Kapal Pecah
Istilah jawa yang kerap diidentikan dengan berantakan salah satunya adalah "kapal pecah". Ketidakteraturan yang tercipta dari aturan yang tidak jelas regulasinya sehingga timbul aturan yang berantakan. Banyak sekali yang saya temui di masa mahasiswa dewasa ini. Salah satunya adalah keberadaan organisasi, komunitas, paguyuban, dan lain-lain. Keberadaannya sangat baik dari segi visi dan tujuan hingga mimpinya. Namun dari temuan yang ada semua itu selalu "blunder". Gimana kok bisa begitu? Sangat banyak permasalahan yang timbul disuatu daerah atau dalam suatu negara. Mulai dari politik, eknomi, sosial, budaya, dan keamanan. Cerita lamanya adalah salah satu peran mahasiswa adalah mendharmabaktikan dirinya kepada masyarakat. Maka jika variabel bebas dan terikatnya sudah jelas seharusnya kehadiran oraganisasi atau sekumpulan orang dengan tujuan itu memberikan solusi atas permasalahan yang muncul. Jadi organisasi itu sebagai alat bukan sebagai 'Goal' dari berkumpulnya orang-orang cerdas tersebut. Hal seperti ini yang dikatakan orang jawa 'salah kaprah'. Lalu bagaimana mengembalikan oraganisasi, komunitas atau paguyuban itu kearah yang jelas kembali? Dengan menilik kembali sebenarnya apa tujuan, sehingga bisa dirumuskan antara fakta, masalah, dan solusi sehingga organisasi itu berkembang tidak hanya stagnan buat event ini, event itu, gak jelas mau dibawa kemana keanjutannya. Terlalu banyak event besar yang dibuat namun hanya itu goalnya, tidak ada pemikiran lebih lanjut tentang hal itu. Ketidakteraturan tentang aturan ini sudah banyak diteliti, namun adanya hanya teori-teori yang tidak fokus kepada keadaan lapangan. Alangkah lebih baik jika organisasi tersebut berorientasi pada lapangan dan keadaan yang terjadi saat ini. Ditambah dengan model kapal yang jelas mau berlabuh kemana. Dengan model kepemimpinan yang visioner sehingga tidak stagnan, selalu ada PR untuk kedepan. Yogyakarta, 25 April 2017













