Seperempat Ons Karet Kenangan
Duh kalau inget " Permainan Tradisional " yang terlintas pertama kali di kepala pasti lompat tali. Biarpun kelahiran gen z pertengahan tapi syukurnya masih sempat merasakan bermain permainan tradisional tanpa mengenal gadget di dalamnya.
Alasan kenapa yang terlintas di pikiranku langsung lompat tali karna itu makananku sehari hari ketika duduk di bangku sd. Rasanya rugi banget ketika bel istirahat berbunyi ngga langsung siap-siap main lompat tali. Biasanya kami akan membagi tim menjadi dua. Aku si anak yang agak jumbo ini, lebih sering mendapat peran jadi anak bawang. Bukan karna tak pandai melompat, hanya saja terkadang ketika masuk level lompatan setinggi menara Burj Khalifa~ badan dan lompatanku tidak bersahabat. Saat karet mulai diangkat setinggi dada atau 1 cm di atas kepala udah pasti aku kalang kabut panik tak tertolong. Untungnya teman-temanku pada baik, kalaupun aku gagal ya sudahlah mereka sudah tau itu dan tetap menerimaku.
Tentunya aku ingin tetap berguna. Aku dengan segala inisiatifku menabung sisa uang jajan harian agar cukup membeli setidaknya seperempat ons karet di warung. Ketika sudah terbeli aku akan merangkainya menjadi lompat tali yang siap kami mainkan. Tak jarang juga kadang aku merangkai tali karet dari karet bekas yang kutemukan di rumah, mulai dari sela sela dapur, di atas kulkas, atau karet yang tergantung di kran wastafel. Sedikit demi sedikit terkumpul dan terangkai yang kukerjakan sendiri sembari menonton tv di ruang tamu.
Kini tali karet itu mungkin sudah hilang, entah tercecer di gudang belakang atau terkubur dalam kotak yang tak pernah lagi kubuka. Mungkin juga tali karet itu sudah putus, hanya rinduku akan kenangan yang masih tersambung










