Menggenggam Layang-Layang
Tadi saat aku sedang merapikan lemari baju, aku menemukan tshirt putih dengan gambar layang-layang di tengahnya. Aku terdiam. Baju itu jarang kupakai, berapa kalinya bisa dihitung dengan jari. Tapi, satu yang kuingat, aku pernah memakainya ketika bertemu dia.
Layang-layang.
Aku tidak pernah memperhatikan layang-layang itu seintens ini sebelumnya. Baru hari ini--setelah waktu berjalan sedemikian lamanya, bergerak sebegitu jauhnya dari hari terakhir aku mengenakan tshirt itu. Rasanya masih semendebarkan itu.
Waktu itu, hari minggu siang, ketika cuaca sedang panas-panasnya, sebuah pesan masuk menyejukkan hariku mendadak. “Wanna go for some coffee?”--tertulis di sana. Jujur, saat itu kondisi badanku sedang drop. Batuk tak kunjung sembuh, pilek berkepanjangan, sampai tidak ada suara yang bisa keluar. Tapi, aku tetap mengiyakan ajakannya.
Aku ingat sekali, aku memakai tshirt putih bergambar layang-layang itu dipadukan dengan rok hitam. Sempurna. Tak perlu menunggu lama, dia tiba dan kami berangkat bersama menuju kedai kopi favoritnya. Sepanjang perjalanan, kami mengobrol banyak. Beberapa minggu tidak bertemu dengannya ternyata membuatku menyadari sesuatu; aku...rindu.
Tapi, aku tahu, dia tidak.
Baginya, aku hanya penghangat bayang kosong di kesepiannya. Aku tahu itu ketika dia mulai bercerita tentang cinta dan harapan. Dia tidak begitu yakin akan cinta ketika seseorang pernah pergi darinya setelah dia memberikan segalanya. Aku paham itu, sorot matanya yang memancarkan kilat nostalgia, aku tahu itu, aku pernah merasakannya juga.
“Aku sudah tenggelam. Tapi, dia hanya di tepi pantai melihat aku yang mengelalar--tanpa menolongku.” Begitu katanya. Saat itu, aku ingin mengusap pipinya yang bersedih, tapi sekeras apapun aku berusaha, tanganku tetap kaku. Hari itu adalah momen yang tidak pernah aku inginkan dalam kalenderku. Karena selepasnya...dia pergi.
Sungguh sensasi yang asing.
Aku masih terdiam menelusuri setiap detail gambar layang-layang itu. Aku mendadak tak berfungsi. Hanya bisa meratap, bagaimana mungkin aku bisa kembali ke pusaran memori itu? Begini, dalam waktu dua minggu setelah pertemuan pertama, dia membuatku begitu candu. Mengacaukan irama tidur, mengubah program senyum di wajah, merapikan kepingan hati yang sebelumnya teracak.
Dia berhasil membuatku merasa; akulah yang paling tepat menyembuhkan lukanya. Tapi, aku terlalu cepat menyimpulkan. Aku hanya sekadar penyelamatnya--untuk dilupakan seketika. Tidak pernah ada lagi ajakan menikmati kedai kopi baru, nama itu pelan-pelan tenggelam, hingga secarik kabarnya pun aku sungguh tidak tahu. Dia lenyap bagai kembang api pertama di malam tahun baru.
Jam tidurku kembali di angka sebelas. Akhir pekanku kembali dihabiskan di rumah. Ponselku kembali diisi dengan barisan teman-teman lama. Dia tidak ada di mana-mana. Aku kehilangan dia. Dan apakah dia juga merasa kehilanganku, menjadi sakit kepalaku setiap harinya.
Saat aku ingin memasukkan tshirt layang-layang itu ke dalam lemari, pikiranku terbentur sesuatu. Bagaimana jika selama ini dia adalah layang-layang dan aku selamanya adalah orang yang menggenggam layang-layang itu? Aku ajari dia cara terbang, melawan angin hingga mengerti langit. Dia...bebas. Sementara aku terus terikat, bersusah payah membaca arah angin agar dia tidak kerepotan di sana, mengikuti ke mana dia pergi, tanpa bisa aku lepas. Karena aku tahu, jika aku melakukannya, aku pasti akan kehilangan dia.
Aku benci dejavu. Aku ini penunggu yang tidak beruntung. Dia yang kutunggu tidak pernah tahu aku menunggunya. Mungkin sudah saatnya. Sudah saatnya untuk melepas layang-layang itu. Dan seiring dengan tshirt layang-layang itu tertimbun di tumpukan baju-baju lain, aku berjanji dalam hati: tidak perlu ada layang-layang itu lagi.














