Sudah sejak dua tahun lalu aku memikirkan berbagai analogi, di antaranya mengenai kemampuan seseorang menginternalisasi suatu ilmu atau nasihat.
Pemikiran untuk membuat analogi ini datang dari pertanyaan seorang teman kepadaku tiga tahun lalu,
"Kenapa ya, kita tuh udah tau mana yang boleh dan nggak boleh, mana yang baik dan buruk, tapi kita tetep bertindak nggak sesuai dengan itu?"
Waktu itu aku nggak bisa ngasih jawaban yang memuaskan baginya dan aku juga kurang puas dengan jawabanku sendiri. Baru sekarang aku ada kesempatan untuk menuliskannya dari pencarian jawaban selama dua tahun ke belakang.
Ada analogi menarik yang ingin aku suguhkan yang merupakan hasil memikirkan hikmah dari belajar kimia dasar selama setahun di TPB dan 3 tahun di SMA.
Kalau pembacaku di sini ingat, aku pernah bikin tulisan "Compassionate Servant" yang intinya kita sebagai hamba dapat memahami/berempati kognitif terhadap apa yang Allah inginkan serta memilih melakukan tindakan yang sesuai dengan itu. Dan ada istilah fasik dalam Al-Qur'an yang merujuk pada tindakan uncompassionate, yakni orang yang sebenarnya tahu Allah maunya apa, tapi nggak bertindak berdasarkan hal tersebut.
Tulisan ini adalah tindak lanjut yang juga diharapkan dapat menjawab, "apa yang membuat seseorang menjadi compassionless?" Pertanyaan ini juga senada kan sebenarnya dengan, "apa yang membuat seseorang tidak/ sulit menginternalisasi ilmu atau nasihat yang ia ketahui?"
Jadi aku akan membahas kemampuan seseorang mempraktikkan suatu teori/ilmu/nasihat dengan perumpamaan kelarutan, yakni kemampuan suatu pelarut melarutkan zat terlarut. Correct me if I'm wrong ya, masih sama-sama belajar hehe.
Kemampuan seseorang menginternalisasi nasihat dapat dianalogikan dengan kemampuan suatu pelarut melarutkan zat terlarut. Artinya, ada output larutan baru sebagai hasil dari proses pelarutan. Sebagaimana ada output diri kita yang baru dari proses internalisasi tersebut.
Kalau ilmu atau nasihat itu adalah zat terlarut, sedangkan diri kita sendiri adalah zat pelarutnya (misal airnya) maka terbentuknya larutan (atau diri kita yang baru) akan bergantung pada beberapa hal, kan?
So, kali ini aku mau pretelin variabel-variabel tersebut untuk sama-sama melatih proses berpikir terintegrasi melalui perumpamaan.
Gula akan lebih mudah larut di air panas. Sederhananya, semakin tinggi suhu akan meningkatkan daya larutnya (walau tentu ada pengecualian terhadap zat-zat tertentu yang lebih mudah larut di suhu lebih rendah).
Suhu yang lebih tinggi meningkatkan gerakan molekul dalam pelarut, yang membantu zat terlarut larut lebih cepat. Sama halnya kondisi mental dan emosional yang baik (motivasi, antusiasme, kesiapan mental) meningkatkan kemampuan seseorang untuk menginternalisasi dan menerapkan nasihat atau ilmu.
Walaupun suhu adalah kondisi internal pelarut, dukungan eksternal seperti mentor, teman, atau lingkungan yang mendukung juga bisa diibaratkan sebagai faktor yang meningkatkan "suhu" internal individu.
Dalam analogi ini, ketika nasihat atau ilmu yang diberikan terlalu berat atau banyak dosisnya (konsentrasi zat terlarut tinggi), maka "air" (diri kita sebagai pelarut) perlu ditambah atau diperluas kapasitasnya agar bisa melarutkan nasihat tersebut dengan efektif. Ini bisa diartikan sebagai berikut:
Meningkatkan Kapasitas Diri: bertujuan untuk menerima dan memproses nasihat yang melibatkan pengembangan keterampilan seperti manajemen waktu, organisasi, dan prioritas. Dengan begitu, kita mampu menangani lebih banyak informasi tanpa merasa kewalahan.
Meningkatkan Pengetahuan dan Pengalaman: Seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman, kemampuan kita untuk mengasimilasi dan menerapkan nasihat yang lebih kompleks juga meningkat. Ini tuh sama kaya memperbesar volume pelarut untuk melarutkan lebih banyak zat terlarut.
Memberi Waktu untuk Penyerapan: Sebagaimana larutan memerlukan waktu untuk mencapai keseimbangan, kita juga memerlukan waktu untuk menyerap dan menginternalisasi nasihat atau ilmu. Tidak semua nasihat perlu diterima sekaligus; memberikan diri kita waktu untuk memprosesnya itu penting.
