Hari Keenambelas: Ketinggalan
Baru saja hari ini. Saya hampir kehilangan kamera saya. Pertama kalinya dalam sejarah saya melupakan keberadaan kamera saya di mana. Saya awalnya sangat panik setengah mati karena saat kakak tingkat saya menanyakan barangnya yang tertinggal di tas kamera saya, tas tersebut tidak ada di kamar saya. Saat saya coba ingat-ingat, terakhir saya pegang hari Senin. Itu pun saya lupa bagaimana orang yang meminjam kamera saya itu mengembalikan kameranya kepada saya. Semuanya terasa begitu cepat.
Saya lalu berusaha mencari tahu keberadaan kamera saya itu. Pertama, saya coba cari ke Student Lounge, tempat kamera tersebut terakhir saya rasa terakhir memegang. Hasilnya nihil. Memang, tak mungkin barang seperti itu bisa ditinggal dan tidak diambil orang lain selama berhari-hari. Saya lalu coba cek ke satpam yang ada di gedung B lantai 5. Voila, menurut catatannya, ditemukan kamera beserta tasnya di Student Lounge Selasa pukul 07.30. Itu artinya, kamera saya sempat saya tinggal selama semalam tanpa adanya orang yang menyadari. Saya kemudian diarahkan menuju satpam gedung C untuk menanyakan kondisi kamera saya di mana. Setelah saya tanya, saya diminta datang ke kantor Building Management yang menyimpan barang-barang Lost and Found. Tapi sebelumnya, teman saya bilang bahwa mengambil barang yang tertinggal dapat dikenakan sanksi berupa surat peringatan. Saya menjadi bertanya-tanya, bagaimana bisa orang sedang terkena musibah tapi dikenakan surat peringatan? Apakah sebuah shock therapy agar tidak mengulangi kesalahan yang sama?
Voila! Kamera saya benar-benar ada dan disimpan dengan baik. Saya lalu diingatkan agar bisa menjaga barang dengan baik. Ya...... belakangan ini sedang lupa banyak hal dan jadi sesuatu yang berbahaya. Nyatanya saya pun tak dikenakan peringatan apapun. Lagi-lagi bersyukur dan Tuhan menyelamatkan saya lagi. Gak boleh sering lupa-lupa lagi, deh.