Visiting Taiwan without a visa: That moment when I realize the power of South Korea
Kunjungan ke Taiwan saya lakukan tahun 2019 lalu untuk menghadiri sebuah konferensi. Sesungguhnya saat itu saya berangkat dari Indonesia, yang seharusnya mewajibkan saya sebagai Warga Negara Indonesia untuk memiliki visa berkunjung, if I hadn't had the student visa from Korea.
Saya masih berada di Korea pada saat mempersiapkan keberangkatan ke Taiwan di bulan Oktober. Karena sempat mempertimbangkan untuk memperpanjang masa tinggal di Korea yang habis pada September 2019, saya memiliki opsi berangkat dari Korea atau Indonesia. Jika berangkat dari Korea, maka saya harus mencari informasi perijinan masuk termasuk pembuatan visa di Korea.
Ide untuk mengurus hal-hal semacam ini di Korea tidak pernah membuat saya stres dibandingkan jika melakukannya di Indonesia. Alasannya? (1) Berdasarkan pengalaman mengurus visa Jepang di Korea tahun sebelumnya dan segala urusan perdokumenan sebagai WNA, prosesnya tidak memerlukan tarik urat; (2) Tinggal di Seoul membuat akses ke instansi pemerintah di dalam dan luar negeri mudah dan nyaman sehingga seperti poin nomor 1, prosesnya tidak memerlukan tarik urat; dan (3) Jarak Korea-Taiwan lebih dekat dibandingkan Indonesia-Taiwan, yang pada kasus saya adalah sebuah poin maha penting.
Di bayangan saya saat itu, jika berangkat dari Indonesia berarti saya harus ke Jakarta untuk mengurus dokumen perijinan yang walaupun masih mudah dicapai dari Bogor, tapi proses perjalanannya sangat mungkin membuat stres. Belum lagi prosesnya, yang lagi-lagi di bayangan saya saat itu, akan memakan waktu yang lebih panjang. Dan terakhir, penerbangan Jakarta-Taipei yang walaupun satu jam tiga puluh menit lebih pendek dibandingkan Jakarta-Seoul dengan direct flight, tapi pasti akan memberikan saya tingkat stres yang lebih.
Di tengah persiapan, saya mendapat info dari salah satu teman baik selama di SNU kalau WNI bisa masuk Taiwan tanpa visa, berdasarkan info dari pasangannya yang pernah studi di Taiwan. Saat itu barulah saya menggali info pengajuan visa Taiwan dari Indonesia dan menemukan ROC Travel Authorization Certificate alias Sertifikat Otoritas Perjalanan ROC. Di saat yang sama, hilal saya untuk memperpanjang masa tinggal di Korea sama sekali tidak tampak. So, I guess, this is it. Saya mengajukan aplikasi ROC di Indonesia satu bulan sebelum berangkat, di tengah hiruk pikuk pekerjaan saat itu.
Jadi benda apakah ROC ini? Singkatnya, ROC memberikan ijin masuk dan tinggal di Taiwan selama 14 hari bagi WNI dan sejumlah warga negara lainnya dengan kriteria berikut:
(1) Paspor berlaku enam bulan sejak kedatangan di Taiwan
(2) Memiliki tiket pesawat atau kapal perjalanan pergi dan pulang
(3) Tidak pernah bekerja sebagai pekerja pabrik/buruk di Taiwan
(4) Memiliki setidaknya salah satu visa yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jepang, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan negara-negara Schengen. Visa Australia dan Selandia Baru harus masih berlaku pada saat pengajuan sedangkan visa lainnya diijinkan telah berakhir kurang dari 10 tahun sebelum kedatangan di Taiwan.
That was the first time I was so thankful for a card I used to bring with me wherever I went to in Korea. Not that I plan to travel to Taiwan again and again until the next 10 years, but because of an ease I got amid the stress when preparing for the conference. Also, never did I imagine I would ever go to Taiwan, at least not voluntarily, but it happened to be my expired Korean student visa that saved me some trouble because guess what, the application is free and can be done online.
Cara mengajukan ROC sangat mudah. Cukup masuk ke website https://niaspeedy.immigration.gov.tw/nia_southeast/, pilih Bahasa yang diinginkan, baca syarat dan ketentuan yang tertera dengan teliti, dan lengkapi formulir aplikasi yang tersedia. Kalau data yang diinput sudah benar, sertifikat persetujuan akan langsung keluar dan bisa diprint atau diunduh dalam bentuk PDF. Whatever the certificate was saying, it did like magic to my Indonesian passport when I was in Taiwan.
To wrap up, let me share some shots during my short-stay in Taipei, a city that reminds me a lot with Korea I ugly cracked up when I first landed (bercanda deh, saya cuma kecapean jiwa raga karena perjalanan Bogor-Jakarta dan indirect flight selama 10 jam lebih).
(Pertama kali jadi ‘delegasi’ negara lain)
(Pendakian di hari mendarat menghasilkan pemandangan Kota Taipei, semacam penyegaran walaupun kaki udah ga berbentuk)
(Percayalah, ini salah satu bayangan yang membuat saya bertahan selama di pesawat)