Mengurangi Beban atau Pengotor: Mengurangi gangguan atau faktor-faktor yang bisa menghambat proses penerimaan nasihat, seperti ego atau pengaruh negatif, dapat membantu kita lebih baik dalam memproses dan menerapkan nasihat.
Mencari Dukungan Eksternal: Meminta bantuan atau dukungan dari mentor, teman, atau sumber daya lain dapat membantu kita dalam memahami dan menerapkan nasihat. Ini kaya menambahkan komponen lain ke dalam larutan yang membantu proses pelarutan.
Beberapa nasihat atau ilmu lebih mudah diterima dan dipraktekkan, sama seperti beberapa zat terlarut lebih mudah larut dalam air.
Kelarutan Zat Terlarut: Dalam kimia, kelarutan zat terlarut menunjukkan seberapa baik suatu zat dapat larut dalam pelarut tertentu. Beberapa zat larut lebih mudah daripada yang lain. Dalam konteks nasihat, kelarutan zat terlarut dapat dianalogikan dengan relevansi dan keterkaitan nasihat dengan situasi atau kebutuhan seseorang. Nasihat yang lebih relevan dan sesuai dengan kondisi seseorang akan lebih mudah "larut" atau diinternalisasi (relevansi mempengaruhi kesiapan dan penerimaan).
Polarisasi dan Struktur Molekul: Struktur molekul dan polaritas zat terlarut mempengaruhi bagaimana zat tersebut berinteraksi dengan pelarut. Molekul yang memiliki struktur atau polaritas yang sesuai dengan pelarut akan lebih mudah larut. Nasihat yang memiliki struktur atau pola pikir yang sesuai dengan nilai, pengalaman, atau framework seseorang akan lebih mudah diterima dan diinternalisasi.
Konsentrasi Zat Terlarut: Jumlah zat terlarut yang ditambahkan ke dalam pelarut mempengaruhi proses pelarutan. Terlalu banyak zat terlarut bisa menyebabkan kejenuhan, di mana tidak semua zat terlarut bisa larut. Jika seseorang diberikan terlalu banyak nasihat atau informasi yang tidak relevan, mereka bisa menjadi kewalahan atau jenuh, sehingga mengurangi efektivitas internalisasi. Penting untuk menyesuaikan jumlah dan relevansi nasihat dengan kemampuan dan kebutuhan individu.
Pengadukan bisa dianalogikan dengan usaha dan latihan yang dilakukan seseorang untuk benar-benar menginternalisasi dan mempraktekkan ilmu tersebut. Yang menarik adalah pengadukan itu sendiri bertujuan meningkatkan tumbukan antar molekul zat terlarut dan pelarut.
Dengan lebih banyak tumbukan, molekul zat terlarut dapat lebih cepat menyebar ke seluruh pelarut, mempercepat proses pelarutan. Pengadukan juga membantu menyebarkan partikel zat terlarut secara merata ke seluruh larutan untuk mencegah terjadinya konsentrasi tinggi zat terlarut di satu area dan memastikan bahwa pelarutan terjadi secara konsisten di seluruh pelarut.
Dalam hidup, pengadukan bisa diinterpretasikan sebagai aktivitas diskusi, debat, uji coba hipotesis, refleksi, dan meditasi. Ringkasnya hal-hal yang bikin kita "tertampar" atau bikin ego kita mungkin terluka karena ditumbuk tsunami fakta/realita/kebenaran.
Meningkatnya frekuensi dan kualitas "tumbukan" antara ide baru dan ide lama menyebabkan adanya interaksi diri kita dengan nasihat tersebut, sehingga diharapkan dapat mempercepat dan memperdalam proses internalisasi.
Sederhananya, proses ini merupakan peninjauan kembali mana "kerangka" yang perlu diperbaiki, atau kerangka yang belum tersentuh (ter-sibgah) dengan ilmu/nasihat tersebut secara merata, atau proses mencari mana yang perlu di-unlearn, dan relearn sampai kerangka tersebut menjadi utuh dan stabil (larut sempurna).
Kondisi mental, emosional, dan fisik seseorang mempengaruhi seberapa baik mereka bisa mempraktekkan nasihat. Air yang bersih dan stabil melarutkan zat terlarut lebih baik daripada air yang kotor atau dalam kondisi tidak stabil.
Ego dalam konteks ini bisa dianalogikan sebagai pengotor atau impuritas dalam larutan. Pengotor dalam larutan dapat mengganggu proses pelarutan atau mengubah sifat larutan itu sendiri. Begitu juga ego, dapat menghalangi seseorang dalam menerima dan menerapkan nasihat atau ilmu.
