yang terlipat di atas sajadah itu ia kenakan hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia menghela nafas berat, dan kemudian mulai membayangkan seandainya sosok lelaki yang ia cintai saat ini menjadi sesosok imam yang bisa memimpin setiap ibadahnya. Melebur dalam satu tumpuan doa, mengakhiri doa dalam satu ucapan salam yang bersamaan.
“Allahu’akbar...” Riska memulai ibadahnya dengan takbir.
“Satukanlah hati kami ‘tuk memuji dan menyembah, Yessus Tuhan dan Rajaku. Eratkanlah tali kasih di antara kami semua.” di tempat yang berbeda, Andra memulai ibadah dengan nyanyian puja-puji, tangannya terkepal erat.
“Alhamdulillahirabbil’alamin... Arrahmanirrahiim.... Maliki yaumiddin. Iyya, kana’buduwwa iyya kanasta’in...” Riska memejamkan matanya, mengucapkan kalimat-kalimat suci pada Tuhan yang disembahnya.
“Eratkanlah tali kasih di antara kami semua... oh Yesus dan Rajaku. Bergandeng dalam tangan dalam satu kasih..”
“Ihdinnassyiratalmustaqiem.. shyirattal ladinna an’am ta’alaihim...”
“Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, Ibadah ini dibuka; di dalam Nama Allah Bapa, anakNya Yessus Kristus dan Roh Kudus khalik langit dan Bumi..” Pendeta gereja itu memulai ibadah Epiphanias di gereja yang Andra duduki saat ini.
“Ghairil maghdu bialaihim waladdhalin... amiin...”
“Amin... terpujilah Kristus, Allah bapa dan Roh Kudus!” Andra melayangkan tangannya ke atas dahi, pundak dan kemudian menyium jemarinya.
Pada sembahyang kali ini, Riska merasakan khusyuk yang teramat sangat. Dalam sujud terakhirnya kali ini, ia memohon dengan segenap jiwa dan raganya. “Subhankallahumma Rabbana Wabihamdika Allahummaghfirliy.. Maha Suci Engkau Ya Allah, Ya Rabb, kami dan Dengan MemujiMu Ya Allah, aku memohon ampunanMu.” entah mengapa ia merasakan setitik air mata turun dari bola matanya yang terpejam.
Di lain tempat, Andra juga tak kalah khusuk dengan ibadahnya. Tangannya tetap terkepal sambil mengumandangkan Pengakuan Iman Rasuli yang dipimpin oleh pendentanya. Nafasnya berhembus, entah mengapa kali ini terasa begitu berat dan sedikit terasa sesak.
“Mahasuci Engkau Ya Allahhurabbi, beri lah petunjuk untuk hati, perasaan dan jalan hidup Hamba...”
“Kusiapkan hatiku Tuhan, mendengar firmanMu saat ini. Kusujud menyembahMu Tuhan, dalam hadiratMu saat ini. Curahkan ucapanMu Tuhan, bagi jemaatmMu saat ini...”
Dalam tangis, Riska masih menengadahkan tangan yang tersembunyi di balik mukenahnya. “YaAllah, sang Maha Mengerti Hati dan perasaan hambaNya, kuatkanlah hamba. Kiranya Engkau mau memberikan petunjukMu. Untuk Masa depan hamba, hidup, dan mati hamba...”
“Kusiapkan hatiku, Tuhan. Mendengar firmanMu, yang tiada berubah. Dahulu sekarang, selama-lamanya tiada pernah berubah. Kusiapkan hatiku, Tuhan... Mendengar FirmanMu....”
“Allah, sang Maha Pendengar do’a-do’a hambanya, kiraNya Engkau mau memberi hamba, menyiapkan calon pemimpin yang baik untuk hamba, calon imam yang baik dan tawakal. Yang mampu membimbing hamba untuk terus berada di jalanMu, ya Allah...”
Andra masih mengumandangkan pujian-pujian dalam ibadahNya kali ini. Dalam hati, ia memohon dengan satu permohonan yang sama dengan Riska. “Tuhan, kuserahkan hatiku, semua kuberikan padaMu. Kuduskan hingga tulus selalu, agar aku menyenangkanMu...”
“Rabbana atina fiddun yaa hasanah, wafil akhirati hasanah, wakinna adza bannar... Amiiin...” Riska menutup sembahyangnya.
“Haleeluyaa... Shaloom...” Andra juga menutup doa beserta puji-pujiannya. Tanpa terasa air matanya luluh. Meluncur dengan bebasnya. Sepersekian detik kemudian, ia tersenyum ke arah pendeta yang mengangguk kepadanya.
“Selesai dhuha, nak?” Tanya Mama yang tiba-tiba menampakkan diri di balik pintu kamar
“Iya, Ma.” Riska menyunggingkan senyum manis di bibirnya sembari melipat mukenah.
“Jangan lupa ya, besok malam, ada pertemuan keluarga kita dengan keluarga besar H. Subroto.”
