Bolehkah sedikit aku bercerita?
Bercerita untuk mengabadikan satu fase pembelajaran penuh makna dalam hidup sebagai upaya ku menjaga cinta-Nya.
Tentang rasa kagum yang sejalan dengan fitrah, namun mengendalikannya menjadi sebuah keharusan.
dia --Terlampau istimewa keberadaannya di fase hidupku saat ini. Sampai-sampai aku tak berani sama sekali untuk mendekat. Ketidak sengajaan dalam mengenalnya yang tak pernah ada dalam rencana hidupku sama sekali. Ketertarikan bermula karena sosoknya yang terasa begitu familiar bagiku.
Di satu sisi, ada kekhawatiran jika kehadiran ku akan mengganggunya. Ada cita-cita yang sedang dia kejar. Ada keimanan yang sedang dia pertahankan. Langkah keputusan ku menjauhinya menjadi keputusan paling bijak dan dewasa untuk menjaganya. Utamanya tentu untuk menjaga keimanan ku sendiri.
Ada ketenangan yang tidak ingin aku usik. Ada keindahan yang harus tetap abadi dan bertumbuh. Jika takdir telah ditetapkan, maka sudah seharusnya aku fokus menata diri.
Perjalanan ini masih berlanjut. Aku masih belum tahu hadirnya hanya sebagai ujian atau sekaligus jawaban atas doa?
Aku tak ingin tergesa dalam menyimpulkan. Biarlah sekarang aku menikmati dengan sadar setiap hal yang dihadirkan-Nya sebagai proses pembelajaran untukku. Aku pun masih butuh waktu untuk bertumbuh. Untuk seperti apa endingnya nanti, aku meyakini bahwa apapun itu sudah yang terbaik menurut-Nya.
Cukup aku pastikan jiwa ku tetap tenang dan percaya bahwa semua ada dalam kendali-Nya. Semuanya akan baik-baik saja selama aku selalu melibatkan-Nya dan tak bersikap berlebihan pada sesuatu yang belum tentu menjadi takdir ku.