Mencegah Pelarutan: Ego yang besar bisa mencegah seseorang untuk menerima nasihat atau ilmu dari orang lain, seperti pengotor yang menghalangi zat terlarut untuk benar-benar larut dalam pelarut.
Menyebabkan Ketidakstabilan: Ego yang tinggi bisa menyebabkan seseorang menjadi defensif atau tidak mau mendengarkan, yang dapat menciptakan ketidakstabilan dalam proses penerimaan ilmu, sama seperti pengotor dapat membuat larutan menjadi tidak stabil.
Mengubah Sifat Larutan: Ego dapat mengubah cara seseorang memandang (membaca peta realita) dan mempraktekkan nasihat atau ilmu, yang mungkin tidak sesuai dengan maksud aslinya. Ini mirip dengan bagaimana pengotor dapat mengubah sifat fisik dan kimia dari larutan.
Membuat Proses Menjadi Lebih Sulit: Ego dapat memperlambat atau bahkan menghentikan proses pembelajaran dan penerapan, seperti pengotor yang dapat memperlambat atau menghambat proses pelarutan.
Sederhananya, tidak peduli seberapa kencang/sering kita mengaduk, selama kondisi airnya tidak 'bersih', zat terlarut tidak akan larut.
Tidak peduli seberapa sering seseorang beradu argumen, diskusi, membaca, menerima nasihat, maupun debat, selama ego, trauma, maupun luka batinnya masih besar, maka nasihat atau ilmu tidak akan pernah dicoba olehnya untuk diinternalisasi.
Dengan melunakkan ego (atau mengurangi pengotor dalam analogi ini), proses penerimaan dan penerapan nasihat atau ilmu dapat berjalan lebih lancar dan efektif karena kaitannya dengan bagaimana seseorang membaca realita.
Dalam konteks kelarutan, katalisator mempercepat proses tanpa ikut bereaksi. Kita bisa menghubungkannya dengan beberapa hal yang mempercepat atau memudahkan seseorang untuk mempraktekkan nasihat atau ilmu:
Mentor atau Pembimbing: Seorang mentor yang baik bisa menjadi katalisator, mempercepat proses pembelajaran dan penerapan ilmu tanpa mengambil alih proses tersebut.
Lingkungan yang Mendukung: Lingkungan yang mendukung (seperti komunitas yang positif, teman yang membantu, atau tempat kerja yang kondusif) dapat mempercepat seseorang dalam menginternalisasi dan mempraktekkan ilmu.
Alat atau Sumber Daya Tambahan: Buku, kursus online, alat bantu belajar, atau teknologi lainnya bisa menjadi katalisator yang membantu seseorang lebih cepat memahami dan menerapkan ilmu.
Dengan katalisator, proses penerapan nasihat atau ilmu bisa terjadi lebih cepat dan lebih efisien, seperti bagaimana katalisator mempercepat reaksi kimia.
Qsp (Quotient of Solubility Product) dan Ksp (Solubility Product Constant) adalah konsep dalam kimia yang mengukur kecenderungan suatu zat untuk larut dalam larutan sampai mencapai keseimbangan.
Qsp (Quotient of Solubility Product) bisa dianalogikan sebagai usaha atau kondisi aktual seseorang dalam menerima dan mempraktekkan nasihat pada suatu waktu tertentu. Ini adalah keadaan dinamis yang menggambarkan apakah seseorang saat ini sedang dalam proses menerima nasihat.
Ksp (Solubility Product Constant) adalah nilai konstan yang menunjukkan seberapa banyak nasihat bisa diterima oleh seseorang sebelum jenuh, yaitu batas maksimal kemampuan seseorang untuk menginternalisasi dan mempraktekkan nasihat tanpa/sebelum menjadi kewalahan.
Sekarang anggaplah kita mau nyeduh minuman jazjuz (nama merek disamarkan). Misalnya sebungkus jazjuz larut sempurna di 600 mL air.
Berarti jazjuznya belum dimasukkan semua dan hasilnya nanti bakalan kurang manis (nggak sesuai yang diharapkan).
Seseorang berada dalam kondisi di mana mereka masih mampu menerima dan mempraktekkan lebih banyak nasihat atau ilmu. Analoginya, larutan masih bisa melarutkan lebih banyak zat terlarut tanpa mencapai titik jenuh.
Berarti jazjuznya sudah dimasukkan semua dan dapat larut sempurna menghasilkan minuman jazjuz yang manisnya pas sesuai yang diharapkan.
Seseorang telah mencapai batas optimal dalam menerima nasihat, yaitu mereka berada dalam keseimbangan dan mampu mengasimilasi nasihat secara efektif tanpa merasa kewalahan. Analoginya, larutan berada pada titik jenuh di mana tidak ada lebih banyak zat terlarut yang bisa ditambahkan tanpa mengendap.