Riska terdiam, tahu kemana arah pembicaraan ini tertuju; rencana pertunangannya.
Ia hanya bisa mengangguk pasrah dengan pilihan kedua orang tuanya. Memang, sampai kapanpun Ia dan Andra tak akan pernah bisa bersatu meski seberapa kuat ia memaksa. Ujian dan tembok penghalang begitu tinggi. Antara ia ataupun Andra tentu juga saling memegang kuat-kuat keyakinan yang mereka yakini sejak lahir. Ia dengan tasbihnya, Andra dengan kalung salibnya. Tentu, tiada satupun dari mereka akan rela, membiarkan cinta yang lebih kuat daripada Kuasa Tuhan. Mestinya perbedaan bukanlah sebuah alasan, harusnya cinta bisa memberi jalan untuk menyatukan setiap harapan. Ya, harusnya...
Jatuh cinta adalah dua kata yang sulit untuk dijelaskan. Ia tak terdefinisi. Soal hati dan perasaan, kata-kata seolah tak cukup ahli untuk memaparkan keduanya. Tidak, kali ini bukan waktunya lagi untuk berbicara tentang cinta. Ini semua tentang kenyataan, tentang dunia yang begitu rumit untuk diselami.
Semua berawal manis dan Indah. Perkenalan itu memang tanpa sengaja. Tentu saja, kita menganggap semua itu terjadi secara kebetulan. Sebuah kebetulan yang masih terlalu kelabu untuk dimengerti.
Mereka berpadu dalam satu tatapan. Riska tahu, air matanya kini memanglah sia-sia, karena yang dibutuhkan disini adalah sebuah kedewasaan. Ia menarik nafas dalam-dalam, baru kali ini ia merasakan bahwa ternyata bernafas bisa terasa begitu menyakitkan.
“Kamu beneran, Ris?” Tanya Andra dengan suara sedikit bergetar.
Riska mengangguk lemah. Tangannya merogoh ke dalam tas, mencari-cari sesuatu. Sesaat kemudian—dengan gerak yang perlahan—ia menyerahkan benda itu pada Andra; undangan pertunangannya.
“Andra, maafkan aku...” Ujarnya sambil terus meneteskan air matanya. Suaranya begitu lirih namun Andra masih mampu mendengarnya.
Andra menghela nafas berat sesaat setelah mencoba membaca kalimat demi kalimat yang tertera di undangan itu. Seakan-akan pedang menghujam jantungnya. Bukan namanya yang akan bersanding dengan Riska, bukan sosoknya yang nanti akan menyematkan cincin itu di jari manis Riska. Matanya mulai berair, namun sebisa mungkin ia tak akan membiarkannya untuk terjatuh.
“Riska, tatap aku. Lihat aku.” Ujar Andra sambil menggenggam jemari Riska begitu erat. Seolah tak mampu berkata, Riska terus saja membungkam. Tak kuasa menatap mata Andra yang mencoba untuk terlihat tegar.
“Riska, aku selalu memaafkanmu. Bahkan sebelum kau meminta.” Andra menghentikan ucapannya, mencoba menyelami kilatan penuh luka di tatapan sendu Riska. “Namun, apa daya jika Tuhan memang menginginkan semua berhenti dan cukup sampai disini?”
Kini, giliran hati Riska yang begitu teriris. Ia semakin tak mampu menahan air matanya untuk terjatuh. Matanya terpejam, bahunya bergetar hebat. Mencoba menahan rasa pedih yang menyayat hatinya. Ia tak akan mengira bahwa akhirnya akan seperti ini. Andai sosok pria di hadapannya itu tak berbeda dengannya, andai sosok pria yang kini menggenggam erat tangannya itu tak mengalungkan salib di lehernya, dan andai sosok pria yang ia cintai kini benar-benar sama seperti sosok pria pilihan kedua orang tuanya.
“Riska, percayalah semua akan berjalan baik-baik saja. Jangan khawatir, aku akan hadir di pesta pertunanganmu nanti.” Ujar Andra sambil memegang bahu Riska, seolah memberinya kekuatan. Senyum yang tertoreh di bibirnya kali ini terasa begitu pahit dan menyesakkan.
Tanpa pikir panjang, Riska meraih tubuh andra. Memeluknya kuat-kuat. Membiarkan Andra merasakan jantung yang berdetak hebat dan begitu menyayat. “Andra, tolong maafkan aku.” Pinta Riska sekali lagi.
Andra tersenyum tulus sambil mengusap kepala mungil Riska yang tertutup kain. “Kamu nggak perlu minta maaf. Inilah kehendak Tuhan. Hapus air matamu, Ris. Tuhanmu pasti nggak suka melihat gadis sepertimu menangis.” Upaya Andra untuk menahan air matanya pun goyah, setitik mutiara bening pun terjatuh dari kelopak matanya.
“Andaikan aku tak berbeda, akankah namaku bisa bersanding dengan namamu di undangan pertunangan itu, Ris?”