Setelah 3 hari meliburkan diri, aku kembali menjadi relawan zakat di salah satu lembaga amil zakat Pekanbaru, sebab sebelumnya aku mesti ikut ujian akhir semester yang sangat penting karena ini menyangkut masa depan wehehehe.
Seperti biasa, aku melewati hari yang mengasyikkan di counter zakat yang kebetulan buka di Mall Pekanbaru, karena bersama teman-teman relawan lainnya, dengan semangat yang sama mengejar muzaki.
Sudah pukul setengah empat sore, aku ijin ke kakak senior untuk solat ke musola kecil yang ada di basement mall. Dan sekalian pulang.
Setelah selesai shalat ashar, aku berjalan menuju halte busway yang ada di depan mall. Agak sempoyongan, karena kan puasa yaa, ntar kalo seger terus dikira orang ga puasa ewhh (hehe).
Hari ini libur, entah apa sebab tanggal jadi merah. Jadinya halte busway rame oleh calon penumpang yang barangkali pulang belanja.
Saking ramenya halte, jadi bingung mau tegak dimana, sebab laki-laki dan perempuan nyampur, jadinya gak nyaman.
Tapi ku cari posisi ternyaman, yang membuatku gak terganggu. Aku lihat orang-orang membawa wajah dengan emosi masing-masing. Ada yang cemberut, ada yang terha-ha-hi bareng temennya. Dan ada pasangan halal yang jalan sambil gandengan tangan, ah so sweet.
Setelah dua puluh menit berlalu.
Akhirnya, busway 03 jurusan ramayana-pandau tiba. Aku bergegas untuk masuk, tapi aku di kagetkan dengan kenyataan bahwa ternyata didalam busway lebih rwame bwanget penumpangnya, hati ini jadi separuh hati mau naik. Tapi kalau di tunggu busway yang lain, pasti lama. Yaudah aku naik aja, daripada nanti telat nyampe rumah.
Aku masuk kedalam busway, sesak sekali rasanya. Aku sulit mencari tempat yang ‘pw’. Depan kiri kanan belakangku laki-laki semua, ya Allah aku cuma bisa dzikir minta perlindungan sebab aku trauma dengan kasus pelecehan yang kerap terjadi di transportasi umum.
Setelah berjalan 10 mnt berlalu, dengan bibir yang masih komat kamit akhirnya busway berhenti di halte berikutnya untuk cari penumpang. Aku berharap bisa cari tempat setelah penumpang lain turun. Eh tapi malah cuma beberapa yang turun, yang naik malah ramee.
Jadi makin cemas hati ini, makin sesak keadaan dalam halte dan posisi ku jadi makin sulit bergerak.
Ya Allah, selamatkan akuuu. Pekikku dalam hati.
Akhirnya di pemberhentian selanjutnya, ada penumpang yang turun, dengan kekuatan nyempilku yang gesit luar biasa dan badan mungilku yang unyu-unyu, akhirnya aku berhasil nyari posisi yang wenaak, yang hanya ada beberapa laki-laki, dan namun tidak dekat denganku, aku berdiri di dekat ibu-ibu.
Perjalanan panjang menuju rumah, menjadi sedikit melegakan. Busway menyusuri jalanan yang dipenuhi orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Kulihat langit mulai memerah, lagu separuh aku dari noah diputar oleh supir busway, menemani perjalanan yang luamayan panjang ini.
Lalu, samar-samar aku mendengar suara lelaki yang berdiri tidak jauh dibekangku.
“Bun, ayah udah di busway, nanti kalau udah nyampe ayah missed call. Jemput ya bun”. Lalu dia mendengarkan jawaban istrinya kembali bertanya. “Bunda bikin gorengan? Kalau belum bikin, ini ayah udah beli, bun. Banyak lagi, ga usah bikin aja ya bun. Yaudah nanti ayah telphone lagi ya kalau udah nyampe.” Lalu percakapan berhenti di ujung telepon genggamnya.
Aku langsung jlebb.
Dan dengan seluruh kekepoanku ngelirik ke belakang. Penasaran banget, dengan si pemilik suara itu. Ternyata dia adalah seorang laki-laki muda, dengan wajah yang tak tampan, tidak tinggi, tidak berbaju Bagus, hanya memakai baju batik dan celana goyang. Membawa tas biasa.
Dalam hati aku hanya tersalut-salut. Sebab selama ini kukira pernikahan itu harus nunggu mapan dulu. Sebab ku kira lelaki tidak mau menikahi wanita karena barangkali dia merasa belum mampu.
Tapi, dari percakapan singkat dari pemuda yang sederhana tadi. Aku menjadi mengerti bahwa kesiapan dalam berumah tangga bukan hanya mesti secara materi. Tapi juga dibutuhkan kesiapan batin kedua pasangan suami istri untuk siap tempur dalam keadaan apapun ntah itu sedih atau senang, berlebih atau cukup semua dijalani berdua.
Dulu nenekku pernah bilang, kalau punya suami jangan nyari yang mapan, nak. Yang penting dia punya kerjaan, meski gajinya ndak tetap. Yang penting dia mau bekerja, yang penting gak malas. Dan yang paling penting dia mesti paham agama, ngerti solat. Rejeki udah di atur Allah. Serahin aja sama Allah, dan jadilah istri yang bisa jaga Harta suami, itu udah lebih dari cukup untuk ngerasai hidup menjadi orang ‘kaya’ bahkan 'kaya Raya’.
Setelah beberapa lama aku merenungi percakapan pemuda yang berbicara dengan istrinya tadi.
Ternyata aku telah sampai di halte depan kampus UIR, aku turun dengan semangat. Dan berlari kecil kearah ayahku yang sudah menungguku sejak tadi.
Aku kembali menuju rumah dengan selamat.
Alhamdulillah, hari yang penuh hikmah.