Kau—masih jadi Pertanyaan terbesarku
Aku ingat saat kita berjalan bersama, lalu kau ingat ajakanku tempo dulu, yang mungkin tidak kau anggap,
Kau, aku — kita, hanya ingin menguliti dan melepas topeng persona yang kita ciptakan atau society ciptakan,
Lalu kita tertawa bersama.. Kau sempat mengajakku serius, walau pikiranku adalah karena hanya ADA AKU yang setia menemanimu,
Lalu hingga kau tiada, bahkan aku masih berpikir kenapa kau mengajakku? Padahal kau tak pernah menjengkuk kala aku sakit dan memberiku bunga. Kau terlalu sibuk sendiri menatap dirimu dan dunia, hingga kau lupa dirimu sendiri
Waspada mungkin, hingga Tuhan memberikan jalan terbaik padamu.
Kau — masih, pertanyaan terbesarku
Semburat Sore,
03.05.26