Berarti jazjuznya dimasukan terlalu banyak, hasilnya minuman tersebut jadi terlalu manis dan terbentuk endapan gula di bawahnya sehingga harus ditambahkan airnya.
Seseorang telah menerima terlalu banyak nasihat atau ilmu dan mulai merasa kewalahan, seperti larutan yang telah mencapai jenuh dan zat terlarut mulai mengendap karena melebihi kapasitas pelarut.
Seseorang mungkin sudah berada dalam kondisi jenuh (Qsp > Ksp) di mana mereka telah menerima terlalu banyak informasi tanpa cukup waktu untuk mengasimilasinya. Dalam keadaan ini, teori yang diperoleh jadi mengendap dan mereka tidak dapat mempraktekkan lebih banyak teori sampai ada waktu untuk memproses dan memahami yang sudah ada.
Dengan menggunakan konsep Qsp dan Ksp, kita bisa memahami batas kemampuan kita untuk menerima dan mempraktekkan nasihat dengan lebih baik, serta pentingnya menjaga keseimbangan agar tidak merasa kewalahan.
Apa saja hal yang membuat orang menjadi compassionless?
Ego dan hambatan internal
Kurangnya dukungan eksternal
Kondisi mental dan fisik yang tidak optimal
Proses pembelajaran yang kurang bertahap sehingga framework dalam dirinya tidak tersusun secara sistematis
Kapasitas penerimaan informasinya besar tapi justru nggak punya "library" informasi mengenai ilmu/nasihat/teori yang harus dipraktekkan selanjutnya
Apa treatment yang tepat bagi seseorang yang sedang 'jenuh'/stuck?
Jika seseorang berada dalam kondisi "stuck" atau "jenuh" sehingga belum ada peningkatan dalam hal internalisasi, maka menambah konsentrasi zat terlarut (nasihat atau informasi) mungkin bukan langkah yang tepat.
Hal yang paling mungkin untuk dilakukan adalah:
Memberikan Waktu dan Ruang untuk Mencerna
Mengurangi Beban Informasi
Menyesuaikan Relevansi Zat Terlarut
Meningkatkan Kualitas Pelarut (Kondisi Diri)
Mengubah Pendekatan atau Metode Pembelajaran
Membantu Mengindentifikasi Hambatan Internal
Aku sebagai pelarut harus aware dengan kapasitasku dalam menginternalisasi sesuatu dan mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya. Kalau dirasa "belum selesai" dengan diri sendiri (trauma masa lalu, ego, luka batin, dsb.) aku harus berusaha untuk menyelesaikan hal tersebut agar tak perlu susah payah "diaduk".
Aku sebagai orang yang ingin melakukan transfer nilai/keyakinan, harus dapat meningkatkan level understanding. Lakukan iqra/pembacaan peta realita dengan akurat tanpa bias hawa nafsu sehingga bisa melakukan treatment yang bijaksana terhadap pelarut yang kita harapkan menjadi larutan tertentu. Jangan memberikan kesan menggurui juga, soalnya siapa sih yang suka digurui? 😅🙏🏻
Selain itu juga harus sabar, jangan sama-sama tinggi egonya. Juga harus kreatif dan open minded, jangan terus menerus maksain satu nasihat yang nggak relevan. Coba tracking kalau nggak masuk lewat analogi A, mungkin masuk dengan analogi B. Kalau gak masuk melalui cara A, mungkin masuk melalui celah B. Sering-seringlah evaluasi juga barangkali dalam diri pun ada "pengotor" yang bikin orang lain enggan menerima apa yang datang dari aku.
Satu lagi, jangan lupa mendoakan, baik diri sendiri maupun orang lain. Karena doa adalah indikator seberapa tulus seseorang mengharapkan orang lainnya selamat. Intinya sama-sama membersihkan diri karena baik sebagai diri yang menerima nasihat, maupun yang memberi nasihat, sebenarnya kan sama-sama pengen jadi "larutan" yang sempurna sesuai harapan Allah, sama-sama pengen menyajikan diri kita dalam versi terbaik di hadapan Allah.
Kalau kebutuhan selamat udah jadi prioritas, kayanya ego udah nggak dikedepankan lagi deh. Trauma dan unfinished business di masa lalu pun akan sesegera mungkin berusaha diselesaikan. Akhir kata, akan aku tutup tulisan ini dengan dua surat yang menjadi landasan:
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu."
"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."
Mungkin analogi ini masih belum sempurna. Diriku sendiri juga masih try to learn-unlearn-relearn dan akan sangat terbuka menerima berbagai sudut pandang.
— Giza, apa-apa yang ditulis sejatinya merupakan pengingat dan pengikat hikmah untuk diri sendiri. Adapun jika bermanfaat bagi orang lain, segala puji hanya bagi dan milik Allah.