Aku mencari sosok pendamping yang selalu bisa kasih aku alasan kenapa aku harus terus menghormatinya. Karena nikah bukan cuma sesederhana “aku cinta kamu, kamu cinta aku, lalu menikah, tapi ini tentang pemaknaan iman yang ada di dalam dada”
Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar..
Di masjid-masjid, di langar-langgar, di rumah-rumah, di jalanan, di tengah anak-anak, di atas kendaraan yang terjebak kemacetan, di atas puing-puing bangunan runtuh saudara kita di Gaza (semoga Allah senantiasa beri pertolongan kepada para mujahid-mujahid kita disana) dan di setiap sudut-sudut belahan bumi yang tak terjamah, serentak takbir di kumandangkan. Mengagungkan kebesaran Sang Maha Rahman.
Aku, mengambil bagian dan ikut mengular di dalam rombongan pawai takbir di desa dengan berjalan kaki. Sungguh malam itu suasana malam terang dipenuhi nyala-nyala obor dari santri santri desa. Panjang. Mengular. Kadang sesekali aku perhatikan tangan-tangan mungil mereka yang menggenggam obor dengan kedua tangannya hee. Atau sesekali aku perhatikan tangan-tangan mungil itu menurunkan tangannya karena Lelah menggenggam obor. Namun masyaAllah, dengan berpegal—pegal di tangan, lisannya mantap berteriak gema takbir yang mungkin mereka sendiri belum memahami pemaknaan dari apa yang diucapkan.
Hampir dua jam, perjalanan berkeliling desa itu akhirnya pun usai. Walaupun tak jarang, mereka yang masih empat tahunan kami naikkah ke mobil pick up karena kelelahan dan sebagainya. Misi selesai, dan saatnya masing-masing rombongan kembali ke masjid serta Lembaga masing-masing. Aku berjalan sendiri di tengah barisan yang tersisa menuju langgar.
“Hei” seseorang memanggilku dan nampak sedikit berlari berusaha menghampiri.
Seperti botol bertemu tutupnya, obrolan random pun di mulai. Dari suasana takbiran, lebaran, jalanan macet, dan perihal hati. Topik yang aku sebutkan terakhir ini rupa-rupanya menjadi obrolan yang memakan waktu kami cukup lama. Bahasan nya perihal hati, tapi selama obrolan seolah pikiranpun ikut berdiskusi. Ikut menuangkan logika-logika dan cara pandang terhadap peristiwa hati.
“Sekarang, menikah muda itu bukan sebuah pencapaian yang sepatutnya perlu dibangga-banggakan” katanya dengan terus memperhatikan jalanan menuju langgar.
“Sepakat, timeline masing-masing kita berbeda yah mbak. Prioritas pun juga berbeda” jawabku dengan terus memperhatikan wajah seseorang di sampingku ini.
Langit semakin menyala dengan gempuran kembang api di langit-langit langgar. Pemuda-pemuda tanggung berkumpul di halaman langgar dengan obor di tangan dan mulut berisi penuh minyak, bersiap menampilkan pertunjukan yang memukau. “Boooh booohhh”. Minyak disemburkan, nyala api terkobarkan.
“Aku mencari sosok pendamping yang selalu bisa kasih aku alasan kenapa aku harus terus menghormatinya. Karena nikah bukan cuma sesederhana ‘aku cinta kamu, kamu cinta aku, lalu menikah, tapi ini tentang pemaknaan iman yang ada di dalam dada’.” Katanya lagi.
Bagaimana menurutmu? Tanyanya lagi
Aku tertegun mendengar jawabanya. Aku alihkan pandang menuju kobaran nyala api di tengah halaman langgar.
“Aku mencari sosok yang dia mau aku. Yang bener-bener mau aku. Yang karena aku, dia memutuskan menikah. Dia yang mau aku, akan memperjuangkan bagaimana agar bisa menikah denganku. Karena dia yang mau aku, aku yakin, nantinya bagaimanapun kondisi pernikahan, bagaimanapun kondisiku..dia akan tetap menjaga marwahku, tetap menjaga lahir batin, dan tetap memandang aku sebagai perempuan yang layak dihormati. Dia memaknai setiap untaian kata yang dia ikrarkan saat peristiwa akad dengan genggaman kencang dari ayahku” kataku mengutarakan hasil diskusi pikiran dan hati selama beberapa tahun terkahir
Betul kata seseorang di sampingku tadi, semua ini kembali lagi kepada iman. Sebuah keimanan yang tertancap dan mengakar kuat di dalam dada. Tentang sebuah keikhlasan. Tentang semua keridhoan atas takdir yang Allah berikan. Sungguh indah, jika dari jiwa yang dipertemukan membawa, masing-masing membawa iman yang yang kuat dan keridhoan atas segala kejadian-demi kejadian yang dialami. Insya Allah surga sudah disiapkan bagi mereka.