Malam-malam berangan-angan kalau-kalau dahulu beda tempat mencari makan. Ya, itu! Kalau saja di sana, di instansi yang pegawainya mengeluh secara tahunan. Bukan di sini, di instansi yang pegawainya mengeluh secara bulanan. Kalau saja di sana, di instansi yang pegawainya mengeluhkan lembur yang mengorbankan cuti. Bukan di sini, di instansi yang pegawainya mengeluhkan lembur tanpa ada efek pada gaji. Berkhayal, boleh jadi kalau dahulu dapat di sana, saat ini tidak susah-susah berkeliling di akhir pekan demi mencari hunian. Tidak sibuk menyama-nyamakan diri dengan jutaan milenial lain yang kesulitan mencari papan. Ya, sialan sekali itu para spekulan yang mengamini jargon andalan, “ Senin harga naik, segeralah pesan!”
Doa-doa selalu dipanjatkan dalam rangka menambah pundi-pundi. Merapal kalimat motivasi untuk membesarkan hati. Tapi tetap saja tergoda menoleh sesekali. Wah, ternyata memang rumput tetangga lebih hijau lestari. Sawang sinawang bosku. Enak belum tentu, tetapi penghasilan lebih besar sudah pasti. Khas sekali, manusia kurang bersyukur.
Sambil merenung-renung, diam-diam, tiba-tiba ada sekelebat suara, “Hweeer, hweer..”. Paham sekali, suara ini khas sekali. Inilah suara kepak sayap sebentuk makhluk kecil, objek fobia banyak manusia. Makhluk yang konon sudah merayap sejak jaman dinosaurus merangkak. Penyintas ulung yang diragukan akan punah meskipun bom atom meledak. Tak lain dan tak bukan, kecoak! Segera mata awas mencari arah datangnya suara. Ah! Itu dia, hinggap di dinding sebelah sana!
Mata masih awas mengawasi, berjaga-jaga, pernah punya pengalaman kecoak masuk ke dalam baju soalnya. Ternyata si kecoak tidak sendiri. Terlihat sebentuk makhluk kecil lainnya diam-diam merayap. Paham sekali, cara merayap perlahan ini khas sekali. Inilah makhluk yang ubikuitas, bisa ditemui di mana saja. Penyintas ulung yang menjadi inspirasi masyarakat Batak, oleh karena kemampuannya untuk hidup di mana saja manusia berpijak. Tak lain dan tak bukan, cicak!
Segera mata awas mengamati. Ah! Alamat makan besar ini cicak! Perlahan-lahan mendekat, diam-diam merayap. Dalam sekejap, jebret! Menjulurlah itu lidah lengket dan tanpa aba-aba si kecoak sudah terjepit di rahangnya. Tunggu, apakah si kecoak menyerah? Tidak, si cicak kesulitan menelan. Ukuran kecoak terlalu besar. Waduh! Alamat batal makan besar. Si cicak tidak menyerah, menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan kanan. Entah apa maksudnya. Mungkin agar si kecoak menyerah dan segera bisa dimamah. Tapi tidak. Si kecoak bergeming. Si cicak tetap kesusahan menelan. Benarlah kata bule-bule, don't bite off more than you could chew. Detik-detik berlalu. Entah karena si kecoak terlalu besar atau mulut si cicak sudah pegal, akhirnya lepaslah si kecoak. Umurnya masih panjang, ajalnya belum datang. Si cicak kecele.
Saya tersenyum. Dari sana pahamlah saya. Entah Tuhan sedang kirim pertanda, entah hanya kebetulan semata. Entah si cicak dan si kecoak sengaja bersandiwara, sengaja menyindir saya.Â
(Kontrakan Belakang Kemang Pratama, Awal 2017)
*Tulisan ini diposting pada pertengahan 2018. Tentu saja, saat itu keadaan telah berubah lebih mudah.Â